Tulisan Terbaru
Aku kira aku sudah menggambar pola hati di relung jiwamuAku kira laut telah berdesirMengucap namaku di tempatmuAku kira jarak kita, seperti Kota Surabaya dan Pulau Bali yang jaraknya bahkan tak
Hai, aku yang lain. Kemarilah, duduk di sini. Sudah kuseduhkan secangkir kopi untukmu.Tak perlu menyembunyikan apa pun malam ini. Aku sudah tahu semuanya.Aku tahu tentang penyesalan yang masih kau kunjungi
Saat tatapku mendalam justru kau menatap dengan kakuSaat membahas beberapa hal rautmu mulai gusarEntah kebelet buang air besar atau memang pergi setiap menghadapi hal besar Kau sudah mengerti jalan masuk
Akanku kenangAkanku kenangKan selalu kukenang! Mana semua keramaian yang kau janjikan?Lirih suara sukmaku mungkin memang tak terdengar!!! Bertahun aku merajut simpul tak kasat,Renjana dalam hati membara seakan akan kamulah milikku!!Aku
Malu dibuatnyaBau alkohol dimulutnyaBadan sudah rasanya sakit semuaLelah mencari rezeki untuk hidup sekeluarga Laki laki yang kupanggil pahlawankuKurasa tak akan lagi setelah iniTubuh tampak lunglaiDibopong memasuki rumah yang isinya aku
Gelas kosong dari tanah liatTersisa ampas kopi hitam pekatHabis isinya meski dinikmati atau tak tertelanDalam malam dengan rasa mati suri Terjatuh.. bangkit lagiTerhempas.. bergegas kembaliBukan untuk keegoisan diriSekedar membuktikan dampak
Angin bertiup lembut menyapu kulit perempuan berparas manis yang mengayuh sepedanya dengan riang gembira. Sepeda berwarna abu-abu yang terlihat cukup tua meluncur dalam kecepatan penuh menuju danau di bawah bukit,
Pendar di Sabtu malam yang membiruBerebut bertukar sayuMenyusut sejekap mata piluMenyisih tanda tanya terlampauSangsi menentang realitasMutiara itu menggelapSirna tanpa aba-aba Separuh malam lengangPikiran bergolak mendesakMenyusun rekaman kenanganSembari meratapi anandaJari-jari mungil
Artikel Lainnya
Tips & Tutorial
Kategori Artikel
27 Posts
76 Posts
87 Posts
142 Posts
47 Posts
46 Posts








































