Hijau, biru, cokelat tak menjaga; menjajah jahat seolah gagah, gampang tersulut amarah.
Embrio organik merah marah dengan barisan teratur sudah tumpah terarah.
Dalam jaringan urat nadi mengalir darah, diiringi sumpah jadi senjata pemusnah.
Tendang, gelandang, tarik tinju menuju naik pitam, berpikir cepat tanpa musyawarah, lupa sejarah.
Cadangan lapis berbaris penuh gairah, siap tempur lupa benang merah; di bawah mata gesek bawang merah, tetap dan harus sanggup basirah.
Pasrah, rasa terpendam hilang waktu Paskah.
Pas, kah? Hanya beda warna kita disentak, disekap, disepak, hingga paksa mulut berkata,
“Siap, Pak!”
“Siap, Pak!”
“Siap, Pak!”
Siapa yang harus kami turuti? Hanya bermodal bertanya-tanya tak membuat dapat jawaban yang benar dan tepat.
Warna-Warni yang Lupa akan Warnanya
Shares: