Raga membungkuk selaras kulit yang kering keriputBersambut sentuhan guratan tangan yang jujurHelai rambutnya rata memutihSerak suara payau menyahut lembut ketika kuajak bertuturTerlihat jelita dengan kemeja bermotif bunga-bunga Lelaki paruh baya
Vitri Fauziah
Seorang perempuan yang hidup dalam harmoni antara ilmu farmasi dan indahnya literasi. Sebagai seorang Apoteker, ia mendedikasikan dirinya pada ketelitian dunia medis, namun di balik jas putihnya, tersimpan jiwa seorang "Perempuan Puisi" yang memandang dunia melalui kacamata estetika dan rima.
26 karya tulis dari Vitri:
Nyaris sewindu menertawakan rintihSerupa bunga tulip yang belum disemaiKuncup malu-malu menjelma asing ketika dibuaiAku yang tak lihai melukis beningnya cintaSulit memandang tulusDengan siklus yang keruh bermetamorfosisSekali lagi, meruap merajah pikiranku
Berang berulang di poros serupaMenggulung besi berkarat tak bergemaGulana menetap di pojok jendelaKebingungan menyimpan telapak saat merona Tubuh menggigil kedinginan di PersimpanganMenyaksikan kepala-kepala tertawaSembari bernyanyi nyaring bermelodiTersadar dalam sekejap dia
"Aku tersiksa di sini!""Inginku mengakhiri hidup saja!""Suamiku selingkuh!" Teriakan-teriakan itu diumpat sembari berlari kembali ke kamarnyaDiiringi tangisan yang memuncak di Selasa pagiDadanya bergemuruh penuhPikirannya melompat tersesat tanpa arahHatinya berlubang ditikam
Semangkuk kepahitan terpaksa melukai kerongkonganSetelah gemerlap kerlap kerlip rumah benar-benar padamMenyisakan puing-puing realitasSeperti ucapan salam yang tak akan mungkin disambutSeolah mengintip di daun pintuMenanti kopi hitam ditegukNamun menggenang hingga menjamur
Hitam adalah ruang untuk merenungHitam adalah pelukan malam yang jujurHitam adalah kedukaan tiada ujungHitam adalah aba-aba yang bisuHitam adalah sahabat setia pengilang dayaHitam adalah kekuatan paling megahHitam adalah permulaan kehancuran?
Pendar di Sabtu malam yang membiruBerebut bertukar sayuMenyusut sejekap mata piluMenyisih tanda tanya terlampauSangsi menentang realitasMutiara itu menggelapSirna tanpa aba-aba Separuh malam lengangPikiran bergolak mendesakMenyusun rekaman kenanganSembari meratapi anandaJari-jari mungil
Jadi apa warna cinta, Tuan?Serupa-rupa perasaan pengantar tidur?Semacam penghias gempita berbalut mantra?Hampir satu dekade mencari peta cedera di tubuhkuTanah yang berkhianat mengubur abuSetelah kembang peony kau rontokkan sampai musnah ke
Kita pernah serapat nadiSemasa durasi kala dipenggal jarakMembasuh rintihan setiap tetesan bulir beningMemeluk keluh kesahku sepanjang bukitMencium leburan luka memar seolah menyembuhkannyaSekedar menerka angan dera mendekapSaling mengetuk pesan dari Pulau
Sejatinya setiap masaAdalahBermain peranBerbagi peranPeran berpura-puraPeran perantaraPeran membosankan Tak juga ketinggalan topeng-topengSebagai penghias pilu, suka cita, durja dan amarahGuratan tangan tersajiSebagai pertandaWayang yang kau pakai sekaliWayang yang kau cariWayang yang
Kosong melompongGambaran bangunan masa kiniAkibat periode carut marut berlarut Mengawali frasa demi frasaMengantarkannya ke tahap kelabuMenapaki wajah-wajah senduKidung sunyi mulai didendangkanKetika dihadapkan pilihan perjalanan ingin bunuh diri Saat belati berongga
Bejana hampir luberBeradu sikuHati yang hampir redupKala senjaDitawar cahaya Lalu,Terang tak sudiMati pun pelik Mencari jawabanDari tumpukan buku usang di pojok kamarMengingat helaan bayangan lama merangkai memar Lantas?Harus terus bersuaAtauRapat
Karya tulis lainnya











