Sastra

Untuk Mama

Hidupku terhampar bagai lembaran kertas rapuh,
di mana setiap goresan adalah keputusan,
dan satu langkah keliru
bisa merobek masa depan yang belum sempat utuh.

Sejak kecil, kau ajarkan aku berjalan,
menapak dunia yang tak selalu ramah.
Kau tuntun jemariku menulis makna,
kau bentuk lisanku agar fasih menyapa kehidupan.

“Mama”
kata pertama yang lahir dari sunyi mulutku,
bukan sekadar bunyi,
melainkan doa yang menjelma arah,
peluk yang tak pernah meminta balas,
dan cahaya yang tak lelah menuntunku pulang.

Kini aku berdiri di persimpangan waktu,
merasa telah cukup dewasa untuk memilih jalan,
namun di tiap hembus napas yang kupinjam,
di tiap detak yang tak pernah kupesan,
ada namamu yang diam-diam hidup di dalamnya.

Ruang bersalin itu menjadi
saksi bisu antara hidup dan mati,
tempat kau menukar nyawa dengan harap,
menjahit luka dengan cinta,
dan melahirkan aku dari gelap menuju cahaya.
Tak ada waktu yang mampu menandingi
lamanya kau merajutku dalam rahim.

Tak ada rasa yang sanggup menyamai
perih yang kau telan saat melahirkanku.
Dan tak ada api di dunia ini
yang mampu menyaingi nyala pengorbananmu.
Mama,
dengan apa aku bisa menebus semua ini?
Jika kesuksesan adalah bahasa yang kau mengerti,
maka akan kutulis hidupku dengan perjuangan.

Akan kutapaki jalan meski penuh duri,
akan kupaksa langkah ini tetap hidup,
meski kakiku retak oleh lelah,
meski darahku menguap di bawah terik semesta.

Karena pada akhirnya,
segala yang aku perjuangkan
adalah cara paling sederhana
untuk berkata…
aku mencintaimu, Mama.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *