Tulisan Terbaru
Salamku kepada udara,Yang masuk ke dalam tubuhkuMembawa aliran darahkuMenuju ke kepala.Bawalah pesan positif kepadanyaUntuk tetap tegas, tegar dan bersahaja.Dirimu memang bukan yang terbaik dan terkuat.Tapi dirimu cukup kuat untuk bertahan
Biar dunia mengutuk!Namun,lagi,lagi,dan lagi.Doa Kasih-ku,tak pernah putus memeluk. Aku harap—semua luka,tak lagi nanar—tak lagi menutup,segala yang benar. Biar dia,jadi pijar-pijar api,yang bisa dirasa,hanya lewat jeda.Lewat jarak yang jauh—seraya menghangatkan.Sebab,dia tidak
Kabut selalu datang lebih awal ke desa itu. Ia turun dari punggung bukit seperti seseorang yang tahu jalan pulang meski tidak pernah diberi petunjuk. Orang-orang desa sudah terbiasa. Mereka membuka
Semangkuk kepahitan terpaksa melukai kerongkonganSetelah gemerlap kerlap kerlip rumah benar-benar padamMenyisakan puing-puing realitasSeperti ucapan salam yang tak akan mungkin disambutSeolah mengintip di daun pintuMenanti kopi hitam ditegukNamun menggenang hingga menjamur
Jangan Lumpuri dengan Peluru kami melihat wajah tuamu tersenyumdi tembok-tembok gedung utamasetelah persekutuan tanpa dendammenutup riwayat panjang kekalahan. kami mencari senyum wajahmuyang memantul dari wajah anak sekolahsetelah makan siang dan
Untuk kakakku yang pergi tanpa aba-aba. Aku titipkan bait-bait ini pada sungai-sungai yang mengalir di sanaDi tempat yang kau tak pernah bayangkan sewaktu kau masih gemar di dapur ibu. Aku
“Bu, kenapa kelapa berwarna hijau?” Ibuku, yang tengah sibuk menyeruput kelapa, menoleh dan menjawab; “Hijau itu tanda kelapa masih muda, Nak. Penuh dengan air, penuh dengan harap, penuh dengan mimpi.
Bagaimana mengeja sepasang, jika kau adalah sebatang tembakaudan aku hanya korek kayu yang sekali gores lalu usai?Aku menyalakanmu agar kita punya durasi,tapi kau memilih habis sebagai asap yang dilarikan angin.
Artikel Lainnya
Tips & Tutorial
Kategori Artikel
27 Posts
76 Posts
91 Posts
164 Posts
47 Posts
46 Posts







































