Himpunan? Apa yang berhimpun di sana.
Anggota? Para penggerak sistem? Atau sekadar budak yang dipekerjakan untuk menjalankan roda yang tak pernah mereka pahami.
Seharusnya tidak.
Mahasiswa? Sistem? Ideologi? Pergerakan? Himpunan? Kurasa kini hanya menjadi patung—berdiri tegak, dipandang megah, tetapi kehilangan nyawa.
Mahasiswa? Apakah dirinya seorang akademisi yang membaca dunia dengan lensa yang menembus cakrawala, menyelami makna di balik setiap lembar pengetahuan. Atau hanya kupu-kupu yang singgah di bangku kantin hingga senja, perlahan melupakan hakikat dirinya sebagai mahasiswa.
Sistem seperti apa yang dijalankan dalam organisasi? Pergerakan seperti apa yang membuat organisasi tetap hidup? Himpunan seperti apa yang membuat mahasiswa berhimpun dalam satu wadah yang menaungi gagasan-gagasan mereka.
Kurasa jawabannya sederhana.
Ideologi.
Ideologi yang menjaga wadah tetap menjadi rumah bagi gagasan, bukan sekadar tempat berlindung bagi nama besar.
Kadang kau lupa, wahai pemimpin.
Warisan yang ditinggalkan para pendahulu tidak berhenti pada serah terima jabatan. Ia hidup dalam nilai yang diwariskan. Ketika nilai itu ikut pergi bersamamu, maka yang kau wariskan hanyalah kursi yang kosong.
Organisasi ini telah mati.
Bukan karena ia berhenti bergerak.
Bukan karena sistemnya runtuh.
Bukan karena pemimpinnya berganti.
Bukan pula karena anggotanya berkurang.
Ia mati ketika ideologinya kehilangan pewaris.
Begitulah kenyataannya.
Ironisnya, mereka yang berada di dalam tak lagi bertanya bagaimana semua ini berjalan. Bungkam. Tak kritis terhadap arah yang dituju pemimpin. Diam ketika sistem kehilangan pedoman. Naif. Kurasa itulah wajah kita hari ini.
Mahasiswa tak lagi menunjukkan taring untuk menguji gagasan-gagasan yang cemerlang.
Mereka sibuk mengejar agenda yang kehilangan makna.
“Rekreasi,” kata mereka. Sementara kapal terus berlayar tanpa ada yang peduli ke mana arahnya.
Selat Sunda?
Palung Mariana?
Selat Hormuz?
Atau Segitiga Bermuda?
Apakah nahkoda sengaja menenggelamkan para awaknya. Atau justru sedang membawa mereka menuju pelabuhan yang tak pernah mereka bayangkan.
Organisasi tak lagi menjadi wadah.
Ia berubah menjadi papan pengumuman yang kehilangan arah.
Tak ada lagi ide-ide yang mengguncang.
Tak ada lagi keberanian untuk melahirkan revolusi pemikiran.
Yang tersisa hanyalah kepatuhan.
Patuh kepada pemimpin.
Patuh kepada jabatan.
Patuh kepada nama besar.
Tak lagi berani melukai ego demi menyelamatkan organisasi.
Tak lagi berani menggigit lambang yang mereka banggakan ketika lambang itu mulai kehilangan makna.
Mereka bangga pada nama organisasinya, tetapi lupa pada ideologi yang melahirkannya.
Sistem terus berputar.
Ideologi perlahan dilupakan.
Lalu semuanya menyebut diam sebagai loyalitas.
Padahal, loyalitas yang sejati tak pernah takut bertanya.
Sebab organisasi yang sehat tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu patuh, melainkan oleh mereka yang berani menjaga arah ketika nahkoda mulai kehilangan kompas.
Jika kapalmu mulai terombang-ambing, lebih baik bersandar sejenak di pelabuhan daripada terus berlayar tanpa tujuan.
Dan jika semua orang memilih bungkam atas nama loyalitas, mungkin yang sedang tenggelam bukan kapalnya.
Melainkan keberanian para awaknya.