Sekian menit pandangan tertuju pada layar desktop. Angka berhamburan, kelak sebagai penentu bonus yang diperoleh bersama gaji tiap bulan. Spontan raga bergetar, perlahan merasa lumrah. Sampai di jam 11, perut terasa seperti diremas. Bergegaslah menuju toilet untuk buang air besar. Belum sampai masuk toilet, aku melihat feses di lubang kloset yang lupa dibersihkan oleh karyawan sebelumnya. Aroma tak sedap menguasai seluruh ruang toilet. Perasaan campur aduk. Nafasku sempit. Entah siapa manusia tidak bertanggungjawab itu.
Keluar pintu toilet, aku berpapasan dengan salah satu karyawan yang sebut saja Uhuy. Baru saja Uhuy masuk toilet, malah keluar lagi. Dengan cepat, Uhuy berjalan sambil memanggil Mas Office Boy untuk minta bantu bersihkan toilet. Aku tak menoleh sedetik pun. Terus melaju. Pikiran hanya fokus menuju toilet yang kosong.
Ah, leganya setelah dari toilet. Saatnya melanjutnya kembali pekerjaanku.
Memasuki jam salat, aku jalan ke musala lalu melaksanakan ibadah. Setelah ibadah, aku mengosongkan pikiran sejenak. 5 menit cukup untuk mengisi daya energi yang terkuras di setengah hari ini. Lumayan.
Seperti biasa, sebelum makan siang, aku ke pantry untuk menghangatkan lauk bekal. Kebetulan aku bertemu Uhuy yang sedang membuat kopi. Uhuy hanya melirik sambil senyum tipis. Batinku penuh curiga. Jangan-jangan Uhuy mengira aku yang memakai toilet itu?. Untuk senyapkan tanya yang berisik, aku berinisiatif buka obrolan.
Aku: “Ngopi, Huy”
Uhuy: “Iya, biar melek. Hehe”
Aku: “Makan lah. Emang gak laper?”
Uhuy: “Udah, roti, aman”
Aku: “Makan lagi, lah”
Uhuy: “Hehehe”
Aku: “Huy, tadi di toilet siapa ya yang gak bersihin kloset? Mana saya mau BAB. Akhirnya saya ngacir ke toilet lain. Gak kuat banget”
Uhuy: “Oh?” “Mbak, maaf ya. Saya pikir mbak yang abis pake toiletnya. Maaf banget. Tapi soal orangnya siapa, saya gak tahu. Kebetulan lihat Mas OB, langsung aja saya panggil buat minta tolong bersihin”
Uhuy: “Oh ya, mbak. Suka kopi apa? Saya bikin sekalian”
Aku: “Gapapa gak usah. Lagipula saya gak bisa ngopi. Lambungnya sensi”
Uhuy: “Oh, biasanya minum apa mbak?”
Aku: “Coklat. Saya nyetok di tumblr”
Uhuy: “Mantap! Ok mbak. Saya balik ke ruangan dulu ya”
Aku: “Ok, Huy!”
Kecurigaan sesuai. Ternyata Uhuy sempat mengira aku yang telah memakai toilet tersebut. Andai tidak memberanikan diri buka obrolan, mungkin aku akan menjadi bahan gunjing senyap memalukan 😆.
Namun, Uhuy terlihat seperti orang yang kurang tertarik bergunjing. Semoga Uhuy berhati baik, ya.
Baik, itulah pentingnya komunikasi untuk menata rentetan kejadian. Benahi kesalahpahaman sampai “ok, paham” selagi lurus dengan fakta.
Setelah persoalan beres, aku lega. Namun kelegaan tersebut hanya sementara karena lauk yang ku hangatkan di microwave ternyata gosong. Alhasil aku makan siang dengan nasi dan lauk gosong.
Jam kosong berakhir. Lalu aku kembali menatap layar desktop.