๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ซ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ญ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ฆ๐ธ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐จ๐ช๐ญ๐ข Satu sesapan. Hingga menjalar pada sesap lainnya aku rasakan pada rongga kerongkongan lalu menuju indra penciuman
Puisi
Ibu...Mungkin Ibu kecewa, kala Ibu dapati sebuah bungkus rokok yang tak absen berada pada tas kerja milikku setelah Ibu ingatkan aku untuk berhenti menyentuhnya. Berhenti menyentuhnya lagi setelah kusampaikan kabar
Karya: Sesep SihabudinTeruntuk: Nona Abu-abu Tuhan kapankah lelaki itu berhenti menjahit lukanya sendiri, dengan tangan yang gemetar mencoba mencari peruntungan, sementara kakinya mulai ringkih mentadaburi jejak-jejak kehilangan. Seorang pria yang
Kami berdiri menagih janjiTapi seolah mencari matiKami berdiri sendiri-sendiriTapi seolah dibayari Tak ada artiTak ada hati Kami berisik berteriak nyeriTapi kau dengar seperti bernyanyiKami sibuk mengelap tangisTapi kau lihat seperti
Mari kita susun kembali kepingan yang jatuhAda banyak kata-kata yang sering kubacaKemudian tenggelam. Lalu menghilang. Dari banyaknya metaforaPuisimu adalah jebakan terhebatSebagian orang menceritakan deritaYang lainnya berusaha membenci Mari kita susun
Entah berapa purnama lagiHarus dilalui nyanyian sepiSetiap ruang itu kubuka dengan hati hatiKubiarkan angin menyapanya dengan lembutMerasakan setiap sentuhan yang fana Lagi lagi terulangHanya hinggap lalu pergiHilang arah panah yang
Buku yang lama tersimpanSampul berganti dengan kerajinan yang baruTulisan di dalamnya merasuk pikiranWaktu pun berkata jangan terlena pada haru Selama apa tersimpannya buku ituBuku yang selalu mengingatkan panca indera muSelalu
Terlepas dari ilmu, sastra begitu indahNilai kebajikan dan kejahatan menjadi bagian yang setaraBergantung pada letak kehidupan yang beruntungPembeda bagi mereka yang bercahaya karenanya Manusia mewariskan budaya dan rupamerah gagah, putih
Hai Jassia Aku dari tanah suci Mekkah pada jam 5.30 pagi duduk termangu di dalam bisku Aku duduk di tengah pada barisan paling belakang hadapanku adalah lorong jalan dari depan
Aku menyayangimu Aku merindukanmu Namun laut melampaui rasa yang kumiliki untukmu Itu sebabnya laut menjemputmu Laut mengambil senyummu jiwamu, ragamu, semua milikmu dari rengkuhku Jika saja aku jauh lebih mampu
Bagaimana jika aku yang berbohong?Kupinta hati untuk tak mengingatmu lagiNamun senyap sendu mengelabui lagiLenggak liuk tubuhmu kuingat lagi Bagaimana jika kau yang berbohong?Seolah kau setubuhi aku tanpa telanjangRiak riuh sorak
Kehadiran seketikasontak mengelamkan temaramMenyentil pesan cakrawalatentang fatwa ingkar lagi khilaf dunia Ketika hanya airmatayang dapat membasuh kedalaman lukaNyeri yang bersembunyi,โจmemaknai petuah keteguhan hati Seringkih doahanya ikhlas yang merimbunkannya.โจYakin di rintik
Artikel Lainnya











