SEBUAH SENI DAN MANUSIA GILA
Bahkan seni bisa lahir dari jiwa-jiwa yang kau sebut gila
Lahir dari sakit ataupun tanya yang tak ada habisnya
Lahir dari kesenangan yang sementara
Menjadi abadi hanya jika kau tutup usia
Hari ini sebuah karya bisa jadi dianggap tak seberapa
Namu kelak 100 tahun usianya
Bisa kau hitung dari atas langit sana
Seberapa banyak karya itu jadi buah bibir manusia
Para manusia yang tak mau ketinggalan berita, berlomba menikmatinya
Pada karya yang tak hanya menjual rupa
Akan ada kisah yang mau dibagi
Begitu banyak yang ingin mengetahui
Sambil menarik keluar rasa yang tersembunyi dan belum sempait dinamai
Rasa yang tadinya ingin disimpan sendiri
Namun menyadari
Bahwa hidup tidaklah tentang sendiri
Banyak karya yang lahir dari keputusasaan
Seusai usaha yang katanya sia-sia
Sang pencipta yang sabar menunggu lama
Sambil bertanya, kapankah harinya?
Mengapa hanya jika tinggal nama yang tersisa? mereka baru berkata,
“Dia Luar Biasa”
Sebegitu besarnya harga tuaian untuk sebuah kesedihan yang bertahan selamanya
Jika hari ini ada usaha dan hidup yang terasa sia-sia
Mungkin hanya mati yang akan meninggalkan sedikit warna
Bersyukur bila benar-benar berubah jadi makna
Bilamana aku menyatu dengan langit malam
Kau temui saja aku dalam bintang yang paling cemerlang
Bilamana aku menyatu dalam angin malam
Kau rasakan saja hembusan yang paling dingin itu
Bilamana aku menyatu dalam ruang angkasa
Sesekali kau lihat benda langit paling terang di atas sana
Bukan bintang
Tetapi venus yang sedang ingin dikenang
Suatu hari, akan ada paham dan ruang untuk manusia
Ruang merasa dan menerka cerita lama
Perihal malam yang jauh lebih indah dari siang
Perihal cahaya yang jauh lebih benderang
daripada terik yang menyelimuti siang
Rasa baru akan muncul dalam hatimu
Perihal sebuah seni dan hikmat dari si manusia gila
KU URAI SEMUA TANYA ATAS KETIDAKTAHUANKU DI DALAM TULISAN
Tulisan-tulisan yang akan kau baca setelah ini bukanlah sebuah petuah yang perlu kau terima mentah-mentah. Aku menuliskan lalu membagikannya bukan karena aku punya sesuatu yang hebat untuk dibanggakan, tapi justru karena ada terlalu banyak hal dalam hidupku yang rasanya tidak pernah benar-benar selesai kupahami dan hanya berakhir di atas lembar putih atau post it berwarna yang tercecer tapi tidak berantakan.
Ada begitu banyak rasa yang selama ini hanya mondar-mandir di dalam kepalaku. Rasa yang tinggal terlalu lama di dalam tubuh, namun tidak pernah benar-benar menemukan bahasa yang tepat untuk mengeluarkannya secara ringkas tetapi tetap utuh.
Bisa dibilang selama bertahun-tahun aku hidup seperti banyak orang lainnya. Berusaha terlihat baik-baik saja. Berusaha menjalani semuanya dengan benar. Berusaha menjadi versi diri yang dianggap matang, kuat, sadar diri, dan tahu arah hidupnya ke mana. Aku memakai banyak kata yang terdengar dewasa untuk menjelaskan diriku sendiri. Seperti “aku sudah menerima”, “aku mengerti”, “aku harus kuat”, “aku ikhlas”. Tetapi anehnya, semakin sering kata-kata itu kuucapkan dan berusaha kuimani, semakin aku merasa ada bagian kecil dalam diriku yang justru diam-diam menjauh dan meninggalkan diriku sendiri.
Bukan karena aku sengaja membohongi diriku sendiri. Aku cuma belum tahu cara lain untuk memahami diriku selain memakai bahasa yang selama ini diwariskan oleh banyak orang di sekitarku sedari masa kecilku. Bahasa yang terdengar benar, terdengar tenang, terdengar matang. Tapi ternyata tidak selalu terasa hidup ketika benar-benar disentuhkan ke dalam pengalaman pribadiku. Seperti saat aku mulai mempertanyakan suatu quotes yang banyak penggemarnya. Katanya “Cintailah dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain”. Bagiku terasa aneh dan tidak relevan. Karena sampai detik ini aku masih belum mendapatkan jawaban mutlak atas pertanyaan “Apa itu cinta”. Pun rasanya aneh. Bagaimana aku bisa belajar dan tahu rasanya mencintai diri bila selama ini aku tidak pernah benar-benar merasa dicintai tanpa syarat. Dalam konteks ini jangan dulu kau libatkan Kasih Agape dari Tuhan. Itu sudah berbeda lagi jalurnya.
(Kuharap sampai disini kau belum terlalu bingung, ya)
Ada masa ketika aku mulai merasa lelah dengan semua itu. Lelah karena terus mencoba menjelaskan hidupku dengan kata-kata yang bahkan tidak benar-benar kurasakan sepenuhnya. Lelah karena terlalu cepat menyebut diriku “baik-baik saja”, padahal tubuhku sendiri seperti terus memberi tanda kalau ada sesuatu yang belum selesai. Ada malam-malam ketika pikiranku penuh, tapi aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya sedang membuatku sesak. Kalaupun tahu alasannya, masalah baru muncul lagi, dimana aku akan kebingungan cara meredam sesaknya. Ada hari-hari ketika aku tetap tertawa, tetap bekerja, dan tetap berbicara dengan orang lain seperti biasa, tapi di dalamnya aku merasa seperti sedang membawa sesuatu yang berat tanpa bentuk yang jelas. Keberadaanya seperti sesuatu yang besar tetapi buruk, persis seperti mimpi ketika kau demam lalu terjatuh begitu saja dari atas tempat tidur. Dan mungkin bagian paling membingungkan dari semua itu adalah karena dari luar hidupku terlihat normal-normal saja. Aku masih bisa menjalani hari. Masih bisa berbicara dengan orang lain. Masih bisa bekerja. Masih bisa terlihat tenang. Tapi semakin aku bertumbuh, semakin aku sadar kalau seseorang bisa terlihat sangat “baik-baik saja” sambil diam-diam kehilangan kedekatan dengan dirinya sendiri.
Aku mulai sering mempertanyakan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah kupikirkan. Seperti, alasan mengapa aku begitu mudah mengatakan “aku tidak apa-apa” bahkan sebelum benar-benar memeriksa perasaanku sendiri. Mengapa aku lebih cepat memahami orang lain dibanding memahami diriku sendiri? Mengapa aku begitu takut terlihat lemah? Dan mengapa rasanya aku terus berusaha menjadi sesuatu, tapi tidak pernah benar-benar merasa pulang ke diriku sendiri lalu merawatnya?. Pertanyaan-pertanyaan itu awalnya tidak datang sebagai kalimat yang besar. Mereka datang seperti rasa ganjil yang sulit dijelaskan saja. Seperti memakai pakaian yang ukurannya hampir pas, tapi selalu terasa sempit di bagian dada. Seperti menjalani hidup yang terlihat berjalan baik, tapi ada bagian kecil dalam diri yang terus berbisik pelan, “Rasanya ada yang tidak selaras.”
Semua perasaan itu semakin lama semakin semarak hinggap dalam hati dan pikiranku setiap hari. Aku tidak langsung menemukan jawaban dari semua itu. Bahkan sampai sekarang pun mungkin aku masih belum benar-benar menemukannya. Tapi perlahan aku mulai belajar satu hal kecil yang ternyata sangat sulit dilakukan. Yakni, aku hanya perlu berhenti sebentar sebelum benar-benar menamai segala sesuatunya ke dalam satuan diksi-diksi yang erat kaitannya dengan perasaan. Tak terburu-buru menamainya dengan kata-kata yang bisa kau temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sayangnya, tidak ada Kamus Besar Bahasa Kalbu, ya.
