Sastra

Inbox Kosong (Pesan dari Dunia Lain) – Chapter 3

Di ruang terbuka ini, suara ketikan keyboard dan percakapan singkat antara rekan-rekan kerja menggema, tetapi Amara lebih memilih keheningan. Matanya terfokus pada layar, dan meskipun banyak rekan yang berpapasan, ia tak memberi perhatian. Mereka sudah terbiasa dengan sikapnya yang cenderung tertutup, lebih memilih untuk fokus pada layar ketimbang mengobrol ringan.

Ruang ini adalah tempat yang penuh dengan teknologi, inovasi, dan ide-ide besar yang sedang berkembang. Setiap orang di sekitar Amara memiliki ambisi besar, namun ia memilih untuk tetap sendiri. Di dunia yang selalu terhubung ini, Amara tahu betul bagaimana cara bertahan dalam kesunyian. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya, dan begitu juga dirinya. Tanpa gangguan.

Amara tengah menatap layar komputernya dengan fokus, seolah dunia sekitar tak ada artinya. Ketika ia mengetik, setiap kata yang muncul di monitor seperti sebuah aliran pemikiran yang tak terputus, semuanya terarah pada proyek yang sedang dikerjakannya. Namun, suasana sepi di sekitar meja kerja Amara tidak bertahan lama.

Bimo, rekan kerjanya, tiba-tiba muncul di hadapan meja Amara. Dengan senyum lebar, dia menyapa meskipun tahu betul bahwa Amara bukan tipe orang yang senang berbicara banyak.

“Selamat pagi, Amara,” sapa Bimo dengan suara ceria, sedikit mengernyitkan alisnya melihat Amara yang tampak begitu tenggelam dalam pekerjaannya.

Amara mengangkat satu alisnya tanpa menoleh, lalu dengan suara datar dan tanpa ekspresi, ia menjawab, “Pagi.” Itu saja.

Bimo tidak merasa tersinggung, karena sudah cukup mengenal Amara. Ia tahu bahwa Amara tidak suka basa-basi, tapi dia selalu mencoba membuka percakapan, meski hanya sebentar. Bimo melihat ke monitor Amara sejenak, lalu beralih ke tas ranselnya yang tergeletak di kursi.

“By the way, ada yang menarik yang gue temukan kemarin,” ujar Bimo, sambil membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku. Buku itu berjudul “Anonymous” dengan sampul bergambar pola-pola abstrak yang tampak futuristik. “Gue rasa lo bakal suka,” tambahnya sambil meletakkan buku itu di meja Amara.

Amara menatap buku itu sebentar, matanya menyelidik dengan cepat judulnya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya melirik Bimo sejenak sebelum mengalihkan perhatian kembali pada layar komputernya. Suasana hening sejenak, kecuali suara ketikan jarinya di keyboard.
Bimo, yang tidak menyerah begitu saja, melanjutkan, “Buku ini… Novel sih lebih tepatnya; tentang dunia IT yang cukup dalam, ada banyak konsep teknologi yang mungkin belum lo kenal. Gue pikir lo bisa dapat wawasan baru.”

Amara akhirnya melirik buku itu lebih lama, tanpa berbicara. Tangan kanannya perlahan meraih buku tersebut dan membalik-balik beberapa halaman pertama, matanya memindai dengan cepat. Setiap kata di dalamnya tampaknya memang terkait dengan hal-hal yang ia geluti, dunia IT yang penuh dengan kode, algoritma, dan konsep-konsep yang terus berkembang.

Amara mengangguk pelan, tidak banyak bicara, namun gerakannya menunjukkan bahwa ia cukup tertarik. “Terima kasih,” jawabnya singkat, akhirnya melontarkan kata-kata yang cukup langka.

Bimo tersenyum kecil, merasa sedikit lega karena Amara akhirnya memberikan respons lebih dari sekadar satu kata. “Nggak masalah,” jawabnya, lalu melangkah pergi, memberi ruang bagi Amara yang kembali tenggelam dalam dunia digitalnya.

Amara menatap buku itu sebentar, menimbang apakah akan melanjutkan membaca atau kembali ke pekerjaannya. Sebuah pelukan rasa penasaran tiba-tiba menggelitiknya, namun dengan cepat ia menyadari bahwa waktu bukanlah hal yang bisa dipersia-siakan. Buku itu, seperti banyak hal lainnya, mungkin akan menunggu untuk dibaca nanti, setelah tugas-tugas yang lebih penting selesai.

Dengan satu tarikan napas panjang, Amara kembali menekuni pekerjaan di layar komputernya, meninggalkan buku itu di sampingnya, seolah memberi ruang untuk keputusan yang akan datang nanti.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *