PopulerSastra

Cara Manis untuk Berpisah

Pernahkah kalian berfikir cara terbaik untuk mengucapkan selamat tinggal? Bukan karena kalian akan pergi jauh berpindah tempat tinggal, melanjutkan hidup seperti orang dewasa lainnya.
Tapi bagaimana jika kita tidak pernah menjadi yang benar dewasa? Bisa saja batas hidup membawa kita pada usia 32 tahun saja, tahun ini.
Seketika terbesit

“bagaimana cara untuk mengucapkan selamat tinggal dengan benar ya? jika ini adalah tahun terakhirku, ku harap akan banyak cinta di setiap ingatannya”

Entahlah, bukan karena aku takut mati, tidak sama sekali.
Bukan juga karena aku melihat tulisan tentang “siapa yang akan paling lama duduk terdiam di makamku”.
Juga bukan karena aku ingin mati secepat itu, bukan.
Hanya saja, aku tidak pandai dalam mengucapkan selamat tinggal.

Aku kembali memutar rekam ingatan pada kepalaku, mengingat kembali bagian — bagian paling manis dalam hidupku.
Cukup banyak yang dapat aku ceritakan nanti, mungkin pada seseorang atau sekelompok malaikat disana. Atau mungkin akan aku bayangkan ketika duduk sepi di pinggiran Surga bersama kucingku, Lexi.
Mengelus-elus bulu lembutnya sambil berkata;

“Lexi inget ga sih sama ini? apa mereka sekarang sudah menua dan beranak pinak ya? ahh pasti mereka sudah sangat bahagia dengan jalan yang selama ini susah payah diwujudkan. Apakah aku boleh merindukan mereka? bagaimana ya cara menyapa mereka lewat mimpi? atau mungkin jangan saja? aku takut mereka akan bersedih”.

Oh tunggu, dialog itu hanya akan terjadi jika Lexi juga pergi bersamaku di tahun yang sama. Tapi aku juga masih berdo’a semoga Lexi memiliki hidup yang lebih panjang dan memanfaatkan ke-sembilan nyawa yang Tuhan berikan, bukankah itu akan lebih baik?
Tapi dengan siapa Lexi akan tinggal jika tidak denganku? Apakah menjadi kucing jalanan? Jangan, Lexi tak pernah kuajarkan untuk mencari makanannya sendiri. Aku harap, jika sependek itu hidup yang aku punya, semoga Lexi berada di tangan yang mampu menahan gigitan dan tendangannya yang sangat kuat itu.

Dan mungkin aku memang harus ditakdirkan sendiri di tempat ini, kalau kata .Feast “berjumpa lagi disana aku tetap sama” jadi aku pastikan untuk berjanji menunggu semua orang yang aku sayangi.

Tapi sebelum itu, bagaimana cara mengucapkan selamat tinggal tanpa rasa sedih, kecewa atau terluka dan marah? Aku masih mencari banyak alasan untuk hidup namun terkadang di ujung persimpangan rasanya terjun bebas juga tak masalah.

Aku ingin berpisah dengan cara yang sangat manis, mungkin seperti permen kapas di pasar malam, banyak warna cantik dan sangat disukai.
Aku ingin berpisah dengan cara paling sederhana tanpa membuat siapapun bertanya apa sebab kepergianku yang begitu cepat.
Aku ingin menjadi yang paling diingat saat orang — orang melihat kupu — kupu, oh atau pita yang begitu cantik dengan dress ala daydream.

Bagaimana jika aku bagikan bunga matahari pada setiap manusia yang aku kenal dan temui? tidak harum tapi mungkin akan membawa rasa sedih yang lebih lama, oke jangan kalau gitu.

Bagaimana dengan rekam suara dan tingkah anehku saat salah tingkah atau malu? mungkin agak cringe tapi bukankah artinya mereka tidak akan pernah melupakan suaraku? ah ini juga cukup sedih, oke cara ini kita skip dulu.

Ah sialnya aku belum cukup kaya raya untuk menemui mereka satu persatu dan berpamitan dengan pelukan hangat dan senyum manis, setidaknya mereka akan lebih dihargai ketimbang mendengar namaku dari panggilan ke panggilan lain, atau flyer ucapan dengan foto yang jelas pasti bukan pilihanku. Huh.

Lalu, bagaimana ya cara berpamitan pada Ayah dan Ibuku serta adik — adikku? sudah lama kami memilih jalan hidup masing — masing, perpisahan Ayah dan Ibu membuat kami tidak lagi terikat batin dengan kuat. Lagi pula apakah mereka akan bersedih ya? tapi aku kan ingin mengucapkan selamat tinggal dengan menjadi anak baik mereka, kakak yang sangat kuat dan tangguh, juga seperdarahan yang setidaknya aku pernah satu meja makan bersamanya.

Lalu bagaimana cara mengucapkan selamat tinggal pada seseorang yang sedang aku perhatikan diam — diam? sedangkan menyapanya saja aku perlu mengumpulkan banyak keberanian dan menyingkirkan jauh — jauh rasa gengsi ini. Apa yang akan terlintas dalam kepalanya jika ternyata aku memiliki rasa ketertarikan yang tidak biasa? iya tidak biasa. Karena aku tengah bertahan diatas tanah kering yang tak pernah disiram selain jika itu karena hujan, selebihnya aku hanya menunggu untuk benar — benar tanggal.

Jika nanti aku benar harus pergi dari hiruk pikuk dunia yang amat sangat berisik ini, semoga Tuhan memberi kesempatan untukku menjadi Peri.
Meski beberapa orang berkata itu aneh dan tidak mungkin, tapi bukankah Tuhan selalu dengan keajaiban-Nya.

Namun jika memang tidak, mungkin aku ingin jadi semanggi berdaun empat. Sendiri diantara semanggi berdaun tiga, aku akan menjadi yang paling istimewa untuk terus dicari oleh mereka — mereka yang percaya pada keajaiban. Semanggi yang paling diharap agar dapat ditemukan dan mereka menemukanku diujung rasa putus asanya. Aku akan menjadi semanggi yang membawakan banyak senyum, rasa bahagia dan cinta yang tak ada habisnya. Atau menjadi teman kala mereka merebahkan diri, melayangkan jemari berharap dapat menyentuh awan sambil membayangkan bagaimana dunia yang paling diimpikan itu. Ya, aku mau menjadi bagian terbaik dari sisi bahagia dan syukur itu. Namun jika mereka hanya ingin ditemani saat hujan turun, aku siap menjadi teduh yang tidak seberapa itu. Menikmati tiap rintik hujan hanya untuk menyamarkan air mata dan membasuh luka tak berdarah namun sangat perih.

Aku benar — benar tak mengerti bagaimana cara mengucapkan selamat tinggal yang manis.
Adakah cara agar aku kekal dalam ingatan baik dari setiap manusia yang mengenalku.
Dan semoga setiap luka yang tak sengaja aku gores dengan ucapan, tatapan juga perilaku buruk dapat dimaafkan secara ikhlas.

Aku hanya ingin berpisah dengan cara paling manis yang pernah ada, bantulah aku untuk itu.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *