Sastra

Tiba-Tiba

Kedipan mata menghindari sinar;
Dalam helm, kudengar petikan senar.
Putar setir, gas memenuhi pajak,
pijak harta kota berlabel adu tahta.

Kepulan gosip mengiringi putaran roda;
adu nasib sudah tak terbendung, tinggalkan noda.

Tangan satpam menyapa setiap pagi,
aku tenggelam dengan banyak analogi.

Nama bergelantungan dengan warna seperti pelangi.

Tiba-tiba, air minum tunggangan naik tak tertahan lebih mahal dari kopi pinggir jalan!
Tiba-tiba, tukar pindah pion lebih gesit dari cetakan sablon bergambar lampion.
Tiba-tiba, baris angka utang naik tanpa permisi lebih ganas dari asam lambung.
Tiba-tiba, pacu jantung lebih cepat dari drag race mendidih, butuh jarum masuk kulit, menyebar drug pace, bikin nagih.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *