Lorong bawah menyeretku pada lantai pucat berlangit lampu remang.
Ruang yang sunyi, tapi menabuhkan godam di kepala.
Kepala yang berisik menjadi lega saat berjumpa rekan, yang mengisi hari-hari dengan tawa dan bahagia.
Bahagia malam ini kupikir karena si lengkap sate apjay, nyatanya aku selalu dilempar senyum yang mengulang tentang jatuh cinta, kamu merona.
Merona rasa sakit bekas luka tusuk ini berubah drastis seketika. Saat aku berada dalam ruang bahagia bernama Penalis.
Senyum di wajah strawberry menjelma penawar, memeluk lengan yang luka, menjaga kata-kata.
Kata yang terhimpun menjadi kalimat indah ini ingin kuberikan pada masa depan. Agar dunia dan kita melekat seumpama waktu menunjukkan kuasanya.
Kuasanya menunjukan betapa dirimu begitu indah sekalipun aku memejamkan mata. Dirimu selalu hadir dalam jendela mimpiku yang begitu indah bagai purnama di tengah lautan.
Lautan perasaan ini terlalu luas tak berujung, mustahil untuk aku berenang ke tiap sudutnya. Tapi itulah bagian serunya, akan selalu ada ruang untuk aku bereksplorasi sampai akhir waktu nanti.
Nanti akan ada saatnya menuai hasil. Hasil yang dituai dari proses yang panjang. Eksplorasi dalam dunia sendiri lebih menghanyutkan daripada sekadar mengikuti arus dalam dunia orang lain.
Malam semakin bergegas meghempas rembulan yang tak luput dari penglihatan
Malam itu, kami bersinar seperti bintang yang siap jatuh ke daratan
Malam itu kami hadir penuh dalam hal membersamai
Penuh ceria
Penuh cerita
Penuh juga lambungnya
(Lia, Anggi, Meong, io, Jax, Bahar, Revan, Tama, Fada, Ocha)
Bloc M
1 Jul 2026