Ardie Putra Pratama

Aku bukan penulis, apalagi penyair. Aku hanya anak SMK yang belajar berbicara tanpa kata, sebab kata sering lahir hanya untuk hilang. Aku pernah percaya bahwa suara harus terdengar, bahwa cerita harus diucapkan. Namun waktu mengajarkanku hal lain: tak semua yang disampaikan akan sampai, dan tak semua yang didengar benar-benar dipahami. Maka perlahan aku mengubah arah, menyimpan suaraku dalam bentuk yang lebih sunyi, dalam karya yang tak banyak bicara, namun diamnya menyimpan makna. Aku tak lagi mengejar untuk dimengerti semua orang, cukup ada jejak yang tertinggal, cukup ada rasa yang menetap, meski tanpa nama, meski tanpa suara.

3 karya tulis dari Ardie:

Untitled
Sastra

Darah Beku

Hai, aku kembali dengan cerita baru, dengan cerita yang nggak kalah menarik dari kemarin—“mungkin”, haha. Ah, sudahlah. Sulit sekali untukku mengutarakan sebuah perasaan, bukan sebuah ketertarikan, melainkan rasa sakit yang