Populer

Hoream Heureuy

“moal kitu atuh pakk” bantah mahasiswa

Entahlah, saya ini suka nulis, hampir setengah dari masalah yang saya hadapi selesai ketika saya menulisnya. Jauh sebelum saya tau apa dan untuk apa saya menulis, saya sudah suka menulis. Rasanya, harus ada yang saya lakukan atau gila sebab isi kepala yang makin berisik. Asal kamu tahu, cara saya meregulasi emosi selain dgn menulis, – kurang baik. Tak sepertimu, tak seperti penulis lain.

Kemampuan individu dalam mengelola emosi seperti perasaan benci, marah, dendam, jengkel, cemburu, atau justru rasa suka, cinta, senang, dll, dll, – menjadi sesuatu yang rumit akhir-akhir ini, sekali lagi, tak seperti orang dulu, tak seperti 2 atau 3 dekade yang lalu.

Jika kamu perhatikan, orang marah, sedih, ngeluh, dll, dll tak hanya di jalanan, di kantor, warung, atau di tempat-tempat ibadah. Semuanya ada di sosial media. Kita melihat sekaligus merasakan emosi yang begitu kuat di sosial media. Atau justru dari sosial media orang jadi gampang emosional? Emosi media? Hmm

“Bapak harusnya tak membicarakan sesuatu yang bisa membuat orang patah hatinya. Sains yang saya baca mencerahkan bukan menghancurkan” tambah mahasiswa.

Sejak lahir, manusia dibekali akal untuk bernalar, dan itu yg membedakan kita dengan mereka. Sejak lahir, manusia menyimpan curiosity-nya dalam bentuk pertanyaan. Semua anak-anak menanyakan apa saja yang mereka lihat, dengar dan rasakan tanpa rasa takut. Lalu setelah dewasa, pertanyaan itu memudar bersama ketidak-beranian melihat realitas. Melihat realitas, hmmm…
tak sekedar melihat.

Curiosity menjadi instrumen dasar bagi otak manusia. Saya cukup memahami, bahwa tak semua hal harus kita ketahui. Istilah lama menyebutnya “Ignorance is Bliss”. Barangkali, fakta bahwa pasangan kita tak mencintai kita tidak perlu kita ketahui, barangkali fakta bahwa pasangan kita juga berkencan dengan orang lain cukup dia dan Tuhan yang tahu. Fakta bahwa kamu sedang dikerjain, bukan berkerja, fakta bahwa atasanmu seorang psikopat, pejabatmu seorang koruptor, sekali lagi, cukup dia dan Tuhan yang tahu.

“equality before the law”. Yes. I know.
“but different for salary”

“Not different”, he says
this deprivation”, Oh shiitt.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *