Populer

HARMONIS SIAPA YANG PUNYA?

Begitulah hidup dengan wanita yang susah untuk diatur.
Merasa dirinya jago bertutur, semua kata suami harus dibalas sampai hancur lebur.
Berbicara dengan cara agama atau realistis terasa percuma,
apapun yang kita perbuat tidak berguna.

​Semua tahapan gaya sudah aku coba, dari gaya Pablo Picasso sampai Maradona.
Bahasanya setajam piso untuk ditodongkan ku punya libido,
romantis bagai dongeng Romeo kepada Juliet.
Tapi, yang kita dapat malah jadi kameo di film Dendam Nyi Pelet.

​Jika dia keset, aku akan injak-injak dia punya muka seperti ayam penyet!
Tak tahu harus dari mana aku memperbaiki hubungan ini, Nyet.

Setiap kali berdamai, setiap itu juga dirimu memulai.
Jangan berharap jika kau punya sikap tetap tidak menyimak ku punya cakap,
dan akhirnya surgamu akan kusekap.

​Sekali saja kau turuti ku punya kata,
mungkin pernikahan kita tidak penuh derita.

Memang lembaran putih sudah tertimpa noda,
tapi apakah tidak bisa kita buat seperti sediakala?

​Ini cerita bukan tentang kita berdua.
Setiap ada perkara, dia yang belum dewasa selalu terlihat sengsara.
Apa aku pikir dia baik-baik saja?
Aku sangat berdosa melihat dia menangis menjerit,
sedangkan kita asyik saling menindas dan mencubit.

​Pria hebat akan rapuh dan jatuh ketika wanita yang selalu menemaninya wafat.
Terlihat di luar memang gagah, namun di dalam menangis sangat kuat.

Spekulasi buruk membuat tak berdaya hingga menjadi hitam seperti kecap,
menumpuk pada akhirnya, tidak berani berucap
untuk menyelesaikan semua perkara yang acap terjadi antara aku dan adinda.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *