Satu diksi yang terlintas malam ini adalah “Rumit”.
Hidup dalam sebuah fase beranjak dewasa nyatanya sebuah permulaan yang rumit. Permulaan dalam proses menemukan diri sendiri, kau harus menemukan sayapmu dan belajar untuk terbang mengarungi kehidupan.
Kau akan merasakan jatuh bebas tanpa bobot yang terelakkan, kau mungkin juga merasa seperti kehilangan sesuatu namun tidak tahu apa dan dimana.
Kemudian suatu hari kau menyadari apa yang hilang adalah dirimu sendiri. Mungkin dunia menatap kau berbeda, terlihat seperti awal kebebasan, namun nyatanya banyak suara saling bersautan seperti sedang berperang di dalam kepala.
Semakin beranjak dewasa hal yang dipikirkan semakin banyak, yang dikhawatirkan selalu ada, masalah akan datang beriringan seperti bebek yang sudah berbaris rapi di belakang induknya.
Permulaan menjadi sebuah proses, di satu sisi kau merasa ingin mati lebih cepat bersamaan dengan bintang yang jatuh dan menyala terang sehingga kau ikut terbakar.
Di sisi lain suara-suara di kepala selalu memerintah memaksa kau untuk memilih bangkit atau menyerah. Pada dunia yang semakin hari terasa membuncah dan kau harus berkawan dengan dunia yang sudah kehilangan arah. Tidak ada pilihan lain, nikmati semua itu walau terasa jengah, mungkin kau akan tertawa walau hanya sebentar.
Jangan terburu-buru menyerah pada waktu yang salah, sekali pun air mata berubah menjadi darah, berbaringlah kalau-kalau raga sudah lelah.
Pemeran tidak boleh menyerah begitu saja, kau harus terus beranjak.
Berproses, jatuh, terkulai, bertahan lalu bangkit hingga kau menemukan titik dimana kau akan merasa baik-baik saja.
Pada akhirnya ini semua hanya permulaan, kau harus tetap melangkah sampai ke puncak karena semua hal yang rumit akan berubah indah pada waktunya.