Sastra

Penjara Cepat Saji

Sore yang teramat lucuSebab ayam dan nasi itu sungguh terlihat malu-maluBersama puan yang bersembunyi dibalik pintuLantas kudapati seutas senyumTerpandang menawan lagi membelengguLantas aku berkhayal"Aku ingin terbelenggu olehmu, padamu"Masa itu pun
6a61b32ea7b8c

Puing-Puing

Di antara puing-puing reruntuhanAku terdiam. Tubuhku nyala terakhirDari seluruh yang padam.Kakiku seolah tumbuh akar pohonDan mencekam tanah dengan kuat.Sembari kuratapi kota yang hancurSetelah kekacauan tahun lalu.-Tak ada sesiapa, hanya aku.
6a6119280871e

Menguap

Berdansa pada pilihan yang itu-itu sajaMemanggil maaf setelahnyaKau pujaTerbujur kaku di ubin dingin yang mengutuk Dilematis peran yang berperang atas laparKenyang; mengantuk adalah kewajiban dilupakanTerlelap pukul 8 pagiWaktunya absen pulang
6a61186839767

Warna Warni

Merah putih kelabu nan biruMeletusBicaralahDor dor dor Orang lapar akan nurutOrang bodoh tidak akan menuntut Bolehkah kita romantis disaat krisis?Menyemai bunga pada bahan pokok yang tumbuhMemupuk dana pelicin tiap RabuSajak
6a60ef3e97f80

Kamu

Kamu Kamu ingin aku cintai dengan sederhana seperti puisi Sapardi?Atau kamu ingin aku cintai dengan membabi buta bagaikan laki-laki yang kepalang berahi kepada wanitanya? Maaf.Aku tidak bisa kedua-duanya.Karena aku ingin
jaring laba laba

Jaring Laba-Laba

Nyaris sewindu menertawakan rintihSerupa bunga tulip yang belum disemaiKuncup malu-malu menjelma asing ketika dibuaiAku yang tak lihai melukis beningnya cintaSulit memandang tulusDengan siklus yang keruh bermetamorfosisSekali lagi, meruap merajah pikiranku

Tersisa

Kutatap kembali cermin itu Masih persis 20 tahun yang lalu, saat mengganti belah pinggir dengan potongan Emo Ah, akhirnya kuseduh teh Sariwangi, segar dan hangat, mengingat kalian yang dulu tanpa