Sastra

Di Antara Rembulan dan Sesak Pikiran

Lagi dan lagi
ketika purnama kembali menampakkan wajahnya
kembali pula ribuan, jutaan atau bahkan miliaran tanya
yang datang tanpa mengetuk pintu kesadaran.

Masing-masing adalah belati
yang memilih membunuh perlahan
hingga malam tak lagi menjadi tempat beristirahat
melainkan ruang pengadilan
bagi pikiran yang tak pernah selesai bersaksi.

Terlalu riuh untuk memejamkan mata.
Namun sunyi pun bukan penawar.
Sebab dari kesunyian
lahirlah pertanyaan-pertanyaan
yang bahkan lebih nyaring daripada keramaian.

Seberapa besar harus kupeluk mimpi
agar ia sudi memelukku kembali?
Akankah hari-hari mengantarkannya menjadi nyata?
Apakah semesta pernah menuliskan restu
di sela-sela garis takdir kita?

Akankah semuanya berujung dengan damai,
atau justru berujung
dengan kata yang tak pernah sanggup kuucapkan?
Apakah mereka memandangku sebelah mata
atau sesungguhnya aku sendiri
yang tak pernah mampu menatap diriku utuh?

Apakah.
Apakah.
Apakah.

Barangkali terlalu banyak tanya dan terlalu sedikit keberanian untuk menerima jawaban.

Terlalu egois rasanya
meminta seseorang memahami luka-luka diri ini
sementara kita sendiri
masih tersesat mencari nama
bagi diri yang setiap hari berubah rupa.

Ketika fajar
ia menjelma kura-kura
yang memikul dunia di atas tempurungnya.

Ketika purnama,
ia menjadi burung hantu
yang menghafal gelap
lebih fasih daripada cahaya.

Lalu siapakah sebenarnya aku?

Betapa kejam dunia.
Ia menuntut kita mengenali diri sendiri,
sementara hidup terus mengubah wajah.

Hari ini seseorang menyantap nasi dan ayam
dengan doa yang masih utuh.

Esok,
ia mungkin memungut remah dari tempat sampah,
menelan lapar
bersama sumpah serapah yang tak lagi didengar oleh langit.

mungkin
yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan angan.
Melainkan menyadari
bahwa di bawah purnama yang sama,
kita tetap pulang
sebagai orang asing
bagi diri kita sendiri.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *