Jurnalistik

Ing Madya Mangun Karsa: Sepanjang Belajar Memantik Semangat

Sepanjang Belajar, Memantik Semangat

Siapa yang tidak tahu atau tidak pernah mendengar ketiga semboyan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani? Bagi kita yang bersekolah di Indonesia, terlebih angkatan-angkatan terdahulu, trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara tersebut tentu sempat terlintas, entah dari guru, dalam buku, atau terpampang nyata di dinding sekolah. Bagi yang masih mengingat esensinya, kita pun mungkin mengetahui artinya secara ringkas, berturut-turut: di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, dan dari belakang memberi dorongan. Hingga kini, falsafah tersebut masih diyakini sebagai tiga peran kepemimpinan dalam ekosistem pendidikan negeri ini. Namun, sejauh mana, atau sedalam apa keyakinan ini dipeluk dan dihidupi?

Di depan, jelas bahwa peran pendidik atau pemimpin secara umum adalah untuk menjadi model dan teladan (sung tuladha), mencontohkan cara, mendemonstrasikan ekspektasi, dan menampilkan standar. Di belakang, jelas pula peran pemimpin diperlukan sebagai penyokong, pemberi dorongan, dan menjadi sistem pendukung (handayani). Namun, bagaimana dengan di tengah? Muasal tulisan ini adalah ketika saya justru tergelitik mengeksplorasi lebih lanjut peran penting bagian tengah dari trilogi ini: ing madya, mangun karsa. Apa artinya “di tengah, membangun semangat”? Bagaimana seorang pendidik atau pemimpin bisa ikut berada, belajar, dan bekerja di tengah atau dari dalam tubuh yang tengah dipimpinnya?

Pada saat catatan ini mulai diramu, saya adalah seorang guru yang baru jajak tapak tahun pertama bekerja penuh waktu di sekolah dasar. Secara alami, rupanya saya tidak memisah-misahkan ketiga falsafah Ki Hajar di kepala saya dan mencoba memastikan diri ini menerapkannya satu demi satu. Sebaliknya, saya jalani saja keseharian saya sebagai guru dengan selepas-lepasnya jiwa dan sepenuh-penuhnya angan, baru kemudian memakai kacamata ing madya mangun karsa sebagai salah satu lensa pandang atau ‘pisau bedah’ untuk menilik dan mengurai perjalanan hari-hari mendidik yang dinamis, taktis, dan manis itu.

Saya mencoba melihat ing madya mangun karsa yang adalah abstraksi dari falsafah mendalam Ki Hajar dari pengalaman konkret sehari-hari di ruang kelas dan sekolah. Dalam refleksi dan rekonstruksi makna ini, saya jadi meyakini ing madya sebagai kehadiran penuh, keterlibatan kontinyu, dan kesadartahuan akan proses (belajar) yang tengah dijalani, apapun bentuknya. Selain itu, ada beberapa hal menyoal karsa yang hendak saya bagikan sebagai temuan dari renung pengalaman itu.  Saya mencatatkannya dalam tiga bagian berikut.

Karsa itu sudah ada dalam diri setiap anak manusia.

Karsa, alias daya jiwa atau hasrat, mewujud nyata dalam rupa-rupa imajinasi, kreasi, dan aksi anak-anak yang bermunculan saat mereka bermain, belajar, dan berkawan. Saya melihat, karsa selalu ada di mana ada manusia. Ia bukan sekadar sesuatu yang dilakukan, bukan juga gagasan yang diajarkan, tetapi anasir yang sudah ada di dalam diri manusia yang hidup, termasuk (dan mungkin terutama) anak-anak. Bersama Sang Anak, ia ada di mana-mana. Karsa adalah gairah jiwa yang hadir mengalir dalam diri anak, dan orang-orang dewasa yang senantiasa hidup bersama Sang Anak dalam diri mereka.

Di sekolah, karsa bisa saya temukan pada sketsa hitam-putih yang belum selesai maupun pada nyanyian yang ekspresif saat jam musik. Karsa bisa saya dapati di tengah riuhnya diskusi kelas, dalam hening pengamatan sains, juga di tengah sibuknya proyek akhir kuartal. Pendek cerita, karsa bisa senantiasa saya saksikan dalam macam-macam bentuk, mulai dari isi lembar kerja yang menumpuk di meja saya, tendangan penuh taktik di lapangan bola, hingga celetuk ringan “Eh, kita coba ini, yuk!” di halaman.

Karsa itu butuh ruang, waktu, dan kepercayaan untuk tumbuh.

Rasa ingin tahu dan hasrat menjelajah dunia memang hadir secara alami dalam diri anak-anak. Boleh saya bilang, mereka membawa bekal benih semangat ke mana-mana. Peran kita tak lain sebagai peracik momen-momen yang memantik semangat itu. Momen semacam itu kadang tercipta lewat pertanyaan diskusi, “Kira-kira, apa yang terjadi kalau …? Apakah kamu mau lihat …?” atau pernyataan afirmasi, “Karena kamu ulang terus melakukan itu, sekarang kamu jadi lebih jago”, atau pun gabungan keduanya, “Tuh, kamu sudah bisa bagian yang ini. Sekarang, mau coba yang lebih sulit? Bagaimana sebaiknya kita menyelesaikan ini?”

