Hai, aku kembali dengan cerita baru, dengan cerita yang nggak kalah menarik dari kemarin—“mungkin”, haha. Ah, sudahlah. Sulit sekali untukku mengutarakan sebuah perasaan, bukan sebuah ketertarikan, melainkan rasa sakit yang
Aku bukan penulis, apalagi penyair. Aku hanya anak SMK yang belajar berbicara tanpa kata, sebab kata sering lahir hanya untuk hilang. Aku pernah percaya bahwa suara harus terdengar, bahwa cerita harus diucapkan. Namun waktu mengajarkanku hal lain: tak semua yang disampaikan akan sampai, dan tak semua yang didengar benar-benar dipahami. Maka perlahan aku mengubah arah, menyimpan suaraku dalam bentuk yang lebih sunyi, dalam karya yang tak banyak bicara, namun diamnya menyimpan makna. Aku tak lagi mengejar untuk dimengerti semua orang, cukup ada jejak yang tertinggal, cukup ada rasa yang menetap, meski tanpa nama, meski tanpa suara.
3 karya tulis dari Ardie:
Di malam kedua setelah aku memikirkannya, dan dengan aktivitas yang mungkin hari ini terasa membosankan, banyak sekali kebodohan yang aku lakukan. “Kenapa terus terulang?” ucap diriku. Aku mungkin munafik. Seharusnya
Malam itu, langit terasa seperti layar kosong. Aku menatap lama, mencoba menemukan bentuk dari pikiranku sendiri. Tapi semakin aku menatap, semakin kabur semuanya. Lagi dan lagi, sulit bagiku memejamkan mata


