Puisi

69a51962a6ef7

Angan Pulang

๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข Satu sesapan. Hingga menjalar pada sesap lainnya aku rasakan pada rongga kerongkongan lalu menuju indra penciuman
699dc702a45fb

Petapa Masa Lalu

Karya: Sesep SihabudinTeruntuk: Nona Abu-abu Tuhan kapankah lelaki itu berhenti menjahit lukanya sendiri, dengan tangan yang gemetar mencoba mencari peruntungan, sementara kakinya mulai ringkih mentadaburi jejak-jejak kehilangan. Seorang pria yang
freepik sketsa vektor hitam putih kerumunan bersuara nyeri 21274

Tak Cukup Hanya Cinta

Kami berdiri menagih janjiTapi seolah mencari matiKami berdiri sendiri-sendiriTapi seolah dibayari Tak ada artiTak ada hati Kami berisik berteriak nyeriTapi kau dengar seperti bernyanyiKami sibuk mengelap tangisTapi kau lihat seperti
Screenshot 2026 02 20 055201

Puing 1

Mari kita susun kembali kepingan yang jatuhAda banyak kata-kata yang sering kubacaKemudian tenggelam. Lalu menghilang. Dari banyaknya metaforaPuisimu adalah jebakan terhebatSebagian orang menceritakan deritaYang lainnya berusaha membenci Mari kita susun
Seperti endorfin

Seperti Endorfin

Entah berapa purnama lagiHarus dilalui nyanyian sepiSetiap ruang itu kubuka dengan hati hatiKubiarkan angin menyapanya dengan lembutMerasakan setiap sentuhan yang fana Lagi lagi terulangHanya hinggap lalu pergiHilang arah panah yang
hidup dalam sebuah buku

Hidup Dalam Sebuah Buku

Buku yang lama tersimpanSampul berganti dengan kerajinan yang baruTulisan di dalamnya merasuk pikiranWaktu pun berkata jangan terlena pada haru Selama apa tersimpannya buku ituBuku yang selalu mengingatkan panca indera muSelalu
Humanioara

Sastra Humaniora

Terlepas dari ilmu, sastra begitu indahNilai kebajikan dan kejahatan menjadi bagian yang setaraBergantung pada letak kehidupan yang beruntungPembeda bagi mereka yang bercahaya karenanya Manusia mewariskan budaya dan rupamerah gagah, putih
Jassia

Jassia

Hai Jassia Aku dari tanah suci Mekkah pada jam 5.30 pagi duduk termangu di dalam bisku Aku duduk di tengah pada barisan paling belakang hadapanku adalah lorong jalan dari depan
4056

Amin itu Imun dari Iman

Kehadiran seketikasontak mengelamkan temaramMenyentil pesan cakrawalatentang fatwa ingkar lagi khilaf dunia Ketika hanya airmatayang dapat membasuh kedalaman lukaNyeri yang bersembunyi,โ€จmemaknai petuah keteguhan hati Seringkih doahanya ikhlas yang merimbunkannya.โ€จYakin di rintik