Sastra

gadis berambut merah

Gadis Berambut Merah

Gadis berambut merah terduduk di sudut kamar. Akhir-akhir ini, tumpukan letih melukis pesona wajahnya. Setelah selesai bekerja seharian ia bergegas untuk pulang, melakukan ritualnya setiap hari agar tetap mampu mewaraskan
laut dan tenangnya

Laut dan Tenangnya

aku ingin tenang,tapi tenang itu apa? katanya…tenang sering didoakanuntuk sesuatu yang sudah selesai,yang tak lagi berjuang. lalu aku bertanya,tenang yang ku mauharuskah se-sepi itu? aku hanya ingin seperti di tepian
mager

Mager

Aku mencintai kemalasandengan segenap “mager” yang biasa Berasa pupus dari jangkauanSiap-siap pada hitungan jari aku mencari kambing hitamDi antara penyedia, penyewa atau pemilik Mengupayakan mimpi nyamanpada setiap jam tidurBangun pada
bunga sedap malam di dewata

Bunga Sedap Malam di Dewata

Rumit menjadi sahabat setia kiniEntah darimana lagi harus kuyakinkanBahwa,Desir panah itu memang tak sampai ke busurnyaSenja tak lagi menghadirkan keindahan soreGemintang menahan suaranyaRiuh tapi sunyi Ilalang-ilalang bergantianTumbuh disela sela keraguanSemakin

Menurun Jadi Dagingku

Dan,lagi,Ia menawar peluknya. Kembali pada dekapnya,hingga,gusarku tak lagi bersasar,pada ragu yang kupunya. Karena,sudah habis,ditepis-lalu terbakar oleh doa-nya. Bu,Lagi.Maafkan aku kini—sebab,meragukan tangguhmu yang menurun jadi dagingku. Maaf pula,untuk yang akan datang
tiga kata

Tiga Kata

“Aku sayang kamu”Kata-kata yang sering diucapkan bagi orang yang punya rasaKalimat yang bisa membuat tenang bagi yang mendengarnyaTerkadang juga dapat merasa geli dibuat olehnya “Aku sayang kamu”Ah rasanya sudah lama
69f509a876e0e

Letakan Wajahku

akanku kenangakanku kenangkan selalu ku kenang! mana semua keramaian yang kau janjikan?lirih suara sukmaku mungkin memang tak terdengar!!! bertahun aku merajut simpul tak kasat,renjana dalam hati membara seakan akan kamulah
pantaskah aku di sini

Pantaskah Aku di Sini?

Dalam sunyi, sering kali aku melamun. Bertanya pada diri tentang kehidupan. Terlalu banyak hal yang menumpuk di kepalaku. Pertanyaan demi pertanyaan membebani pikiranku. "Apakah aku layak di sini?" "Apakah aku