Sastra

Manusia Hina Mengetuk Rumah

sayup-sayup mata beranjak dari penatnya melihat
ia lekas membersihkan dosa yang melekat di jubah kebanggan
liur yang menagih janji dan mulut dengan mudah bersumpah
dirinya yang menganggap benderang, bagaikan purnama dalam gelapnya malam

cinta-ku masih melekat dalam sarung bantal
hasrat menggebu-gebu membekas dalam selimut tebal
semua keinginan tersimpan dalam dekapan guling
keputusan diambil dalam ruangan sempit yang hening

aku pulang menggenggam topeng kelam
pikiran negatif membayangi diriku berjalan
sebenarnya itu hanya himpunan dari ketakutan
yang tersusun karna merasa tertolak

mereka masih menganggapku bagian kepingan puzzle
yang berhamburan ke sudut gelap dalam ruangan
mereka masih menyusunku dengan tempatnya
menjadikan sebuah karya seni yang elegan

sudah kokoh tekadku berdiri
takdirpun terpaku tak bisa mengintervensi
sang purnama berhasil menenggelamkan fajar
mengais iba yang berceceran di tempat sampah

rasa cinta-ku lebih besar daripada gunjingan penjilat
pilihanku tak mungkin keluar jalur takdir
tak berhak mereka memasak dalam dapur rumahku
jalan yang ku lalui tak pantas kau halangi

Like 14
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *