Tomy namanya, saat ini ia berada di semester 4. Mahasiswa yang tertarik pada seorang perempuan.
Kisah ini adalah dirinya, tujuan Tomy menuliskan ini untuk memperkenalkan dirinya kepada khalayak yang luas. Pada saat Tomy duduk di semester 3 , Ia mahasiswa yang aktif pada sebuah organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Saat itu adalah saat-saat kesibukan Tomy dalam membantu organisasi nya dalam pertarungan politik untuk menaikkan calon ketua HIMA yang ditentukan. Dari organisasi Tomy ini mengusung sebuah nama (23). Sehingga Tomy lebih sering di kampus, lebih sering berkumpul dalam satu bendera, lebih sering mendekati adik tingkatnya. Saat Tomy sedang di kampus, Tomy (24) ditemani oleh senior yang bernama sebut saja Jean, ia adalah salah satu teman perjalanan Tomy untuk mensukseskan calon dari organisasi PMII. Saat Tomy dan Jean (22) duduk di kantin belakang untuk sekedar santai (merokok) dan melihat pemandangan. Mereka melihat perempuan-perempuan angkatan 23 berlalu-lalang.
“Tom, menurut lu di angkatan 23. siapa yang paling cantik? ” ucap Jean tiba-tiba
“menurut gua sih kak Astri sih bang” jawab Tomy”
“lahh..masih cakepan si Rasti sih Tom”
“soalnya dia beda dari yang lain Tom”
“ohh ya? tapi gua gatau yang mana kak Rasti, Jean”
“Itu yang dia di departemen olahraga”
“ohh gatauu gua jen, hahaha”
“gua yakin lu pasti suka tom ngeliat dia” jawab Jean
Obrolannya pun berakhir topik beralih mengenai strategi pemenangan, perkuliahan dll. Sore menjelang, kini Tomy dan Jean pergi meninggalkan kantin dan kampus untuk pulang kerumah masing-masing.
Tibalah hari pemilihan, Tomy sibuk kalang kabut bersama temannya Alam dan Kusuma. Menyambut anak 25 untuk memilih. Gerakan ini adalah gerakan manipulasi psikologi, yang bertujuan supaya mereka (25) memilih calon yang diusung Tomy.
Setelah sesi pemilihan selesai dan tinggal penghitungan suara. Ternyata, calon yang diusung Tomy dan PMII menang suara, dan dilanjutkan ke sidang pelanggaran.
Tomy menunggu di luar bersama gerbong dari (PMII) yang lain. Sementara Kusuma masuk bersama yang 4 orang senior.
Sesi sidang ini berakhir dengan ricuh, setelah mereda. Tomy dan gerbong pergi meninggalkan kampus untuk menuju kerumah masing-masing.
Akhirnya Tomy dan teman-teman angkatan 24 pun masuk ke dalam anggota HIMA, sementara angkatan 23 dan menjadi kepala & sekretaris serta BPH.
Tomy pun bertemu kembali dengan Jean di kabel, secara tidak sengaja memang. Akhirnya mereka pun berbicara mengenai departemen apa yang ingin Tomy masuk dan dengan segala pertimbangan.
“weh Tom, sehat? “
“alhamdulillah jen, sehat gua”
“gimana HIMA, lu mau masuk departemen mana? “
“gua pengennya si diminat dan dan bakat atau psdmo sih jen”
“minba sih oke, psdmo juga oke. tapi mending lu di kastrat deh Tom”
“kastrat? ah gua mah orangnya kaga fokus ke literatur, segen amat gua. lu tau sendiri Jen gimana gua”
“hahaha, gapapa minba aja. oiya kan di minba sekdep lu si Rasti”
“ohh dia ya? ntar deh gua pengen kenalan sama dia”
“yauda cabut dulu gua Tom, masih ada urusan gua”
“hati-hati lu Jen”
Mereka berpisah kembali, Tomy dan Kusuma kini kembali bersantai di kabel untuk mencari ketenangan sekalian sebat. Memang ya, perokok tuh asem-an. Dikit-dikit sebat, tapi karna itulah tulisan ini dibuat.
Mereka dikirimkan formulir untuk diisi, data diri serta departemen mana yang ingin ia masuk.
Tomy dan Kusuma mengisi minat dan bakat secara bersamaan, bukan karna mereka teman dekat. Tapi memang memiliki tujuan yang sama.
