Kosong melompongGambaran bangunan masa kiniAkibat periode carut marut berlarut Mengawali frasa demi frasaMengantarkannya ke tahap kelabuMenapaki wajah-wajah senduKidung sunyi mulai didendangkanKetika dihadapkan pilihan perjalanan ingin bunuh diri Saat belati berongga
Vitri Fauziah
Vitri Fauziah adalah seorang perempuan yang hidup dalam harmoni antara ilmu farmasi dan indahnya literasi. Sebagai seorang Apoteker, ia mendedikasikan dirinya pada ketelitian dunia medis, namun di balik jas putihnya, tersimpan jiwa seorang "Perempuan Puisi" yang memandang dunia melalui kacamata estetika dan rima. Jejak Profesional dan Pendidikan Lahir dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Vitri menempuh jalur profesi Apoteker untuk mengabdikan diri pada kesehatan masyarakat.
16 karya tulis dari Vitri:
Bejana hampir luberBeradu sikuHati yang hampir redupKala senjaDitawar cahaya Lalu,Terang tak sudiMati pun pelik Mencari jawabanDari tumpukan buku usang di pojok kamarMengingat helaan bayangan lama merangkai memar Lantas?Harus terus bersuaAtauRapat
Kelopak seketika terbuka shubuh tadi, sesak menghimpitRindu sendu mengharu kalbuTernyata mimpi kiasSerupa nyata Lisan terucap sangat terang" Papah, ngangge kemeja kotak-kotak anu mananya?Beda ningali neng perform"Sembari kemeja kotak-kotak itu diangkatnya
Sore itu kulewati kaca setengah lingkaranPikiranku terperosok pada memori beliaKita saling canggung,Kita saling tatap,Kita saling membelah kasihDialog mesra membawa musim semi Secangkir cokelat hangat menjadi pembuka nostalgiaBergelora menolak padamSerupa kuncup
Rumit menjadi sahabat setia kiniEntah darimana lagi harus kuyakinkanBahwa,Desir panah itu memang tak sampai ke busurnyaSenja tak lagi menghadirkan keindahan soreGemintang menahan suaranyaRiuh tapi sunyi Ilalang-ilalang bergantianTumbuh disela sela keraguanSemakin
Kuketuk pelan-pelan pintu ruang isolasiKemoterapi di awal ashar tadiKulirik tetesan infus menetes perlahanMengganggu siklus pembelahan selMerusak DNA selSel kanker yang akan menyengat setiap perempuan di muka bumi Dua wanita paruh
Andai saja dopamin dan serotonin bisa selaras,Mungkin duniaku tak terbalikSiang menjadi malamMalam-malam kelam kelabu MenghardikMengekangMelawan Bisikan-bisikan memekakkan telinga tiba-tiba, tanpa aba-abaMengajakku berceritaTentang Ratu Elizabeth Kerajaan Inggris, atauTentang Ufo mendarat di
Senyuman itu menari nari di pikirankuSentuhan yang rasanya fanaBerulang,Mendesak,Mengurung,Melucuti. Segenap tanda yang samaSeluruh hati yang utuh diberiYang Sembunyi Mendengar retakKesepian adalah saksi piluMenggapai tapi tak sampai Keriuhan padat berlalu lalangTak
Menyulam harapan di tengah runtuhan porak porandaRumah itu bukan khayalan nyaman untuk pulangYakinkan pelukan menjadi asa bernapas saat terduduk Aku yang akan berhentiSelaras perasaanmu yang telah habisAku yang akan putar
Sebuah potret dari kamar yang terpencilMemberantaki pikirankuKamar tanpa salam yang ingin sekali ku ketuk,dan separas itulah malamSeperti tak mengenal kantukKantuk mengulur pagi yang selalu datang terlambatSebelum aku sampai disituHanya sebuah
I measure healing in milligrams,but meaning in metaphors.By day, I read labels and lifelines—by night, I read the quiet ache of words. Lipstick stains the rim of a beaker,poetry hums
Kuanggap cinta kini rasanya keruhSetelah pesan singkat yang kubaca setengah sadarMalam itu, ingin marah bergemuruhBadai menyapa terus, bergantian. hingga tertampar oleh cuplikan radar Episode yang kukira happy endingTak disangka akhirnya
Karya tulis lainnya










