Artikel Populer
Artikel Terbaru
Kami berdiri menagih janjiTapi seolah mencari matiKami berdiri sendiri-sendiriTapi seolah dibayari Tak ada artiTak ada hati Kami berisik berteriak nyeriTapi kau dengar seperti bernyanyiKami sibuk mengelap tangisTapi kau lihat seperti
Mari kita susun kembali kepingan yang jatuhAda banyak kata-kata yang sering kubacaKemudian tenggelam. Lalu menghilang. Dari banyaknya metaforaPuisimu adalah jebakan terhebatSebagian orang menceritakan deritaYang lainnya berusaha membenci Mari kita susun
Turun dari LRT di Cawang, saya sempat merasa seperti warga ibu kota yang modern. Langkah kaki terasa ringan, jalur pedestrian mulus dan suasana stasiun yang kinclong membuat saya percaya Jakarta
"Kalau libur, ya pulang saja" kalimat Bapak, membuka percakapan kami. 131 km jaraknya, 2,5 jam waktunya, tergantung moda apa yang kupakai untuk menempuhnya. Rumah, masih terdefinisi dua manusia mulia itu.
Entah berapa purnama lagiHarus dilalui nyanyian sepiSetiap ruang itu kubuka dengan hati hatiKubiarkan angin menyapanya dengan lembutMerasakan setiap sentuhan yang fana Lagi lagi terulangHanya hinggap lalu pergiHilang arah panah yang
Setiap Ramadan, kehidupan sosial terasa bergerak lebih cepat. Grup percakapan kembali aktif, undangan berdatangan dan kalender mendadak penuh oleh agenda berbuka bersama. Apakah Ramadan sekarang hanya jadi musim kumpul, konsumsi
Buku yang lama tersimpanSampul berganti dengan kerajinan yang baruTulisan di dalamnya merasuk pikiranWaktu pun berkata jangan terlena pada haru Selama apa tersimpannya buku ituBuku yang selalu mengingatkan panca indera muSelalu
Ia mencintainya dengan cara yang pelan-pelan membunuhnya. Namanya Dara, dan ketika ia menyebut nama Arga, suaranya selalu sedikit bergetar. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang tahu, nama itu tak seharusnya
Artikel Lainnya
Tips & Tutorial
Kategori Artikel
24 Posts
69 Posts
78 Posts
17 Posts
46 Posts
46 Posts





































