Di malam kedua setelah aku memikirkannya, dan dengan aktivitas yang mungkin hari ini terasa membosankan, banyak sekali kebodohan yang aku lakukan. “Kenapa terus terulang?” ucap diriku. Aku mungkin munafik.
Seharusnya aku bisa belajar dari apa yang sebelumnya aku alami. Mengganti langkahku menuju jalan yang baru, bukan cuma terpaku pada satu arah hanya karena terasa nyaman. Namun… apakah rasa nyaman itu tidak akan menyakitimu di kemudian hari?
Baiklah, sudah cukup sepertinya aku mengeluh. Dan sekarang, sepertinya saatnya untuk aku meningkatkan kesempatanku.
Tapi aku masih kepikiran soal, “Bagaimana perjalanan hidup kita setelah lulus sekolah?” Apakah hanya bekerja lalu mendapatkan uang?
Aku rasa tidak sesimpel itu. Atau mungkin hidup ini seperti bermain game, yang ketika kita beda pilihan akan beda jalan? Sepertinya iya.
Lalu, sebenarnya apa definisi sukses? Apakah punya banyak uang lalu foya-foya? Mungkin tidak, karena kenikmatan akan diraih ketika berusaha keras.
Karena menurutku, kesuksesan adalah ketika kita meraih apa yang kita inginkan. Bahkan sebatas bisa membeli motor impian pun aku sudah merasa sukses. Lalu aku mulai mencari impian selanjutnya.
Karena kalau kita hanya terpaku pada satu kesuksesan, hidup kita hanya stuck pada satu jalan, bagai bermain COC balai kota level 10 tapi base prematur.
Hidup itu bukan cuma sebatas mengerjakan kewajiban dan menerima hak. Hidup juga ada ketika kita melihat senyuman orang yang kita sayang. Hidup tidak jauh dari moral, namun moral yang kita bentuk pula harus terarah.
Ketika kita membahas tentang moral, apa yang kamu pikirkan tentangnya? Aku tidak mau terlalu jauh karena aku pula takut salah. Moral menurutku bak kanvas kosong (putih bersih) yang tidak ada cat sama sekali.
Lalu datang seorang pelukis—“kamu”—yang mulai memberi cat ataupun gambar di atasnya. Kamu bebas mau menggambar apa karena itu punyamu.
Begitupun moral, ketika kamu hidup di dalam lingkungan dengan kehidupan yang rusak, maka moralmu pun akan tercoret kotor. Begitupun sebaliknya. Namun ini hanya akan berlaku pada orang yang mendidikmu, atau orang yang memberimu arahan. Ia adalah kunci dari bagaimana cara kamu memilih.
Lalu, apa arti moral bagimu?
Aku ingatkan, lukislah moralmu dengan bagus, karena itu akan menentukan hasil akhirmu. Itupun yang akan menentukan bagaimana caramu berpandangan, bagaimana caramu memandang dunia.
Dan ketika kita membahas dunia, seperti apa dunia yang kamu inginkan? Apakah dunia penuh kedamaian, tanpa kewajiban?
Apakah seperti bangun siang atau bangun kapan pun yang kamu mau?
Atau mungkin bebas memakan apa pun yang kamu mau tanpa larangan? Itu memang terdengar mengasyikkan. Namun dunia tanpa larangan hanyalah sebuah kemunafikan.
Bahkan di surga sekalipun, ada batasan yang perlu kamu patuhi.
Dan orang yang bilang larangan seperti perbudakan adalah orang yang sama seperti anjing rabies.
Kita ketahui dulu, atas dasar apa larangan itu dibuat? Atas dasar apa kita dilarang? Ketika kita sudah mengetahuinya, barulah kita boleh berbicara, namun dengan bahasa yang santun pula. Jangan seperti aku, ya.
Ada lagi, aku pernah mendengar orang berkata, “Sekolah adalah sistem perbudakan.” Atas dasar apa ia bilang begitu? Hanya karena istirahat ada jamnya dan bel sekolah seperti bel pabrik?
Menurutku, jangan mengundang opini setengah-setengah yang membuat anak muda salah kaprah. Mungkin, ya, ia punya maksud lain. Tapi tidak dengan penyampaian yang seperti itu.
Karena menurutku, kedisiplinan itu diperlukan. Bahkan ketika ia bilang tidur siang seperti bayi, apakah kita akan bisa beraktivitas produktif ketika kita kelelahan?
