Merdeka
Ada orang yang rela mengorbankan hidupnya demi sebuah ambisi.
Ada pula yang mengorbankan kehidupan orang lain demi ambisinya.
Ambisi memang tak jauh berbeda dengan nafsu.
Seperti cinta dan benci, keduanya tampak berlawanan,
tetapi sama-sama lahir dari hasrat yang begitu besar terhadap sesuatu.
Sejarah dipenuhi manusia-manusia seperti itu.
Ada yang ingin membangun sebuah kekaisaran hingga mendominasi Eropa.
Ada yang memperluas pengaruh ideologi ke berbagai negeri.
Ada yang memimpikan dunia tanpa kolonialisme dan imperialisme.
Ada pula yang mengembara dari satu negara ke negara lain demi menyalakan api revolusi.
Mereka dikenang karena ambisi yang begitu besar.
Lalu aku?
Kurasa ambisiku tak sebesar mereka.
Aku tak ingin dikenang sebagai penakluk.
Tak ingin mengubah dunia dengan perang, pidato, ataupun revolusi.
Ambisiku hanya satu: merdeka.
Tak lagi menjadi singa yang terkurung di dalam kandang.
Tak lagi menjadi narapidana di balik jeruji besi.
Aku ingin menjadi seekor burung yang terbang bebas di langit.
Menghirup udara yang segar, membangun sarang di atas dahan,
lalu mengembara ke seluruh penjuru dunia.
Menjadi saksi bisu atas gunung yang tetap berdiri,
laut yang tak pernah lelah memeluk pantai,
dan manusia yang terus mengulang kesalahan yang sama dari zaman ke zaman.
Mungkin aku memang tak memiliki satu tujuan yang begitu tajam.
Mungkin itulah sebabnya aku lebih merasa seperti burung daripada singa.
Aku tak ingin menguasai hutan.
Aku hanya ingin melihatnya.
Melihat bagaimana manusia membangun peradaban,
lalu menghancurkannya dengan tangannya sendiri.
Melihat bagaimana cinta mampu melahirkan kedamaian,
sementara kebencian melahirkan perang yang tak pernah selesai.
Semoga tak ada tangan manusia yang menangkapku untuk dijadikan peliharaan.
Tak ada peluru yang menjatuhkanku hanya untuk dipajang sebagai trofi.
Biarkan aku tetap terbang.
Karena mungkin, kebebasan bukan tentang menguasai dunia.
Melainkan tentang mampu mengelilinginya tanpa pernah kehilangan dirimu sendiri.