Aku hanya perlu berhenti sejenak sebelum buru-buru menyebut diriku kuat.
Berhenti sejenak sebelum menyebut diriku sembuh.
Berhenti sejenak sebelum mengatakan aku sungguh mengerti.
Berhenti sejenak sebelum memaksa segala sesuatu terlihat selesai.
Dan di titik itu aku mulai sadar, bahwa inti dari semua itu adalah, jeda.
Mungkin selama ini aku terlalu terbiasa hidup dengan jawaban-jawaban cepat karena takut menghadapi ruang kosong di dalam batin dan pikiranku sendiri. Padahal mungkin, menjadi kosong sesekali pun tak apa-apa bukan? Menurutku. Karena mungkin, tidak semua rasa harus segera disimpulkan lalu menjadi sebuah jawaban, bukan?. Barangkali ada rasa yang memang perlu dinikmati dulu. Ada luka yang perlu dipahami pelan-pelan. Ada bagian dalam diri yang mungkin tidak butuh diperbaiki secepat itu, hanya butuh didengar tanpa buru-buru dihakimi.
Di titik itu aku jadi sering teringat pada kisah Vincent van Gogh. Tentang bagaimana ia melukis bukan karena hidupnya rapi, tapi justru karena ada terlalu banyak hal di dalam dirinya yang tidak sanggup ia biarkan menguap begitu saja. Ia tidak selalu bisa menjelaskan dirinya lewat kehidupan sosial yang normal atau percakapan yang sederhana. Tapi lewat warna, sapuan kuas, langit malam, kursi kosong, ladang gandum, dan bunga matahari. Ia seperti sedang mencoba berkata “Aku juga sedang berusaha memahami hidup.” Dan mungkin itu yang membuat karya-karyanya terasa hidup sampai hari ini. Bukan karena semuanya sempurna, tapi karena ada kejujuran tersembunyi yang tinggal di sana.
Aku merasa sangat dekat dengan hal itu. Bukan karena aku ingin menyamakan hidupku dengan Vincent van Gogh, tapi karena aku mengerti rasanya hidup dengan terlalu banyak rasa yang sulit dijelaskan lalu berusaha mencari media atau wadah hanya supaya rasa itu keluar dahulu dari dalam diriku. Rasanya seperti mencoba menerjemahkan sesuatu yang bahkan diri sendiri belum sepenuhnya pahami bahasanya. Kadang aku berpikir, apa mungkin manusia memang selalu berusaha “memberi nama” pada hidupnya supaya kita tidak merasa terlalu tersesat. Ada yang melakukannya lewat lukisan. Ada yang lewat musik. Ada yang lewat doa. Ada yang lewat diam. Dan aku, lewat tulisan-tulisan ini.
Seumpama langit malam milik Van Gogh yang tetap indah meski berputar liar dan tidak tenang, mungkin seharusnya manusia juga tidak butuh selalu rapi untuk tetap memiliki makna dan merasa hidup.
(Kuharap sampai disini kamu hanya akan merasa ada yang menemani perjalanan sakit atau sehatmu, bukan menggurui, ya)
Lalu di tengah fase itu, semesta menuntunku untuk bertemu dan berkenalan dengan Montessori. Awalnya aku tidak melihat Montessori sebagai sebuah metode yang seharusnya menjadi dasar dari sebuah sistem pendidikan. Saat itu, Montessori hadir sebagai metode pendidikan yang hanya ingin kupelajari sedikit-demi sedikit tanpa ambisi serta ide dan gagasan apapun. Montessori datang seperti seseorang yang diam-diam menepuk pundakku lalu berkata “Kamu butuh menyelamiku dahulu untuk benar-benar berkenalan dengan sosok kecil dalam dirimu itu”
Seiring dengan itu, entah kenapa kalimat-kalimat tentang anak yang kubaca dari beberapa artikel terkait Montessori membuatku merasa bahwa disanalah justru ada hal yang membuatku merasa sangat dekat dengan diriku sendiri. Tentang bagaimana anak kecil yang belajar melalui pengalaman nyata. Tentang bagaimana manusia sebenarnya punya arah pertumbuhannya sendiri. Tentang bagaimana lingkungan bisa membantu seseorang mengenali dirinya tanpa terlalu banyak ditekan.
