"Aku tersiksa di sini!""Inginku mengakhiri hidup saja!""Suamiku selingkuh!" Teriakan-teriakan itu diumpat sembari berlari kembali ke kamarnyaDiiringi tangisan yang memuncak di Selasa pagiDadanya bergemuruh penuhPikirannya melompat tersesat tanpa arahHatinya berlubang ditikam
Vitri Fauziah
Seorang perempuan yang hidup dalam harmoni antara ilmu farmasi dan indahnya literasi. Sebagai seorang Apoteker, ia mendedikasikan dirinya pada ketelitian dunia medis, namun di balik jas putihnya, tersimpan jiwa seorang "Perempuan Puisi" yang memandang dunia melalui kacamata estetika dan rima.
23 karya tulis dari Vitri:
Semangkuk kepahitan terpaksa melukai kerongkonganSetelah gemerlap kerlap kerlip rumah benar-benar padamMenyisakan puing-puing realitasSeperti ucapan salam yang tak akan mungkin disambutSeolah mengintip di daun pintuMenanti kopi hitam ditegukNamun menggenang hingga menjamur
Hitam adalah ruang untuk merenungHitam adalah pelukan malam yang jujurHitam adalah kedukaan tiada ujungHitam adalah aba-aba yang bisuHitam adalah sahabat setia pengilang dayaHitam adalah kekuatan paling megahHitam adalah permulaan kehancuran?
Pendar di Sabtu malam yang membiruBerebut bertukar sayuMenyusut sejekap mata piluMenyisih tanda tanya terlampauSangsi menentang realitasMutiara itu menggelapSirna tanpa aba-aba Separuh malam lengangPikiran bergolak mendesakMenyusun rekaman kenanganSembari meratapi anandaJari-jari mungil
Jadi apa warna cinta, Tuan?Serupa-rupa perasaan pengantar tidur?Semacam penghias gempita berbalut mantra?Hampir satu dekade mencari peta cedera di tubuhkuTanah yang berkhianat mengubur abuSetelah kembang peony kau rontokkan sampai musnah ke
Kita pernah serapat nadiSemasa durasi kala dipenggal jarakMembasuh rintihan setiap tetesan bulir beningMemeluk keluh kesahku sepanjang bukitMencium leburan luka memar seolah menyembuhkannyaSekedar menerka angan dera mendekapSaling mengetuk pesan dari Pulau
Sejatinya setiap masaAdalahBermain peranBerbagi peranPeran berpura-puraPeran perantaraPeran membosankan Tak juga ketinggalan topeng-topengSebagai penghias pilu, suka cita, durja dan amarahGuratan tangan tersajiSebagai pertandaWayang yang kau pakai sekaliWayang yang kau cariWayang yang
Kosong melompongGambaran bangunan masa kiniAkibat periode carut marut berlarut Mengawali frasa demi frasaMengantarkannya ke tahap kelabuMenapaki wajah-wajah senduKidung sunyi mulai didendangkanKetika dihadapkan pilihan perjalanan ingin bunuh diri Saat belati berongga
Bejana hampir luberBeradu sikuHati yang hampir redupKala senjaDitawar cahaya Lalu,Terang tak sudiMati pun pelik Mencari jawabanDari tumpukan buku usang di pojok kamarMengingat helaan bayangan lama merangkai memar Lantas?Harus terus bersuaAtauRapat
Kelopak seketika terbuka shubuh tadi, sesak menghimpitRindu sendu mengharu kalbuTernyata mimpi kiasSerupa nyata Lisan terucap sangat terang" Papah, ngangge kemeja kotak-kotak anu mananya?Beda ningali neng perform"Sembari kemeja kotak-kotak itu diangkatnya
Sore itu kulewati kaca setengah lingkaranPikiranku terperosok pada memori beliaKita saling canggung,Kita saling tatap,Kita saling membelah kasihDialog mesra membawa musim semi Secangkir cokelat hangat menjadi pembuka nostalgiaBergelora menolak padamSerupa kuncup
Rumit menjadi sahabat setia kiniEntah darimana lagi harus kuyakinkanBahwa,Desir panah itu memang tak sampai ke busurnyaSenja tak lagi menghadirkan keindahan soreGemintang menahan suaranyaRiuh tapi sunyi Ilalang-ilalang bergantianTumbuh disela sela keraguanSemakin
Karya tulis lainnya











