Entah ratusan kali berapa orang lain kuutamakan dan aku, kutinggalkan.
Terjadi berulang-ulang, sejak ibu memaksa mengurus adik-adik yang jaraknya tak lebih dari usia ikan cupang.
Bapak hampir tak nampak di siang hari, hingga ia berpulang lebih cepat dari terbitnya mentari.
Aku duduk di kelas 2 sekolah dasar. Menangis adalah hal sakral yang dilarang, dan jika aku mengutarakan perasaan, aku hanya akan dicap rewel, anak nakal.
Adik-adikku menjadi prioritasku setelah pulang sekolah. Bermain tetap diperbolehkan ibu, tetapi mengajak mereka adalah keharusan.
Dua tahun berjalan, aku mulai merasa kehilangan bapak. Kekosongan sosoknya menyisakan kesepian pedas dalam rongga dada, dan pelupuk mata yang lebih sering basah.
Aku semakin tertinggal,
jauh dalam urutan prioritasku sendiri.
Kata ibu, tak pantas mengutamakan diri, hanya akan melahirkan egoisme; sifat setan.
Aku bukan hanya sekali menentang ibu. Kerap kali aku menjerit keras hingga tetangga bertanya-tanya. Kerap kali membenturkan isi kepala, karena tanyaku dianggap berisik dan pendapatku ditentang.
Lalu aku diabaikan.
Aku masih anak sekolah, tetapi penolakan semakin terasa getir. Ibu tampak lebih menyayangiku jika menurut dan diam. Aku semakin jauh dengan diriku.
Beranjak remaja tidak membuatku hebat. Rasa takut baru turut memenuhi isi kepalaku. Malam-malam selalu terasa panjang, menjerat kantukku, memutar memori dan ketakutan dalam satu waktu dengan seenaknya.
Di sela malam, sudah aku sisipkan doa-doa. Ibadah lima waktu tak pernah kulewati, apalagi menduakan Sang Pencipta.
Ciptaan-Nya saja selalu kuutamakan, dibanding diriku.
Aku ragu terhadap diriku. Entah apa yang harus kuyakini: pikiran dan pendapatku, atau opini dan aturan orang lain yang belum tentu kebenarannya atas aku dan tubuhku.
Lidahku kelu untuk mengiyakan lagi dan lagi. Isi kepalaku sering kupendam agar aku selalu diterima.
Acapkali tubuhku seperti ditarik ke sana kemari, identitas yang dilabeli tanpa persetujuanku.
Keinginan dan harapan turut tersisih, hingga aku hampir tidak mengenali tubuhku, sedang hal penting yang kumiliki semakin menjauh.
Bertahun-tahun aku terombang-ambing dalam senyum yang sumringah, dan sampai hari ini aku masih mencari-cari bagian diriku yang tak lagi utuh.