Tulisan Terbaru
pada siapa kamu melepas tangis? diriku.juga pada motor atau mobil yang kukendarai.juga pada dinding kamar yang berantakan.juga pada bilik toilet kantor.juga pada turun hujan.pada diriku sendiri. mulanya satu, dua, tiga-hingga
airmataku kau seka, sedang tanganmu aku genggam setiap takut tiba.kita akan tertawa, bahagia, mencinta-seterusnya sampai dunia pada ujungnya. gerbang menuju sukacita—selamanya terbuka, menyambut aku, kamu; yang menjadi kita akan selalu
Kehidupan fanaTak luput dari “kejutan”Ia datang diam-diam, tanpa aba-aba, tanpa dimintaTerkadang ia menjelma tawaMerekah seperti bunga dimusim semiTerkadang ia luruh menjadi air mataJatuh satu persatu, mengisahkan perih tak terucapSegala yang
Bola matamu menatapku dengan tajamKu kira ada salah yang ku lakukanNamun ternyata, itu hanya bahasa rasaSorot mu seakan sedang bersaksiMengagumi tanpa bertepi, tanpa ilusi “Indahnya ciptaan Mu Tuhan”Ucap mu penuh
Amara melangkah keluar dari ruang kerjanya di lantai 35 dengan langkah berat.Hari itu, Bimo sempat kembali menghampirinya di meja kerja. “Ra, gimana bukunya? Udah sempet dibaca?” tanya Bimo, dengan nada
SEBUAH SENI DAN MANUSIA GILA Bahkan seni bisa lahir dari jiwa-jiwa yang kau sebut gilaLahir dari sakit ataupun tanya yang tak ada habisnyaLahir dari kesenangan yang sementaraMenjadi abadi hanya jika
Bingung Kenapa otak ini begitu linglung dan tidak mampu menyelesaikan apa yang harus diselesaikan?Otak terasa terhenti saat detik terus berganti, namun jari-jari terus mencari hal yang tidak pasti dari layar
Ibumu menyulam huruf-huruf namamu di saku baju,bermain dongeng dan memanggil-manggilmukelak duka-duka di punggungmenggosok seribu ingatan & menelanmu. Ibumu memesan potret-potret visual,dan namamu di sana; terpasung sepertijanin dalam rahim—kelak kaumengusap-usap itu
Artikel Lainnya
Sastra
Tips & Tutorial
Kategori Artikel
26 Posts
74 Posts
84 Posts
113 Posts
47 Posts
46 Posts







































