Pada malam yang perlahan berganti pagi, aku terdiam. Pikiranku penuh tentangmu, tentang bagaimana dunia mengantarmu pada titik terakhir. Kemudian aku bergumam, mengutuk dunia.
Mengapa harus kamu?
Lantas mengapa jika desa atau siapa pun hancur asal tidak denganmu. Namun aku kembali tersadar, bahwa menjadi egois bukanlah dirimu, bahwa kedamaian selalu berada di puncak prioritasmu, bahwa orang baik sepertimu memang secepat ini untuk pergi.
Itachi.. dan pada jalan yang kamu tempuh.
Sejak itu , kehidupan tak lagi milikmu. Ia menjelma misi abadi yang perlahan meluruhkan bahagia, juga meredupkan senyummu. Menjadi jenius tak lagi sebagai karunia, kini ia serupa petaka yang menuntutmu menanggung dunia seorang diri.
Sejak itu , masihkah ada bahagia yang sempat singgah dalam hatimu?
Sebab melindungi dalam bayangan, layaknya pengorbanan tak bertepi. Lalu dalam lembah sunyi ini, adakah hangat yang kau rindu?
Dan andai kamu terlahir kembali, Uchiha Itachi, kumohon untuk sekali ini saja, egoislah. Biarkan kehidupan sepenuhnya menjadi milikmu. Tempuhlah jalan yang mampu menumbuhkan bahagia dan memulihkan senyummu, hingga hangat dapat kembali merengkuh jiwamu.
“Tidak peduli betapa kuatnya diri mu , jangan pernah mengatasi semuanya sendirian.” Mungkinkah kamu ingat, sepenggal kalimat yang pernah kamu ucapkan untuk seseorang? Untuk kali ini, Itachi, lakukanlah, untuk dirimu. Kumohon, jangan lagi berjalan sendiri.
Dan jika kehidupan kembali menarikmu pada lara tak berujung, bawa aku, izinkan aku ikut denganmu. Izinkan aku menjadi tempat untuk kamu berbagi luka.