Sastra

Surat Kencan Setelah Puasa Puisi

Aku memainkan lagu Vina Panduwinata di teras rumah usai kencan pertama kita di sore tadi.

Aku masih mengingat semua tingkah jenakamu yang lucu dan sedikit konyol sembari duduk bersandar di kursi coklat tua terasku.

Di pemberhentian pertama dikala siang nan terik, aku mengajakmu singgah ke kedai kopi tua yang dipenuhi piringan hitam, gramofon serta alunan musik lama. Kau nampak terkesima dikala aku menjelaskan betapa diriku mengagumi mendiang Richie Ricardo, Benyamin Sueb, Bing Slamet serta musisi legendaris tanah air lainnya.

Pemberhentian kedua sungguh kontras. Kau mengajakku berbelanja makanan di swalayan dilanjutkan menjelajahi miniso yang dipenuhi berbagai benda dan mainan lucu menggemaskan (walau tak se-menggemaskan dirimu) serta iringan lagu boyband Korea yang sedang marak digandrungi gadis-gadis macam dikau. Kau menjelaskan bahwa dirimu sangat menyukai Stray Kids, Seventeen, Treasure, Enhypen sedangkan aku hanya menyimak sembari berusaha memasang muka antusias.

Pemberhentian ketiga, di sebuah taman kota. Orang-orang disana juga tak terlalu banyak dan saling tak acuh sehingga suasana di sore itu menjadi sedikit intim dan mesra.

Kita berbicara tentang masa kecil hingga masa depan, berbicara bahasa “gugu gaga gina ginu” yang menggemaskan. Juga tak luput memaki dunia yang semakin lama semakin dipenuhi oleh situasi politik yang panas serta ketidakstabilan kondisi di berbagai sektor. Kita habiskan sore itu untuk berkelakar mesra dengan tawa yang menggelegar.

Rasa-rasanya dunia berhenti sejenak ketika kau mengucapkan kalimat sakti mandraguna itu. “Aku sayang kamu” ucapmu dengan intonasi lembut dan laku agung yang tulus. Lekas mataku langsung berbinar bahagia dengan senyum lebar sumringah yang merekah. Aku sontak langsung menggenggam tanganmu dan kau langsung merebahkan kepalamu ke pundakku.

Seiring berjalannya matahari ke ufuk barat, suasana semakin hangat dikala kau tiba-tiba mencium keningku tepat ketika matahari terbenam. Disusul dengan aku yang spontan menyanyikan lagu Peter Cetera – Glory of Love yang tentunya ku nyanyikan setelah adzan maghrib berkumandang.

Matahari sudah terbenam. Lantas, berakhirlah sudah kemesraan sore tadi. Walaupun kemacetan lalu lintas perkotaan dan klakson kendaraan seolah memaki kemesraan kita di jalan pulang, pelukanmu di motorku yang erat di belakangku seolah mengubah semuanya menjadi lebih baik. Kita melintasi jalanan ibu kota yang dipenuhi gedung bertingkat serta udara malam yang kian menyejukkan. Lampu kota juga mulai menghiasi hari yang sudah mulai malam seolah mengiringi kepulangan kami.

Hingga sampailah detik ini aku pulang dan memainkan lagu Vina Panduwinata yang berjudul “Surat Cinta” sembari merokok di teras rumah menghiraukan ajak ibuku untuk makan malam dan bercerita tentang pertemuan kita tadi. Sekarang aku sedang menuliskan puisi ini yang nantinya entah ku kirimkan kepadamu, atau aku bacakan di depan teman-teman ku. Ah, peduli setan dengan itu.

Kau tahu? aku sudah lama tak menulis puisi. Karena hasratku padamu lah yang menuntun jemari ku kembali untuk menari dengan diksi.

Sungguh, aku juga sayang padamu. Aku tak sempat membalas ucapanmu di taman tadi karena hatiku kepalang senang bukan main. Jika terjadi banyak kesalahan struktur, kata, ejaan dan lainnya dalam puisi ini, salahkan saja kepada gadis yang kucintai ini.

Wahai Juwita. Jika kau sudah membacanya sampai baris ini, kau beruntung manisku. Kisah kita sudah dilihat oleh banyak orang. Usai sudah puasa puisi ku kini diakhiri dengan kencan pertama kita.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *