pada siapa kamu melepas tangis?
diriku.
juga pada motor atau mobil yang kukendarai.
juga pada dinding kamar yang berantakan.
juga pada bilik toilet kantor.
juga pada turun hujan.
pada diriku sendiri.
mulanya satu, dua, tiga-hingga seterusnya. tangisku pecah, tak beraturan sebabnya.
mungkin ia terlampau lelah; batinku, ragaku. hingga percakapan itu sampai pada kedua mataku, lalu lahirlah tetesan air berupa pilu yang tak pernah terucap.