Hijau, biru, cokelat tak menjaga; menjajah jahat seolah gagah, gampang tersulut amarah.Embrio organik merah marah dengan barisan teratur sudah tumpah terarah.Dalam jaringan urat nadi mengalir darah, diiringi sumpah jadi senjata
Sajak
“Bagaimana caramu melawan sepi?”, tanyaku layaknya bocah. Seperti biasa, di hadapanmu segala kesoktahuanku luruh, siap mendengar apapun yang akan kau ucapkan. Engkau menghisap puntung rokokmu lebih dalam dari sebelumnya, tertawa
Investasi terbaik adalah kesehatan.Ketika ingin pergi ke tempat tujuan yang kita dambakan, berharap nyaman, aman, bahkan elegan.Ternyata, kenyataan tak seperti itu, Kawan. Ini hutan yang sangat gelap memikat.Di dalamnya, ada
“Bu, kenapa kelapa berwarna hijau?” Ibuku, yang tengah sibuk menyeruput kelapa, menoleh dan menjawab; “Hijau itu tanda kelapa masih muda, Nak. Penuh dengan air, penuh dengan harap, penuh dengan mimpi.
Jariku melahap hal yang sia-sia di jalur timeline, aku menjadi orang yang tidak bisa berpikir sebagai manusia.Minggu ini khalayak dikagetkan, ada juri yang sangat bebal.Cerdas cermat yang beredar di media
Kedipan mata menghindari sinar;Dalam helm, kudengar petikan senar.Putar setir, gas memenuhi pajak,pijak harta kota berlabel adu tahta. Kepulan gosip mengiringi putaran roda;adu nasib sudah tak terbendung, tinggalkan noda. Tangan satpam
Memang ibu-bapak tak sempurna.Ibu melahirkan, bapak mencari pakan,tanpa hiraukan apa pun di depan.Mereka berjuang untuk menjadikan kita orang mapan dan rupawan. Memang aku pertama dalam kandungan.Tidak butuh waktu lama, cara






