Mereka Bukan Gagal, Hanya Tidak Menjadi Legenda
Dunia sepak bola memang melahirkan aktor-aktor hebat. Nama-nama seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Ronaldo Nazário, Marco van Basten, Neymar Jr., Diego Maradona, hingga Pelé akan selalu dikenang sebagai ikon permainan.
Namun, di balik nama-nama besar itu, ada banyak pemain yang perlahan dilupakan.
Bukan karena mereka tidak berbakat, melainkan karena mereka gagal memenuhi ekspektasi yang dibebankan dunia kepada mereka.
Hatem Ben Arfa, Lucas Moura, Dele Alli, Bojan Krkić, Alen Halilović, Mario Balotelli, Jesse Lingard, Michu, Adriano Leite Ribeiro, Mason Greenwood, Jack Wilshere, Theo Walcott, Oscar, Malcom, Ansu Fati, hingga Alexandre Pato.
Apakah mereka benar-benar gagal?
Tidak juga.
Dunia mungkin tidak akan mengenal Lionel Messi seperti sekarang jika Bojan Krkić mampu menghadapi tekanan yang datang sejak usia muda. Keduanya sama-sama jebolan La Masia, sama-sama digadang sebagai masa depan Barcelona. Bedanya, Messi mampu memikul ekspektasi itu. Bojan tidak. Bukan karena ia kurang berbakat, tetapi karena tekanan yang begitu besar perlahan menggerus mentalnya.
Messi memiliki segalanya: akselerasi, body feint, teknik, visi bermain, umpan, hingga penyelesaian akhir. Namun, yang membuatnya berbeda bukan hanya bakatnya, melainkan kemampuannya bertahan di bawah sorotan jutaan pasang mata.
Lalu ada Balotelli, Ben Arfa, Dele Alli, dan Greenwood. Nama-nama yang pernah membuat penonton berdecak kagum. Teknik mereka berada di level yang membuat orang mengingat Neymar, Ronaldinho, bahkan Jay-Jay Okocha.
Mereka bukan gagal karena tidak bisa bermain sepak bola. Mereka gagal karena tidak mampu mengalahkan diri sendiri. Disiplin, konsistensi, dan keputusan di luar lapangan sering kali menjadi lawan terbesar mereka. Dunia mungkin tidak akan mengenal Cristiano Ronaldo sebagai rival abadi Messi apabila pemain-pemain dengan bakat sebesar mereka memiliki etos kerja yang sama seperti Cristiano.
Lalu ada mereka yang perjalanannya dihentikan oleh sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan: cedera.
Alexandre Pato, Theo Walcott, Jack Wilshere, Jesse Lingard, dan Michu adalah sebagian dari nama-nama itu. Mereka bukan pemain gagal. Tubuh mereka saja yang lebih dulu menyerah. Kaki mereka tidak lagi mampu menopang mimpi yang begitu besar.
Tidak adil menyebut mereka gagal hanya karena kariernya tidak sepanjang Messi atau Ronaldo. Mereka hanya berhenti lebih cepat daripada yang seharusnya.
Dan terakhir, Oscar.
Bersama Eden Hazard, ia pernah menjadi bagian penting dari lini serang Chelsea yang mengguncang Stamford Bridge. Di usia yang masih muda, ia memutuskan menerima tawaran dari Liga China. Banyak orang menilainya sebagai pemain yang mengejar uang dan mengubur kariernya sendiri.
Namun, setiap orang memiliki alasan yang tidak selalu diketahui publik. Oscar pernah menjelaskan bahwa keputusan itu diambil untuk menjamin masa depan keluarganya melalui kesempatan finansial yang sulit ditolak. Di balik segala kritik, ia tetap meninggalkan kenangan yang tak mudah dilupakan.
Golnya ke gawang Jerman pada semifinal Piala Dunia 2014 memang tidak mengubah hasil pertandingan. Namun, di tengah malam paling kelam bagi Brasil, gol itu menjadi pengingat bahwa Oscar pernah menjadi salah satu talenta terbaik yang dimiliki negeri sepak bola tersebut.
Pada akhirnya, tidak semua pemain ditakdirkan menjadi legenda.
Sebagian menjadi pelajaran bahwa bakat saja tidak cukup. Ada yang kalah oleh tekanan, ada yang kalah oleh dirinya sendiri, ada pula yang dikalahkan oleh cedera. Mereka mungkin tidak berdiri di puncak sejarah, tetapi mereka pernah membuat jutaan orang percaya bahwa masa depan sepak bola ada di kaki mereka.
Dan bagi sebagian penikmat sepak bola, itu sudah cukup untuk dikenang.