Sastra

Menurun Jadi Dagingku

Dan,
lagi,
Ia menawar peluknya.

Kembali pada dekapnya,
hingga,
gusarku tak lagi bersasar,
pada ragu yang kupunya.

Karena,
sudah habis,
ditepis-
lalu terbakar oleh doa-nya.

Bu,
Lagi.
Maafkan aku kini—
sebab,
meragukan tangguhmu yang menurun jadi dagingku.

Maaf pula,
untuk yang akan datang di kemudian hari,

Bila nanti,
risauku makin menjadi—
semoga pelukmu masih bisa menukar hangat,
jadi kepala yang dingin.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *