"Aku tersiksa di sini!""Inginku mengakhiri hidup saja!""Suamiku selingkuh!" Teriakan-teriakan itu diumpat sembari berlari kembali ke kamarnyaDiiringi tangisan yang memuncak di Selasa pagiDadanya bergemuruh penuhPikirannya melompat tersesat tanpa arahHatinya berlubang ditikam
Puisi
Jarum panjang dan pendekMenuju titik yang sama.Perjalanan waktu menuju pagi.Saat distorsi dunia terpadamkan. Isi kepala,Merobek tengkorak belakangMerayap keluar,Berteriak "DENGARKAN AKU!". "Apa yang sebenarnya kau cari?"Ujarnya,Mengguncang eksistensi.Memicu pergulatan dengan isi hati.
Hijau, biru, cokelat tak menjaga; menjajah jahat seolah gagah, gampang tersulut amarah.Embrio organik merah marah dengan barisan teratur sudah tumpah terarah.Dalam jaringan urat nadi mengalir darah, diiringi sumpah jadi senjata
Bagaimana rasanya ada di lubangYang tanpa disadari telah digali oleh dirikuSaat menuju rumah ternyamankuDi atas perbukitan sana Aku melihat setitik gumpalan cahaya unguTertarik dan terus mengikutinyaSampai pada langkahku hampir seratusAku
Kau pergi agar aku tidak terluka.Tapi sadarkah kau?Kepergianmu justru meninggalkan luka. Aku melepaskanmu karena mencintaimu.Lucunya, cinta itu membuatmu merasatidak cukup untuk dipertahankan. Kau tak ingin memberiku harapan palsu,maka kau berikan
Terik matahari yang begitu melekat berubah menjadi nyamanMelihat sepintas dirimu melangkahkan kakiHari itu kamu tampak hijau seperti daun segarWarna yang begitu indah di mataku dan menjadi warna favoritkuKeindahan dari segala
Petang silam sinar mataku bersalinHitam kelabu, tumbuh merah semaraiBukan hujan bukan angin mencipta licinTak gentar alasan, iman hati menggunung Daku terbelah dalam dekap, hangat.Ku ditiup sejumlah khidmat,Diajar banyak keindahanSecantik embun
Aku sudah mengambil fotomuAku ingin mengambil fotomuAku tak dapat melihatmuAku tak ingin mengingkari janjimu Cahaya menembus pelupuk matakuTak peduli dan terlelap dalam kelabuSekejap semua berubah, tiada yang tahuKu pergi kearah
Kau terlalu mutakhirKau membolak-balikkan.Tinta putihku di kertas hitam.Menjadi tinta hitam di kertas putih.Tak lagi ku menulis diatas kegelapan.Tapi ku tuturkan kegelapan menuju cahaya.Hingga mungkin nanti tak terbaca lagiTinta putih diatas
Di antara yang berbedaDunia bekerja dengan rata untuk yang bisa-bisa sajaBagaimana mereka yang berbeda?Bagaimana nasib mereka yang terlahir dengan kondisi unik dari Tuhan? Dunia terasa kejam, berisik, tidak ramah, dan
“Bagaimana caramu melawan sepi?”, tanyaku layaknya bocah. Seperti biasa, di hadapanmu segala kesoktahuanku luruh, siap mendengar apapun yang akan kau ucapkan. Engkau menghisap puntung rokokmu lebih dalam dari sebelumnya, tertawa
Pada waktu Zuhur,aku bersegera menuju rumah ibadahsetelah selesai menyantap rezeki siang hari. Tiada firasat buruk di dalam dada,sebab semua itu hanyalah rutinitasyang kulakukan semenjak aku mengenaljalan hidup yang diperintahkan-Nya. Maka
Artikel Lainnya