Banyak sekali statement-statement yang mungkin agak sedikit frontal dan kurang penjelasan, ya menurutku. Dan bisa saja mengundang opini mentah dari anak muda sekarang.
Lalu kemudian, aku membaca berita sore tadi. Banyak sekali orang berteriak perihal TKA. Apa sih TKA itu? Tes Kemampuan Akademik, yang katanya mau dijadikan sebagai tolak ukur keterimaannya masuk jenjang universitas, dan bukan lagi menggunakan nilai rapor.
Menurutku bagus, karena banyak sekali orang-orang yang nilai rapornya direkayasa.
Namun di sisi lain, apakah penerapan sistem ini akan kekal? Atau nanti akan berganti seperti tergantikannya orang yang menyelenggarakan ini?
Yang salah menurutku adalah ketika sistem pendidikan dijadikan sebagai laba bisnis, bukan untuk memajukan pemikiran anak bangsa. Bukan untuk memajukan dan meningkatkan daya nalar anak bangsa, melainkan untuk memajukan kemakmurannya sendiri.
Bengis, bukan? Memang… bahkan setan pun sujud sama mereka, sepertinya.
Ah, sial. Sehabis membahas ini justru aku malah mengingat kasus kemarin, perihal pejabat hukum dan petinggi negara.
Kenapa aku bisa mengingatnya? Karena aku sedikit kesal. Banyak orang belajar sampai mau mati cuma ingin jadi PNS.
Sedangkan mereka belajar sampai gerbang bisa duduk sambil main slot di meja dengan gaji tiga juta per hari. Bengis, bukan?
Ah, sudahlah. Nggak akan ada habisnya menurutku membahas mereka, karena menurut mereka yang harus dibenahi adalah rakyatnya.
Padahal, nggak ada loh yang mau jadi seperti ini. Kenapa aku selalu menyalahkan mereka? Coba deh pikir, apakah ketika kita mendapatkan makanan dengan baik, kita masih bisa mencuri?
Apakah ketika kita mendapatkan pekerjaan dengan baik, kita masih bisa mencuri?
Dan apakah ketika kita mendapatkan pekerjaan dengan layak, masih ada begal dan copet?
Miris, bukan?
Bahkan sebab-akibat pun mereka tidak terpikirkan. Menurutku, kita dipaksa beradaptasi dengan negeri yang bengis pemimpinnya. Biadab, memang.
Aku merasa masih dijajah, bukan dengan senjata dan pembunuhan, tapi dengan intelektual yang direbut perlahan. Ditekan untuk tidak berpikir dan bersuara, agar mereka bisa anteng mengendalikan kita dari dalam.
Aku bingung, seperti apa yang harus kulakukan untuk mengubah semua ini. Dan inilah alasan kenapa aku ingin sekali menjadi dosen, bukan karena gaya-gayaan. Tetapi keinginanku ini adalah untuk menghilangkan semua penderitaan.
Mungkin nggak mudah, bahkan jadi dosen pun baru membuka pintu, menurutku. Dan di dalamnya masih ada labirin yang harus kuselesaikan, seperti dengar cerita dalam series anime.
Dan bahkan, membuka pintu itu pun tidak mudah…
Dari mulai biaya, perjuangan, dan banyak sekali yang harus aku lewati. Maka dari itu, aku tidak mau menyia-nyiakan semuanya. Aku harap, bahkan kamu yang membaca ini mampu mengubahnya sebelum aku membuka pintu.
Mengubah dunia yang krusial ini. Kenapa aku menggambarnya krusial? Karena dunia ini sudah sulit. Bukan dunia keseluruhan, tapi dunia kita sebagai bangsa Indonesia.
Sulit, yang katanya demokrasi tapi suara kita perlahan hilang bak bicara dalam air.
Yang katanya adil tapi seperti heels shoes yang lepas sebelah kakinya.
Baiklah, malam kedua berakhir tanpa kesimpulan. Aku sudah mulai mengantuk, tapi aku tahu satu hal… dunia bukan untuk dimengerti sepenuhnya, cukup dijalani dengan sadar.
Walau aku belum bisa mengubah dunia, tetapi aku masih bisa tetap menjaga agar pikiranku tetap waras di tengahnya.
Dan aku berharap kamu pun begitu.





