Sastra

Sulung yang Lelah

Terpuruk di antara lembar kertas
Langkahku tak lagi seirama dunia
Kantong mata menampung sisa malam
Menyusuri hari tanpa arah

Kopi tak lagi menolong
Teh pun kehilangan hangatnya

Di dada, angin berkecamuk
Mengoyak sunyi sampai ke ujung saraf

Begitulah nasib sang pemandu
anak pertama
Pundaknya penuh —
hingga biru.

Like 28
Dislike 1
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *