Matahari Sabtu pagi merambat masuk menembus jendela kamarku, matahari Sabtu pagi menerpa wajahku di lantai 21. Hangat seperti memeluk erat, membuatku tersadar kalau hari ini aku harus bergegas pulang. Jadwal yang sudah kujanjikan sejak pekan lalu.
Mama Bapak menunggu di rumah.
“Pulang jam berapa teh? Hati-hati” Begitu kalimat yang dikirimkan melaui WhatsApp
Aku bergegas bersiap merapikan kasurku, merapikan kamarku, merapikan diri, lalu pergi ke stasiun kereta.
Stasiun Tanah Abang pukul 09.05 WIB, aku tiba di antarkan ojek online, sempat kesulitan mengancingkan kaitan helmnya yang berwarna hijau.
“Bang, ini gimana pakenya ya? Agak susah” Keluhku yang disambut pertolongannya. Aaahhh… Andai kisah asmaraku begini juga, hehe
Jadwal keberangkatan Rangkasbitung tersisa 3 menit.
“Rangkasbitung, Rangkasbitung, Rangkasbitung. Yang berangkat terlebih dahulu di peron 6” Begitu kata petugas.
Aku bergegas, lelarian. Dari gate in, eskalator, hingga peron, aku butuh waktu sekitar 3 menit jika berlari cepat. Sungguh sangat mepet. Dengan ranselku gang agak besar, aku harus lebih bertenaga untuk mengejar keberangkatan.
“Please! Bisa yuk bisa” Rapalanku sambil berlari melewati gate in, lalu eskalator.
Tak ada sedikitpun aku mengendurkan kecepatan. Saat menuruni tangga eskalator, yang berjalan otomatis itu, aku masih lelarian. Sambil terus yakin aku akan sampai dengan tepat.
“Peron 6 tujuan Rangkasbitung siap diberangkatkan. Kepada seluruh penumpang jangan menghalangi area pintu” Petugas sudah mengumumkan kalau kereta siap diberangkatkan. Last call.
Dan, hap!! Kakiku menyentuh lantai gerbong, tepat sebelum pintu kereta mendesis ditutup. Sambil membungkuk, napasku megap-megap.
“Haaaahhh… Yes! Berhasil” Cengiranku merekah tak peduli sekitar.
Tak sia-sia aku berlari sekuat semampuku. Walau tubuhku merasa tak nyaman.
Tanah Abang tujuan Rangkasbitung akan memakan waktu kurang lebih 1 jam 40 menit. Sambil menunggu perjalanan ini menemui ujungnya, kubuka ranselku. Novel yang tengah kubaca, tepat di kompartemen paling besar, bersampul merah dan putih berjudul Hush Little Baby. Buku yang sudah kubawa pinjam sejak pekan lalu dari apartemen temanku. Halaman 80, aku mulai membaca.
Sambil menyumpal kuping dengan alunan musik pengiring, waktu terus bergerak maju. 5 menit, 10 menit, 15 menit, berlalu. Mataku mulai berat, seperti jutaan ton menggelayuti kelopaknya. Akhirnya kututup novel, mulai pejamkan mata, sambil terus menahan rasa tak nyaman yang sejak keberangkatan sudah kutahan. Yang sejak pekan lalu sudah kuabaikan.
“Sesaat lagi, kereta anda akan tiba di tujuan akhir. Tujuan akhir, Stasiun Rangkasbitung” Petugas Customer Service mengingatkan.
Tiba di Rangkasbitung,
Bergegas menuju pintu keluar. Kartu sudah kusiapkan di tangan kiri, lalu tap out. Langkah kucepat-cepatkan, meski masih tak nyaman di beberapa bagian tubuh.
Keluar melewati sisi kiri, turun ke jembatan penyeberangan orang. Di depan gerbang stasiun sudah terparkir beberapa angkot. Aku masuk ke angkot berwarna biru, jurusan Sudamanik. Memakan waktu kurang lebih 30 menit perjalanan menuju rumah.
“Assalamualaikum… anak perempuanmu ini pulang. Neng uwih Ma, Neng uwih Pak” Kira-kira begitulah kalimat setiap kali aku pulang. Selalu mencoba menaikkan nada suaraku, seceria mungkin tone kubuat. Agar mereka percaya, aku baik-baik saja.
Beberapa orang terdengar tidak percaya kalau aku bilang sedang sakit, beberapa orang mungkin akan berpikir kalau aku hanya butuh bermain untuk melepas penat.
“Emang bisa sakit?”
“Sakit apaan sih, Lu?”
Begitu kira-kira.
Aku bersyukur, kalau memang aku sehat-sehat saja. Tapi ini lain. Sejak tiga pekan terakhir, perutku tidak nyaman, ini berimbas pada anusku. Yah… Anus. Ini juga yang akhirnya membuatku pulang pekan ini.
Pencernaanku sedang tidak baik.
“Coba Teh Lia emamna mutih bae. Pake sayur herang, pake uyah” Begitu kata Mama. Kalian tahu artinya? Hehehe itu pakai bahasa Sunda, yang artinya “Coba, Kak Lia makannya serba putih saja. Sayur bening, pakai garam”
Betul-betul selama dua hari di rumah, Mama dengan ketat mengawasi isi piringku. Bahkan isi gelasku.
“Pokoknya jangan minum es, ice cream, jangan yang pedes-pedes. Jangan dulu, sampai sembuh dan bisa kembali normal” Begitu lagi rentetan daftar pantangan dari Mama.
“Mulai sekarang, dikurangi lari, jangan dulu nanjak gunung, manjat tebing” Hehehe… Bapak menimpali. Karena aktivitas ini dinilai memperburuk anusku. Iya, wasir. Bagi beberapa orang, sakit ini tuh seperti aib, memalukan. Yeah… Karena masih ada orang yang menertawakan dan seperti jijik, iya, ada.
Dari pencernaan yang buruk, makanan pedas, mencret, lalu anusku terimbas. Hmmm…
Kasian sekali badanku. Sudah 2 kali aku bertemu dokter, berobat, berkonsultasi. Dan, masih sama. Kuyakin penyebabnya karena pola makanku yang masih saja berantakan. Dan, aktivitas fisik yang dua tahun belakangan memang terus-terusan.
“Sekarang minum air ini. Rebusan daun obat. Si aa Erik juga begitu dulu. Wasir. Minum ini sembuh” Mama menyodorkan ramuannya.
Sepahit apapun, se-tidak nyaman apapun di mulut, harus kuhabiskan. Oke! Siapa takut.
“Coba cuti dulu seminggu buat pengobatan dan istirahat” Bapak berharap betul putrinya ini bisa istirahat dulu, lalu sembuh segera.
Karena sejujurnya aku pun menginginkan demikian. Sempat lemas, kepala berat, tapi kemudian membaik.
Sayangnya, aku hanya punya akhir pekan. Sabtu dan Minggu. Jadi harus kembali bergegas ke Ibu Kota. Tentu Mama Bapak tidak melepasku begitu saja.
“Ini daun handeuleum, nanti direbus, diminum. Ini singkong, direbus, nyemilnya ini aja. Pokoknya jangan makan macem-macem dulu” Seperti biasa, Mama dengan daftar pantangan dan aturannya.
“Teh, nanti dirasain. Kalau masih belum, nanti balik lagi. Nanti cuti dulu aja” Lagi-lagi, Bapak memintaku rehat. Yang juga aku amini.
“Tapi belom bisa cuti, Ma, Pak. Jadwalnya sudah dibuat satu bulan. Baru bisa bulan depan cutinya” Aku menjawab, dan ini baru tanggal 7 Juni 2026.
Yasudah…
Kami berkabar dari kejauhan. Mereka khawatir makanku tak karuan di tanah rantau. Ya, karena memang sedikit sulit menemukan menu yang pas.
“Aman, paling nanti turun ke Pasar di lantai satu. Nanti aku beli Tempe tahu aja buat dikukus” Jawabku lagi. Setidaknya Mama Bapak tak perlu khawatir berlebih soal makananku
Minggu malam, kami kembali memupuk rindu. Saling mengirim do’a dari kejauhan. Untuk kemudian menyemainya lagi bersama, nanti.
Sebentar, Aku Tepar.
Jangan ditertawakan apalagi dikasihani.