Sastra

Kembali

Tepat setelah hari kelulusan sekolah, Arta mengajak Sabrina untuk menikmati sunset karena kebetulan di beranda Instagramnya sedang ramai potongan video tentang senja di Pantai Kute.

”Taa, liat deh sedikit lagi mataharinya terbenam.”
Tunjuk Sabrina kearah matahari yang hampir terbenam. Arta melihat kearah yang ditunjuk oleh Sabrina.
“Iya Na, mau liat lebih jelas?”, tanya Arta.
“Mau banget, ayo kita kepinggir sana Ta”, jawab Sabrina dengan spontan.

Sabrina berlari keujung jembatan sambil menarik tangan kanan Arta.
Pinggir Pantai Kute merupakan salah satu tempat yang biasanya dikunjungi oleh siswa sepulang sekolah bahkan karyawan kantor pun banyak yang mampir ke tempat tersebut, entah karena ingin bersantai atau merefresh otak yang hampir meledak karena pekerjaan yang banyak. Ditepi pantai kute terdapat sebuah jembatan yang sangat terkenal yaitu “Jembatan Damai”, terdengar aneh namun memang jembatan tersebut membuat hati seseorang menjadi tenang karena tempatya yang langsung mengarah ke Pantai Kute dengan suara ombak yang meneduhkan.
Jembatan damai hari ini sangat sepi, Arta dan Sabrina beruntung dapat menikmati matahari terbenam di ujung jembatan karena hampir setiap harinya ujung jembatan tersebut selalu ramai. Di tengah kegiatan menikmati sunset, Arta melihat seorang pengerajin yang sedang membuat kerajinan tangan seperti kalung, gelang, cincin dan lainnya di sebelah kanan. Terbesit dipikirannya untuk membuat gelang couple dengan Sabrina.

“Na, bikin gelang couple kayaknya seru ya”, Arta menunjuk seorang pengerajin di kanan.
“Hmmmmm.”
“Kelamaan, ayo ikut gue.”
Arta menarik tangan kanan Sabrina dan membawanya ke arah kanan jembatan.
Hari itu Arta ingin membuat sesuatu yang berkesan dan selalu diingat satu sama lain dengan membuat gelang berbentuk setengah hati yang jika digabung akan berbentuk sebuah hati yang utuh.
“Gimana Na, bagus kan?”, tanya Arta saat menyatukan gelangnya dengan punya sabrina.
“Bangett, makasih ya”, Sabrina mengangguk dengan antusias.
“Santai na. Udah mulai gelap nih, waktunya pulang”.
Matahari mulai terbenam dan cahayanya meredup, banyak yang sudah meninggalkan tempat itu sedari tadi karena langit juga mulai gelap.
Karena jarak Pantai Kute ke rumah Sabrina tidak terlalu jauh, mereka pun sudah sampai didepan rumah Sabrina.
“Makasih Ta udah buat hari ini berkesan buat gue.”
“Sama-sama Na, oiya gue boleh liat tangan kiri lo ga?”
Arta mengeluarkan sebuah cincin dari kantong celananya dan memakaikannya di jari manis Sabrina.
“Apaan nih Ta?”, dengan wajah kebingungan melihat cincin yang ada di jari manisnya.
“Dijaga ya jangan sampe ilang, gue pamit dulu.”
Saat ingin menghidupkan motornya tiba-tiba ibu Sabrina membuka pintu rumah.
“Eh Arta, ga mampir dulu?”, tanya ibu sabrina di depan pintu.
“Udah malem bu, nanti deh kapan-kapan. Arta pamit ya bu.”
Arta meninggalkan Sabrina tanpa menghiraukan ekspresinya yang sedang kebingungan.

Keesokan hari Sabrina mencoba menghubungi Arta untuk menanyakan perihal cincin yang belum terjawab kemarin, namun Arta tidak bisa dihubungi. Pikiran Sabrina menjadi tidak karuan karena biasanya Arta selalu fast respon baik chat ataupun telepon, tapi ia tetap berpikir bahwa Arta mungkin sedang sibuk dengan pendaftaran universitasnya atau kegiatanya yang lain.

Dua hari, tiga hari, seminggu, sebulan, bahkan setahun tidak ada kabar dari Arta dan semua social medianya pun tidak ada yang aktif. Sabrina sangat khawatir dengan keberadaan Arta yang entah dimana sekarang, ingin sekali ia melupakan kenangannya dengan Arta terutama perihal cincin yang diberikan olehnya yang sejak setahun lalu melingkar di jari manisnya tersebut, namun setiap kali ingin melupakannya ia tetap tidak bisa. Sabrina juga selalu menunggu pop up notifikasi dari Arta, bahkan setiap minggunya ia selalu menghabiskan waktunya di Pantai kute untuk melihat keajaiban bahwa Arta ada di tempat tersebut.
Cuaca terlihat cerah, seperti biasa Sabrina ingin melihat sunset karena dibeberapa hari terakhir kemarin cuaca di daerah tempatnya tidak mendukung untuk keluar rumah. Pantai kute selalu sama setiap harinya, menampakan keindahannya terutama pada saat sore hari, bedanya beberapa tahun terakhir ini ia menikmatinya seorang diri.

