Angin bertiup lembut menyapu kulit perempuan berparas manis yang mengayuh sepedanya dengan riang gembira. Sepeda berwarna abu-abu yang terlihat cukup tua meluncur dalam kecepatan penuh menuju danau di bawah bukit, tempat yang selalu dikunjungi. Kecepatan sepeda itu mampu mengguncang barang bawaan yang terikat rapi di keranjang bagian depan sepeda. Sesampainya di danau, perempuan berparas manis menyandarkan sepedanya di pohon yang tumbuh rindang dan besar berjarak beberapa meter dari danau. Ia mengeluarkan barang bawaanya dari keranjang, membuka simpul ikatan dan mencecerkan barang bawaanya di rumput hijau lalu ia mendudukkan dirinya di sana dan menikmati pemandangan sekitar.
Kanvas lukis berukuran 20×20, beberapa kuas, sepaket cat air, teh hangat dalam botol termos, dan sebungkus kacang rebus menemani perempuan berparas manis menikmati sore harinya berada di danau. Tidak banyak orang tertarik belama-lama berada di danau karena seringkali mendengar suara-suara rintihan dibalik semak-semak yang tumbuh rimbun di area sekitar danau. Masyarakat menduga suara-suara aneh itu berasal dari hantu penunggu danau yang merasa terusik. Namun hal demikian tidak sedikitpun mampu membuat perempuan berparas manis itu merasa ketakutan, baginya hantu hanyalah mitos atau hasil imajinasi kreatif dari sebuah budaya.
Diselimuti cahaya matahari sore yang hangat, semilir angin yang bertiup, serta bentangan air danau yang tenang. Seluruh hal itu mampu membuatnya merasa damai, memberikan energi berlipat ganda untuk mudah melukis apapun yang ada dalam isi kepalanya. Diantara jemarinya, kuas bergerak lembut diatas kanvas dengan beragam paduan warna. Ia tengah asik melukis keindahan cakrawala sore hari, tetapi gerakanya tiba-tiba terhenti karena semak-semak yang berada tak jauh darinya bergerak-gerak tanpa henti. Ia melirik sekilas kearah semak-semak itu dan begitu saja menghiraukanya. Ia berusaha untuk tidak pernah mempedulikanya. Namun suara rintihan dari balik semak-semak terdengar. Perempuan berparas manis sedikit tersenyum mendengarnya dan membuat rasa penasaranya begitu bergejolak dalam dirinya, menjadikanya tidak fokus untuk melukis. Hingga pada akhirnya perempuan berparas manis itu menghentikan apa yang tengah dilukisnya dan mendekati semak-semak yang tidak berhenti bergerak.
Keraguan dan rasa cemas mulai menyelimutinya ketika ia semakin dekat dengan semak-semak. Dengan penuh tekad ia mengepalkan tinjunya untuk siap memukul apapun, jika memang, apa yang ada dibalik semak-semak akan menyerang dan melukainya. Ketika ia hanya berjarak tiga langkah dari semak-semak, betapa terkejutnya ia, ketika sesuatu melompat keluar dari sana dan melesat begitu cepat menuju pepohonan rindang. Tanpa banyak berpikir ia berlari mengejar untuk mengetahui mahluk apa yang telah melompat dari semak-semak. Hingga ketika ia berhenti berlari dan menemukan seekor anjing yang ketakutan dan kesakitan akibat batang pohon runcing telah menusuk salah satu kaki belakang anjing itu. Rintih demi rintihan anjing itu menggema kesunyian danau, perempuan berparas manis tertawa, merasa menang dengan anjing malang yang terluka. Suara dari balik semak-semak sangat disukai perempuan berparas manis. Dengan seringai penuh bangga, perempuan berparas manis mengikat anjing yang tak berdaya mulai dari mulut dan keempat kaki. Perangkap sorenya kali ini lagi-lagi mampu mendapatkan hasil, perempuan berparas manis akan membawa anjing itu pulang, menjadikanya hidangan lezat untuk perut yang kelaparan.