Emosiku menjelma bom waktu
Berlipat ganda
Lepas kendali pagi tadi
Meledak, meletup-letup
Aku seperti terkunci
Tersungkur sendiri
Dalam dadaku yang tak seberapa besarnya
Tertunduk diam menyaksikan emosiku,
mengambil alih otoritas tubuh
Sekujur tubuhku memanas
Bom itu benar-benar ada
Mengeluarkan segala kegetiran
Sudut bibir yang tak henti bergetar
Menandakan betapa lama,
menahan gundah resah
Juga ketidaksetujuan yang tak bisa disampaikan
Hah hah hah..
Aku terengah engah
Kesadaranku hampir terenggut
Dadaku makin terasa sesaknya
Kata-kata penghakiman memenuhi pikiran
Aku,
Aku boleh salah?