Aku berbicara pada anak kecil di dalam diriku dengan lembut. Anak kecil yang sedang mempertanyakan kok bisa ada manusia yang terlihat baik namun semakin berjalan muncul ketidaknyamanan.
🧕: “Ada masanya kita harus melepas orang-orang yang terlihat baik tetapi tidak baik untukmu. Sebijak apapun yang kita lakukan, tidak akan bisa mereka menyelesaikan masalah dengan duduk bersama.”
👧🏻:”Bukankah orang kaya gitu ya yang sering marah-marah kaya di film-film?”
🧕: “Tidak Selalu. Ada yang bentuknya ” Pasif”, ada yang ” Pasif dan Agresif”, dan ada yang bentuknya “Manipulatif” “
👧🏻: “Seperti apa memangnya?”
🧕: “Seperti….
Orang yang berkonflik tetapi enggan melihat sudut pandang lain
Orang yang tidak mau melangkah bersama ke arah kebaikan untuk dua belah pihak
Orang yang menutupi kebenaran
Orang yang jujur tapi tidak terbuka
Orang yang pasif dalam membuat boundaries saat berteman lawan jenis, apalagi yang sudah punya pasangan
Orang yang bingung dengan arah
Orang yang bermain dengan kepercayaan
Orang yang memiliki beragam alasan untuk membela diri
Orang yang tidak sejalan dengan nilaimu tetapi mempermainkan keberadaan dirimu
Orang yang sulit berempati sebagai sesama manusia
Orang yang sulit berempati sebagai sesama wanita
Orang yang menarik diri saat menyelesaikan masalah
Orang yang tidak mau untuk meminta maaf
Orang yang merasa dominasi adalah bentuk harga diri
Orang yang mencari kekuranganmu dan kekurangannya, untuk membenarkan tindakan mereka
Orang yang kerap meremehkan orang lain
Dan orang-orang lainnya yang membuatmu mempertanyakan kewarasanmu sendiri. Apalagi setelah mendengar pembelaan dari tindakan mereka.”
👧🏻: “Bagaimana bentuk mereka pas berantem (berkonflik) dengan kita?”
🧕:Saat kita menjelaskan dengan kata-kata panjang dan sikap dewasa pun, ternyata kita tidak bisa memaksa mereka untuk mengerti kalau tindakan mereka menyakiti kita dan melewati batasan kita. Mereka enggan reflektif.”
👧🏻: “Loh kenapa?”
🧕: “Karena mereka tidak memiliki kapasitas empati itu. Bahkan saat mengeluarkan kata maaf pun, bentuknya dengan pembelaan diri tapi dikemas pasif oleh mereka. Mereka minta maaf karena ketahuan atau sebatas formalitas, bukan karena berusaha mengerti rasanya di posisimu.”
👧🏻: “Terus aku harus apa?”
🧕: “Let Them, Let Go, Let Yourself Find Peace🤍
Pulanglah ke diri sendiri, pulanglah kepada mereka yang bisa menghargai dirimu seutuhnya.
Kamu terlalu berharga untuk dipermainkan Kamu tidak akan bisa bertemu dengan mereka di tengah
Kamu tidak bisa merubah atau membuatnya berubah.
Hal itu mustahil karena yang kau hadapi adalah karakter yang sudah hidup bertahun-tahun di dalam diri mereka.”
👧🏻: “Kok gitu? Sulit sekali dong untuk melepaskannya, minimal mereka tau lah kalo mereka keterlaluan dan tidak beretika?! Bela dirimu dan beri penjelasan!!!!”
🧕: “Hmm etika itu subjektif. Aku pernah mencobanya, tapi tetap saja..”
👧🏻: “Argh aku marah sekali melihat kamu hanya pasrah di akhir”
🧕: “Aku tidak pasrah, aku memilih untuk menyayangi diriku sendiri. Aku memilih untuk melihat masalah dengan lebih sadar. Realitanya mereka tidak berempati. Jika kita berharap agar mereka merasa bersalah dan mereka sadar kalau kita tersakiti oleh mereka…. sayangnya itu bentuk ekspektasimu dan itu tidak akan terjadi. Mereka ya akan tetap dengan cara hidup mereka.”
……
Jadi, kita belajar untuk lepaskan orang-orang itu, yuk? 🌷”
👧🏻: “Huft Baiklaaaah… Untuk kebaikan diri kita, kita pilih lepaskan. Tetapi aku butuh waktu untuk memprosesnya.”
🧕: “Tidak perlu terburu, aku ada di sampingmu. Rasakan apapun perasaan tidak nyaman yang hadir. Kita beri ruang untuk mereka juga, ya. Terimakasih sudah belajar untuk memahami kehidupan kita di masa dewasa ini.”
Dan aku pun menemukan ketenangan.
Dalam hidup,
Terkadang kita memilih untuk menghindari dan memutus koneksi ke orang yang membuat kita kita tidak nyaman. Padahal akan selalu ada orang yang membuat kita tidak nyaman dan mereka memiliki beragam cara untuk mendapatkan akses kita.
Banyak juga yang dengan terlihat lebih ke “bodo amat”. Tetapi setelah aku belajar mengamati bagaimana orang yang menghadapi masalah dengan tenang.. Aku melihat kalau bentuk bodo amat itu bukanlah bentuk pengalihan. Di dalamnya, ada regulasi untuk menyadarkan diri tentang mana hal yang tidak bisa kita kendalikan dan mana hal yang bisa kita kendalikan.
Kita belajar untuk lepaskan orang-orang itu, yuk?🌷