Sastra

Sepucuk Surat Untuk Penulis

Di ujung ufuk timur yang tak diketahui alamat-Nya.
Aku meringkih dan terjebak dalam ketidakpastian
Terkurung dalam jeruji besi hanya karena bersuara.
Penyiksaan dan intimidasi kulalui setiap harinya.
Tubuhku memar dihajar oleh alat penguasa yang membenci kebenaran!
Rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh.
Terbujur kaku dibawah jeritan kesakitan yang memukul raga.
Menghirup tajamnya dingin udara malam.
Dalam kesunyian yang tidak kunjung bermuara
Dan Menjadi saksi betapa busuknya rezim keparat ini.

Wahai para pemuda yang penuh dengan idealisme.
Ragaku mungkin terperangkap dalam penjara.
Namun jiwa dan pikiranku takkan bisa terpenjara.
Dari balik jeruji ini, kunyalakan api semangat perjuangan yang menolak padam.
Kusampaikan pada barisan rakyat yang hak nya telah dirampas.
Bahwa jangan pernah takut untuk bersuara.
Jangan pernah takut untuk mengungkapkan kebenaran.
Sebab, diam bukanlah sebuah bentuk kebijaksanaan.
Ia adalah peluru bagi penguasa untuk melanggengkan penindasan di negeri ini.

Wahai para kamerad yang memilih untuk melawan!
Bawalah harumnya kebenarian yang tumbuh dari nurani.
Kepalkan tangan kalian, kepakkan sayap kalian…
Bawalah kabar dari kegelapan jeruji ini.
Menembus pekatnya malam menuju jalan kebenaran.

Pembungkaman ini bukan merupakan sebuah bentuk kekalahan.
Ia adalah sunyi yang menunggu untuk diledakkan
Sebab takdir ini adalah saksi
Bahwa kita menolak tunduk pada tirani yang buta.

Biarpun nanti aku tidak pernah ditemukan kembali.
Biarkan aku pergi melewati hembusan angin.
Yang menjadi saksi bisu dari setiap langkah yang dijejaki.
Biarkanlah aku tiada dengan jiwa yang merdeka.
Teruslah melawan ketidakdilan
Teruslah melawan impunitas yang menjamur.
Oleh suara-suara, yang takkan sirna oleh ancaman.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *