Kegelisahan datang lebih dulu
sebelum cinta sempat kupeluk.
Ia tumbuh dari hari-hari
yang memaksa manusia kuat
tanpa memberi ruang untuk rapuh.
Cinta, di kota ini,
sering diuji oleh keadaan:
oleh jarak,
oleh upah yang tak cukup,
oleh waktu yang selalu kalah
dari tuntutan hidup.
Kami saling mencintai,
namun dunia seolah tak memberi izin.
Ketidakadilan berdiri tenang di tengah jalan,
menyuruh kami memilih:
bertahan atau menyerah.
Yang lemah diminta sabar,
yang kuat bebas menentukan arah.
Cinta pun sering kalah
oleh aturan yang tak mengenal perasaan.
Maka kegelisahan menjadi bahasa bersama:
tentang rindu yang ditunda,
tentang janji yang harus menunggu stabil,
tentang hati yang setia
namun hidup tak ramah.
Aku mencintai tanpa jaminan,
hanya dengan keyakinan rapuh
bahwa suatu hari,
dunia akan sedikit lebih adil
pada orang-orang
yang mencinta dengan jujur.
Jika kelak kegelisahan ini reda,
bukan karena ketidakadilan hilang,
melainkan karena cinta
masih berani bertahan
menjadi bentuk perlawanan paling sunyi
di tengah dunia yang tak pernah benar-benar adil.