(huuu, huuu huuu, huuuuuuuu) Dua insan yang tak mungkin bersatuBerbeda alam, berbeda karakterBegitu pula cara hidup hingga berpikirMungkinkah kisah mereka abadi? Makhluk bersayap yang pintar dan bijaksanaDan mamalia berkelompok namun
Cerpen
I. “Anak tak bermoral, manusia tak tahu diri, sudah miskin maling kalian!” hardik Pak Parjo sambil menarik kerah kaos Ahmad yang lusuh. Di sampingnya, Fajar kakaknya, hanya bisa menunduk ketakutan
Musibah paling berat yang pernah kualami terjadi ketika usiaku masih sangat belia. Sedikit saja nasib berpihak berbeda, mungkin aku harus menjalani sisa hidup dengan cacat permanen. Beruntung, dokter berhasil menyelamatkan
Aku memang tidak banyak mengingat kisah-kisah kecil dalam hidupku. Namun, ada beberapa kenangan yang masih membekas, bahkan terasa pahit setiap kali kubuka kembali. Kali ini, aku ingin menceritakan salah satunya—masa
Sore itu berbeda dari sore biasanya. Dafin, seorang mahasiswa baru yang baru dua bulan menginjakkan kaki di salah satu universitas tertua di Jakarta, kampus yang dijuluki kampus perjuangan- tengah duduk
Sore itu berbeda dari sore biasanya. Dafin, seorang mahasiswa baru yang baru dua bulan menginjakkan kaki di salah satu universitas tertua di Jakarta, kampus yang dijuluki kampus perjuangan, tengah duduk
Tomy namanya, saat ini ia berada di semester 4. Mahasiswa yang tertarik pada seorang perempuan. Kisah ini adalah dirinya, tujuan Tomy menuliskan ini untuk memperkenalkan dirinya kepada khalayak yang luas.
Lampu-lampu jalan tengah memancarkan cahaya temaram hangat sejak langit mulai gelap. Sebuah mobil sedan hitam terparkir di ujung jalan pinggir kota. Malam itu, dua mahluk fana duduk bersama di dalam
Kabut selalu datang lebih awal ke desa itu. Ia turun dari punggung bukit seperti seseorang yang tahu jalan pulang meski tidak pernah diberi petunjuk. Orang-orang desa sudah terbiasa. Mereka membuka
Matahari Sabtu pagi merambat masuk menembus jendela kamarku, matahari Sabtu pagi menerpa wajahku di lantai 21. Hangat seperti memeluk erat, membuatku tersadar kalau hari ini aku harus bergegas pulang. Jadwal
Angin bertiup lembut menyapu kulit perempuan berparas manis yang mengayuh sepedanya dengan riang gembira. Sepeda berwarna abu-abu yang terlihat cukup tua meluncur dalam kecepatan penuh menuju danau di bawah bukit,
Gadis berambut merah terduduk di sudut kamar. Akhir-akhir ini, tumpukan letih melukis pesona wajahnya. Setelah selesai bekerja seharian ia bergegas untuk pulang, melakukan ritualnya setiap hari agar tetap mampu mewaraskan
Artikel Lainnya








