Lorong bawah menyeretku pada lantai pucat berlangit lampu remang.Ruang yang sunyi, tapi menabuhkan godam di kepala. Kepala yang berisik menjadi lega saat berjumpa rekan, yang mengisi hari-hari dengan tawa dan
Prosa
Sejak kerah seragam merah-putihku gampang kotor, lelah langkah sepatu bolong, hingga merah berubah jadi abu-abu.Ilmu bertebaran mudah menyerap;angka lalu-lalang berkeliaran, susah, sudah hancur lebur grogoti rayapOrang nomor SATU di negeri,
Hijau, biru, cokelat tak menjaga; menjajah jahat seolah gagah, gampang tersulut amarah.Embrio organik merah marah dengan barisan teratur sudah tumpah terarah.Dalam jaringan urat nadi mengalir darah, diiringi sumpah jadi senjata
Karet tebal hitam menggilas muka aspal.Musim kemarau datang lebih lambat, kami sudah siapkan terpal.Pori-pori badan membesar, tertutup angin menggumpal.Minum Tolak Angin, terbuka kesegaran yang original.Rangkong gading betina cabut bulu perkuat
Begitulah hidup dengan wanita yang susah untuk diatur.Merasa dirinya jago bertutur, semua kata suami harus dibalas sampai hancur lebur.Berbicara dengan cara agama atau realistis terasa percuma,apapun yang kita perbuat tidak
“Bu, kenapa kelapa berwarna hijau?” Ibuku, yang tengah sibuk menyeruput kelapa, menoleh dan menjawab; “Hijau itu tanda kelapa masih muda, Nak. Penuh dengan air, penuh dengan harap, penuh dengan mimpi.
“Hai, bagaimana kabarmu?” Aku menulisnya. Menghapusnya. Menulis lagi.Sampai akhirnya aku sadar—tidak ada satu pun versi yang akan pernah benar-benar terkirim. Ada hal-hal yang tidak ditolak orang lain,karena kita sendiri sudah
Manusia munafik.Manusia dengan dua wajah dan dua kehidupan yang berbeda. Jangan bayangkan dia seperti siang yang hangat atau malam yang tenang.Dia terlalu kacau untuk disamakan dengan hal-hal seindah itu. Di
Aku memainkan lagu Vina Panduwinata di teras rumah usai kencan pertama kita di sore tadi. Aku masih mengingat semua tingkah jenakamu yang lucu dan sedikit konyol sembari duduk bersandar di
Pernahkah kalian berfikir cara terbaik untuk mengucapkan selamat tinggal? Bukan karena kalian akan pergi jauh berpindah tempat tinggal, melanjutkan hidup seperti orang dewasa lainnya.Tapi bagaimana jika kita tidak pernah menjadi
Entah ratusan kali berapa orang lain kuutamakan dan aku, kutinggalkan.Terjadi berulang-ulang, sejak ibu memaksa mengurus adik-adik yang jaraknya tak lebih dari usia ikan cupang. Bapak hampir tak nampak di siang
Tuhan, entah bagaimana lagi aku harus bertahan hidup,langkahku goyah di atas ketakutan yang tak berwujud, aku menggenggam sisa berani yang hampir luruh, sambil bertanya, masih adakah arah untukku? Aku hanya
Artikel Lainnya