Aku mulai melihat diriku sendiri di sana. Aku yang kecil. Aku seperti sedang menyadari bahwa mungkin selama ini aku juga hanya seseorang yang terlalu sering dipercepat. Terlalu cepat diminta mengerti. Terlalu cepat diminta kuat. Terlalu cepat diminta selesai dengan luka-luka dan segala ketidaktahuannya. Padahal mungkin hidup seharusnya tidak bekerja seperti itu, ya?. Mungkin beberapa bagian dalam diri memang perlu waktu untuk tumbuh dengan ritmenya sendiri. Dan mungkin ada rasa-rasa yang baru bisa dipahami setelah benar-benar dijalani. Pun, mungkin tidak apa-apa kalau aku belum punya bahasa yang sempurna untuk menjelaskan semua tanya secara bersamaan sekarang.
Semua tulisan ini akhirnya lahir bukan sebagai petuah yang ingin memberi jawaban mutlak tentang hidupku atau hidupmu. Aku bahkan tidak merasa berada di posisi yang layak dan kompeten untuk melakukannya. Tulisan ini ingin ku rancang layaknya ruang kecil tempat aku bisa mencoba lebih jujur terhadap diriku sendiri. Tempat aku berhenti sebentar dari semua tuntutan untuk terlihat baik-baik saja. Tempat aku mencoba memeriksa ulang kata-kata yang selama ini kupakai untuk menjelaskan hidup, perasaan, dan keputusasaanku. Dan mungkin, di balik semua tulisan ini, sebenarnya aku hanya sedang belajar satu hal sederhana. Yaitu perihal bagaimana caranya tinggal lebih dekat dengan diriku sendiri tanpa terus-menerus melarikan diri lewat kata-kata indah yang keluarnya dari mulut saja sebagai usaha menenangkan hati yang sedang kalut.
Kalau suatu saat kamu membaca bagian-bagian dalam tulisan ini, lalu merasa seperti sedang mendengar isi kepalamu sendiri, mungkin itu bukan karena hidup kita sama. Mungkin itu hanya karena sebagai manusia, kita sama-sama pernah berada di titik ketika semuanya terasa terlalu penuh untuk dipendam, tapi juga terlalu sulit untuk dijelaskan. Sialnya, wadah tampungan yang tersedia hanya sebatas kata “Ya sudaah, bersyukur saja dan dekatkan dirimu pada Tuhan”
Dan kalau memang begitu, mungkin kita memang sedang berjalan di jalan yang mirip. Bukan sama.
Menjadi pelan-pelan tidaklah dosa, bukan?
Menjadi pelan dengan pertanyaan masing-masing.
Menjadi pelan dalam sunyi masing-masing.
Menjadi pelan dengan usaha kecil untuk tetap jujur pada apa yang sedang benar-benar kita hidupi hari ini.
SERBUAN TANYA DI BAWAH LANGIT MALAM
Dari sekian banyak malam yang terlewat?
Kapan kamu merasa dekat dengan diri sendiri?
Sudah berapa banyak suara yang berusaha kau redam di dalam kepala?
Seberapa besar luka menganga yang kau coba jahit sendiri?
Pecahan hati dan pikiranmu belum sepenuhnya rapi dan utuh
Pun pada beberapa untaian doa di langit malam, kamu mendapati diri jadi manusia paling rapuh dan tersakiti
Sedangkan hidup sedang keras-kerasnya