Saat sedang menikmati sunset dipantai kute, Sabrina mendengar suara dari arah belakang, “Hay Na”. sapaan tersebut membuyarkan lamunannya karena suara orang tersebut terdengar tidak asing ditelinganya.
“Sendirian aja?”, tanya orang tersebut yang kini sudah berada di sampingnya.
“Eh bil, iya nih cuacanya lagi bagus, sayang kan kalo dilewatin. Kalo lu sendiri ngapain disini?”, tanya Sabrina kaget saat Billy tiba-tiba di sampingnya. Billy adalah ketua kelasnya di kampus.
“Ini tempat gua nyantai kalo sore sekalian liat sunset. Gue perhatiin kayaknya lo sering banget kesini.”
“Iya, suka aja ngeliat sunset di sini.”
Setelah cukup lama berbincang, Sabrina memutuskan untuk pulang karena langit mulai gelap. Billy sempat menawarkan untuk mengantarkannya, namun ia menolak dan memilih untuk pulang sendiri.

Awalnya mereka hanya sebatas teman sekelas, namun sejak kejadian tersebut mereka mulai menjadi dekat dan sering berinteraksi satu sama lain. Tetapi selalu Billy yang memulai kedekatan tersebut, sesekali Sabrina mendengar dari temen sekelasnya kalau Billy sebenarnya suka dengannya namun ia tidak ambil pusing dengan hal tersebut dan tetap menganggap Billy sekedar temannya saja tidak lebih dari itu.

Tidak terasa 3 setengah tahun berlalu. Wisuda pun tiba, Sabrina merayakan wisuda tersebut besama keluarga dan sahabat-sahabatnya di SMA yang hadir pada wisudanya.
“Congrats Na, ga kerasa tiba-tiba dah wisuda aja”, Billy menghampiri Sabrina yang sedang berfoto.
“Eh iya Bil, congrats juga ya buat lo.”
“Oiya Na, ada yang mao gue omongin. Ikut gue sebentar bisa?”, tanya Billy.
“Boleh Bil. Mah, Pah aku kesitu sebentar ya.”
“Iya Na, jangan lama-lama”, ucap ibunya.
Sabrina meninggalkan kedua orang tuanya dengan sahabatnya. Tidak lama mereka pun tiba di area taman menghadap gedung kampus yang bertingkat.
“Na, gue suka sama lo. Lo mao ga jadi teman hidup gue selamanya?”, obrolan pembuka dari Billy membuatnya terkejut.
“Hahh…. Lo becanda kan Bil?”
“Gue serius Na, gimana, lo mao jadi teman hidup gue?”, Billy memastikan pertanyaannya sekali lagi.
“Sorry Bil kayaknya gue ga bisa.”
“Kenapa na? Apa gara-gara cincin yang ada di jari manis lo?”
“Eh sorry Bil kayaknya orang tua gue manggil deh, gue kesana ya”, Sabrina pun meninggalkan Billy tanpa menjawab pertanyaannya.
Saat Sabrina Kembali, ibunya menyampaikan pesan kepadanya untuk menemui Arta di parkiran.
“HAHHH, Arta?. Serius mah?”, Sabrina tidak bisa menutupi bahwa dirinya senang, namun ada juga perasaan marah di dirinya tentang kedatangan Arta.
“Iyaa sana, ditunggu di parkiran. Semoga kamu nemuin jawabannya.”
Sabrina berjalan menuju parkiran dengan perasaan campur aduknya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di pikirannya sambil terus berjalan.
“Hayy Na”, sapaan Arta membuat jalannya terhenti sejenak, tapi ia tetap melanjutkan langkahnya sampai berada di depan Arta.
“Kemana aja lo selama ini? Hampir 4 tahun ta, lo gada kabar.”
Dengan perasaan marah, Sabrina langsung menanyakan banyak hal tanpa membalas sapaan dari Arta.
“Gue udah boleh ngomong?”, tanya Arta.

Arta menjelaskan bahwa selama ini ia melanjutkan kuliahnya di Australia karena pesan dari ayahnya sebelum meninggal dan ayahnya juga berpesan agar ia fokus untuk belajar dan lulus dengan cepat. Ia baru tiba di Indonesia kemarin dan langsung kekampus sabrina karna mendapat informasi dari sahabatnya Sabrina yang dulunya sekelas saat arta SMP.
“Sorry ya Na udah buat lo khawatir, makasih udah ngejaga cincin dari gue selama ini”, Arta melihat cincin yang masih melingkar di jari manis Sabrina.
Amarah Sabrina akhirnya mereda setelah mendengar cerita dari Arta.
“Gue paham sekarang, makasih juga ya Ta udah mau jelasin dari awal.”
“Gue gak telat kan Na?”, tanya Arta.
“Telat? Maksud lo apa?”, Sabrina balik bertanya.
“Lo mao ga jadi teman hidup gue selamanya?, ini juga termasuk pesan dari ayah gue kalo udah lulus kuliah.”
Sabrina mengangguk tipis, lalu Arta langsung mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin dari dalam saku celananya.
“Trus cincin ini?”, Sabrina menunjukkan cincin yang ada di jari manisnya
“Itu cuma tanda kalo lo masih sendiri. Sini jari lo”.
Arta memindahkan cincin yang lama ke jari manis kanan dan memakaikan cincin baru ke jari manis kiri Sabrina.
“Gue boleh peluk Na?”, tanya Arta malu.
“Jangan pergi lagi ya Ta”, tanpa aba-aba Sabrina yang terlebih dulu memeluk Arta.
“Iya Na.”

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *