Sore yang teramat lucuSebab ayam dan nasi itu sungguh terlihat malu-maluBersama puan yang bersembunyi dibalik pintuLantas kudapati seutas senyumTerpandang menawan lagi membelengguLantas aku berkhayal"Aku ingin terbelenggu olehmu, padamu"Masa itu pun
Sastra
Di antara puing-puing reruntuhanAku terdiam. Tubuhku nyala terakhirDari seluruh yang padam.Kakiku seolah tumbuh akar pohonDan mencekam tanah dengan kuat.Sembari kuratapi kota yang hancurSetelah kekacauan tahun lalu.-Tak ada sesiapa, hanya aku.
Berdansa pada pilihan yang itu-itu sajaMemanggil maaf setelahnyaKau pujaTerbujur kaku di ubin dingin yang mengutuk Dilematis peran yang berperang atas laparKenyang; mengantuk adalah kewajiban dilupakanTerlelap pukul 8 pagiWaktunya absen pulang
Merah putih kelabu nan biruMeletusBicaralahDor dor dor Orang lapar akan nurutOrang bodoh tidak akan menuntut Bolehkah kita romantis disaat krisis?Menyemai bunga pada bahan pokok yang tumbuhMemupuk dana pelicin tiap RabuSajak
Kamu Kamu ingin aku cintai dengan sederhana seperti puisi Sapardi?Atau kamu ingin aku cintai dengan membabi buta bagaikan laki-laki yang kepalang berahi kepada wanitanya? Maaf.Aku tidak bisa kedua-duanya.Karena aku ingin
Buatmu Pirang yang Tak Berubah. Sepuluh jari tangan yang kupunya,delapan di antaranya kututup dengan keraguan.Tanpa sandaran sisi kanan-kiri, coba bertahan dari jengah pukulan.Dua sisa jari tengah lantang tetap berdiri tanpa
Merakit Telinga dari Bola Mata Lengan kita menjulur & memeluk dari bola mata Kita jumpai malam itu, matahari yang sudah tiada enggan menyapaku Pada
I. “Anak tak bermoral, manusia tak tahu diri, sudah miskin maling kalian!” hardik Pak Parjo sambil menarik kerah kaos Ahmad yang lusuh. Di sampingnya, Fajar kakaknya, hanya bisa menunduk ketakutan
Nyaris sewindu menertawakan rintihSerupa bunga tulip yang belum disemaiKuncup malu-malu menjelma asing ketika dibuaiAku yang tak lihai melukis beningnya cintaSulit memandang tulusDengan siklus yang keruh bermetamorfosisSekali lagi, meruap merajah pikiranku
Degup dadaku selalu cepatIramanya tak pernah enak didengarBerlari liar mengejar waktuSebab dipacu ibu sedari dini Aku bahkan baru mengenal jedaSejak melepas tumpuandari ibu yang tak pernah mengajakku mengenal diriSebab Tuhan
Kutatap kembali cermin itu Masih persis 20 tahun yang lalu, saat mengganti belah pinggir dengan potongan Emo Ah, akhirnya kuseduh teh Sariwangi, segar dan hangat, mengingat kalian yang dulu tanpa
Aku berbicara pada anak kecil di dalam diriku dengan lembut. Anak kecil yang sedang mempertanyakan kok bisa ada manusia yang terlihat baik namun semakin berjalan muncul ketidaknyamanan. 🧕: "Ada masanya
Artikel Lainnya









