Jakarta, 03 September 2023 Lantas apa hamba salah, Tuan? Jika mencintamu sampai sedalam ini. Sebab Tuan lebih dari pantas mendapatkannya. Tuan sangat layak. Hatiku keras, sulit melunak. Sebab Tuan, sejak
Prosa
Mengawini angan yang di lobotomi keadaan.Dipaksa terbuai dalam buih-buih kecupan mesra dan manisnya.Membuat pikiran ini terjerembab dalam jerami yang dipenuhi tumpukan jarum.Hanya seuntai doa yang bisa membuatku mengambang di antara
Bermula aku dibawa ke dalam satu sangkar emosi.Semua terasa membingungkan,Aku terombang-ambingDalam lautan tanya yang kupendam. Perintah yang menarikku pada halaman asingMembawaku pada peta satu arah,Tanpa pilihan yang sungguh memihakku;Jawaban yang
Buatmu Pirang yang Tak Berubah. Sepuluh jari tangan yang kupunya,delapan di antaranya kututup dengan keraguan.Tanpa sandaran sisi kanan-kiri, coba bertahan dari jengah pukulan.Dua sisa jari tengah lantang tetap berdiri tanpa
Himpunan? Apa yang berhimpun di sana. Anggota? Para penggerak sistem? Atau sekadar budak yang dipekerjakan untuk menjalankan roda yang tak pernah mereka pahami. Seharusnya tidak. Mahasiswa? Sistem? Ideologi? Pergerakan? Himpunan?
Merdeka Ada orang yang rela mengorbankan hidupnya demi sebuah ambisi. Ada pula yang mengorbankan kehidupan orang lain demi ambisinya. Ambisi memang tak jauh berbeda dengan nafsu. Seperti cinta dan benci,
Emosiku menjelma bom waktuBerlipat gandaLepas kendali pagi tadiMeledak, meletup-letup Aku seperti terkunciTersungkur sendiriDalam dadaku yang tak seberapa besarnyaTertunduk diam menyaksikan emosiku,mengambil alih otoritas tubuh Sekujur tubuhku memanasBom itu benar-benar adaMengeluarkan
Pasadena, 1994 Saat dunia menyaksikanseorang lelaki mati dalam keadaan berdiri.Ia tertunduk lesudi hadapan puluhan ribu pasang mata.Sang pahlawan,yang dalam satu ayunan kakimenjadi pemupus sebuah harapan. Berlin, 2006 Sang pahlawan berubah
1 Lampion di sudut meja makan, kuharap ia tidak beranjak pergi. Sebab, ia dan sekitarnya sudah sangat indah. Cobalah rasakan itu senang, bukan bimbang. Lebih seru rasanya jika tidak berseteru
Hari-hari yang kulalui terasa begitu berat. Persoalan demi persoalan, baik yang datang dari dalam diri maupun dari luar, terus membayangi langkahku seperti tabir yang tak kunjung tersingkap. Tak pernah terlintas
Pada hakikatnya, manusia merasa takut akan kehilangan sekalipun itu adalah: kehilangan yang baik. Lalu kita merasa menjadi seseorang paling menyedihkan di muka bumi. Tanpa sebuah alasan, tanpa kita sadari Bagian
Aku telah melewati sepi beberapa tahun terakhir, tidak tertarik oleh apapun dan siapapun. Yang ku mau hanya dirimu. Aku tidak menemukan rasa bahagia yang sama saat aku dan kamu menjalin
Artikel Lainnya









