Raga membungkuk selaras kulit yang kering keriputBersambut sentuhan guratan tangan yang jujurHelai rambutnya rata memutihSerak suara payau menyahut lembut ketika kuajak bertuturTerlihat jelita dengan kemeja bermotif bunga-bunga Lelaki paruh baya
Sastra
Semburat di wajahmu memantulkan harapan.Ingin kutangkap setiap makna yang tersirat darinya.Senyumanmu mampu membuat ruang kosong di hatiku bergetar, bagai ombak yang perlahan datang,namun cukup kuat untuk mengubah tenang menjadi rindu.
Agustus sudahWaktu adalah satuan paling apatis.Membuat tumbuh terasa seperti hukuman.Membuat diam terasa seperti merugi. Waktu...Banyak yang merasa kalau itu uang.Ada juga yang merasa kalau mereka lebih butuh waktu. "Semua ada
Kelak aku akan menziarahi tubuhku,saat dunia benar-benar kelabu.Tak ada lagi angan di genggaman tangan,hasrat luruh satu per satu,menghantar denyut nadi menuju pemberhentian terakhir. Ketika terasa semua sudah cukup,daya juang yang
Di ujung ufuk timur yang tak diketahui alamat-Nya.Aku meringkih dan terjebak dalam ketidakpastianTerkurung dalam jeruji besi hanya karena bersuara.Penyiksaan dan intimidasi kulalui setiap harinya.Tubuhku memar dihajar oleh alat penguasa yang
Benih Dendam. Dengan tangan gemetar,kau tabur benih dendam.Tunas gairah terbit,mencengkram nafas. Dengan mata terpejam,kau telan amarah sialan.Sampai kita lahir kembali,untuk saling menggauli. Sebelum kau usap keringatDi leher dan pundakku,kukecup nikmat
Sore yang teramat lucuSebab ayam dan nasi itu sungguh terlihat malu-maluBersama puan yang bersembunyi dibalik pintuLantas kudapati seutas senyumTerpandang menawan lagi membelengguLantas aku berkhayal"Aku ingin terbelenggu olehmu, padamu"Masa itu pun
Di antara puing-puing reruntuhanAku terdiam. Tubuhku nyala terakhirDari seluruh yang padam.Kakiku seolah tumbuh akar pohonDan mencekam tanah dengan kuat.Sembari kuratapi kota yang hancurSetelah kekacauan tahun lalu.-Tak ada sesiapa, hanya aku.
Berdansa pada pilihan yang itu-itu sajaMemanggil maaf setelahnyaKau pujaTerbujur kaku di ubin dingin yang mengutuk Dilematis peran yang berperang atas laparKenyang; mengantuk adalah kewajiban dilupakanTerlelap pukul 8 pagiWaktunya absen pulang
Merah putih kelabu nan biruMeletusBicaralahDor dor dor Orang lapar akan nurutOrang bodoh tidak akan menuntut Bolehkah kita romantis disaat krisis?Menyemai bunga pada bahan pokok yang tumbuhMemupuk dana pelicin tiap RabuSajak
Kamu Kamu ingin aku cintai dengan sederhana seperti puisi Sapardi?Atau kamu ingin aku cintai dengan membabi buta bagaikan laki-laki yang kepalang berahi kepada wanitanya? Maaf.Aku tidak bisa kedua-duanya.Karena aku ingin
Buatmu Pirang yang Tak Berubah. Sepuluh jari tangan yang kupunya,delapan di antaranya kututup dengan keraguan.Tanpa sandaran sisi kanan-kiri, coba bertahan dari jengah pukulan.Dua sisa jari tengah lantang tetap berdiri tanpa
Artikel Lainnya