Untuk terus-menerus memantik karsa, kita perlu berada ing madya. Guru dan orang tua perlu hadir, ikut belajar bersama anak, memandu tanpa mendikte, mendampingi tanpa banyak membatasi, bahkan menemani tanpa menggurui. Di kelas, saya temukan beberapa jalan sekaligus perkakas pemantik karsa, yang berlaku untuk para murid maupun untuk saya sendiri sebagai orang dewasa:

1. Bertukar keahlian, impian, dan imajinasi

Mengajak anak menggambar cita-cita mereka dan berbagi cerita tentang cita-cita kita adalah salah satu cara untuk menghidupkan tekad. Kita juga perlu meminta anak mengajarkan kita hal-hal yang lebih ia kuasai, misalnya doodling, bermain rubiks, tepuk persahabatan, atau OST suatu film, sehingga ia pun tahu dirinya berdaya.

2. Mewadahi debat dan diskusi

Tak hanya bertukar impian, bertukar wawasan lewat diskusi juga bisa memantik hasrat belajar hal baru. Kekuatan diskusi dalam membangun karsa terletak pada proses penyelesaian masalah dan rentetan pertanyaan yang dibahas. Dalam pembahasan ini, anak-anak maupun orang dewasa bisa sama-sama menjadi semakin sadar tentang banyaknya kemungkinan tak terpikirkan, tentang kebutuhan akan perubahan. Dalam diskusi, kita bisa menggagas ini dan itu, berdebat dengan semangat, saling menyampaikan harapan, dan menemukan tekad baru untuk terus belajar menjadi lebih baik.

3. Menawarkan aneka opsi

Memulai proses belajar dengan sesuatu yang anak suka adalah salah satu cara tepat membangkitkan semangatnya. Dengan menyediakan bermacam-macam pilihan kegiatan, anak-anak bisa belajar mengambil keputusan sesuai kesukaannya, mencoba hal baru, dan berlatih menekuni apa yang telah ia pilih hingga tuntas.

4. Berbagi ide dan kreasi

Unjuk karya dan apresiasi seni juga merupakan cara efektif dalam memantik keinginan mencari tahu hal-hal baru. Pameran, presentasi produk belajar, dan gallery walk di kelas senantiasa menghidupkan atmosfer belajar. Dengan saling menyimak, mencoba, dan mengomentari karya satu sama lain, anak-anak tak hanya memperkaya referensi berpikirnya, tetapi juga terpacu untuk mengalahkan diri sendiri, memperbaiki diri, dan menampilkan pencapaian yang lebih memuaskan pada kesempatan berikutnya.

5. Konsisten merayakan aksi

“Wow!” adalah ucapan super singkat yang bisa menunjukkan penghargaan kita pada setiap tindakan yang dilakukan anak sebagai bukti tekadnya. Tekad sekecil apapun dapat berbuah tindakan nyata, seperti tumbuhnya inisiatif dan kerja keras. Anak perlu merasakan kebanggaan atas kerja kerasnya yang membawa keberhasilan, sehingga tekadnya untuk maju dan berkembang semakin kuat. Untuk itulah, setiap karsa yang telah menjadi prakarsa selalu pantas mendapat ucapan selamat.

Karsa itu semangat yang senantiasa dibangun dan dibangunkan.

Tak berhenti sampai memicu dan menggugah, bagian kita termasuk menjaga dan terus memelihara semangat tersebut. Tentu keengganan dan rasa bosan akan ikut mewarnai hari-hari belajar bersama. Ini wajar. Kadang perlu kreativitas dalam spontanitas, alias improvisasi, untuk terus membangun hasrat belajar anak yang berbeda-beda.

Ada kalanya improvisasi yang saya lakukan pada jam istirahat sekolah justru membuka kesempatan membangunkan karsa secara lebih khusus dan personal, anak demi anak. Bertukar cerita, makan siang bersama, dan bermain piano sampai kejar-kejaran dengan anak-anak adalah bentuk kehadiran saya ing madya, di luar kelas. Tujuannya satu: membangun hubungan yang kuat dengan masing-masing anak. Pentingnya kedekatan dengan anak-anak menjadi nyata saat saya hendak membantu mereka menemukan semangat dan menyertai mereka belajar.

***

Kata orang, karsa artinya tekad, niat, semangat. Kata saya, karsa adalah jenis semangat yang senantiasa dipicu selama belajar, dan (kembali pada saktinya falsafah Ki Hajar Dewantara) jenis semangat itu hanya bisa dipicu dengan hadir ing madya. Selamat membuktikan!

Like 1
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *