“Bu, kenapa kelapa berwarna hijau?”
Ibuku, yang tengah sibuk menyeruput kelapa, menoleh dan menjawab;
“Hijau itu tanda kelapa masih muda, Nak. Penuh dengan air, penuh dengan harap, penuh dengan mimpi. Dagingnya lembut, terlalu lembut untuk bertahan di bawah hantaman besi.”
“Memang, kelapa punya daging?”
Tanyaku bodoh layaknya remaja-remaja tanggung yang berdiri kaku pada barisan, terlalu polos nan kosong bak bangku-bangku di gedung sana.
“Ada, Nak,” ucap Ibu lembut. “Irisan putih yang kau santap itu, itulah daging kelapa.”
Namun kepalaku yang kekanak-kanakan bertanya: bukankah daging seharusnya berwarna merah muda? Bukankah daging hanyalah seonggok sapi mentah?
“Bu, mengapa daging ini
tidak merah muda?”
Seketika wajah Ibu Pertiwi muram.
Suaranya yang lantang mendadak lirih,
senyumnya terpaksa,
bersembunyi di balik luka.
“Warna merah pada daging yang kau kenal itu, Sayang, menandakan adanya darah yang tersisa.”
Dan kulihat air mata jatuh di pipi Ibu,
suaranya bergetar,
walau jiwanya tak pernah gentar:
“Tidak seharusnya ada darah
yang tertumpah di pulau kelapa”
— Puan
2 September 2025