Hari wawancara pun tiba, Tomy dipanggil. Tomy langsung pergi ke ruangan untuk wawancara. Karena Tomy memilih satu departemen, dia jadi lebih cepet daripada teman-teman yang lain.
Tomy hanya diwawancara oleh departemen minat dan bakat, BPH dan BPH terdahulu.
Pertanyaan-pertanyaannya kurang lebih sama. Seperti “alasan masuk departemen itu”, “alasan masuk HIMA” “proker apa yang ingin kamu bawakan” dll. Semua jawaban dijawab dengan mudah oleh Tomy. Setelahnya, Tomy pun keluar ruangan.
Sampai di kabel, Tomy pun mulai mengkilas balik. Ternyata kak Rasti cantik juga ya, meskipun kalah cantik sedikit dengan kak Astri. Tiba-tiba Jean datang.
“gimana Tom, cantik ga Rasti” tanya Jean
Tomy pun kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan si Jean. Karena seharusnya pertanyaannya “gimana wawancara nya” bukan pertanyaan yang tidak terduga itu.
“lumayan sih Jen, tapi masih kalah dikit lah dari kak Astri” jawab Tomy
“lahh hahaha, demen lu ya sama Astri” ucap Jean
“kaga kocak, kan konteks nya cantik atau ngga nya. gua mah netral”
Akhirnya mereka pun kembali mengobrol hal-hal lain sampai sore. Saat sore, mereka bubar dan kembali kerumah masing-masing
Saat pulang, Tomy mendapati dirinya masuk kedalam departemen minat dan bakat. Seneng bukan main, karna Tomy menyukai hal yang menurut dirinya, dia jago di bidang tersebut.
Foto kabinet pun dimulai, Tomy datang bersama Alam untuk ke tempat pemotretan. Sesampainya di sana, Tomy menanyakan siapa saja yang dari departemen minat dan bakat yang sudah ada di dalam. Ternyata hanya baru ada kak Rasti, Shia, dan Nida. Bang Tama dan Kusuma belum sampai.
Kusuma pun tiba, pertanyaan ke Tomy pun persis seperti Tomy bertanya tadi. Tomy pun menjelaskan secara singkat. Karna belum dimulai, Tomy di depan merokok sambil melihat siapa saja yang datang.
Saat Tomy bertanya ke kak Rasti, Tomy melihat sosok kak Rasti galak. “judes amat” gumam Tomy dalam hati. Tomy bertanya dimana keberadaan bang Tama kepada kak Rasti.
Saat bang Tama datang, sesi potret departemen pun dimulai. Setelah sesi potret, Tomy dan Kusuma kabur. Padahal belum ada informasi untuk pulang.
Hari-hari berlalu, akhirnya Tomy dan anggota HIMA lain mengikuti pelatihan kepemimpinan yang dibuat untuk melatih anggota. Tomy pun berangkat bersama Kusuma.
Sesampainya di sana, Tomy bertanya kepada angkatan 23 dimana bang Tama, ternyata bang Tama ada di dalam sedang istirahat. Tomy pun absen seperti anggota yang lain.
Acara seminar dimulai, Tomy dan teman-teman 24 disuruh mengumpulkan hp oleh kak Rasti, Tomy dan Kusuma bercanda dengan kak Rasti. “ternyata asik juga kak Rasti, mungkin kemaren sedang gamood kali” gumam Tomy.
Setelah acara seminar selesai, angkatan 24 pun disuruh beristirahat oleh angkatan 23. Tomy dan teman-teman pun istirahat.
Pada jam 2 malam, pintu digedor-gedor oleh angkatan 23 disuruh bangun semuanya. Kak Rasti pun terlihat semakin galak dimata Tomy. Hal seperti ini sudah biasa di organisasi, mau diadakannya post-to post. Saat briefing Kak Rasti marah-marah kembali karena anak 24 ada yang membuat kesalahan. Intinya saat briefing itu selain karna persiapan, mereka juga mencari-cari kesalahan.
Saat post-to post, Tomy pun mengikuti secara kooperatif. Setelah acara selesai akhirnya anak 23 memberi ucapan selamat kepada anak 24 karena telah secara sah menjadi bagian dari HIMA.
Saat pulang Tomo, Bang Tama, Kusuma, Jean pulang paling akhir karna mereka masih mengobrol.
Sebulan telah berlalu, tiba-tiba Tomo mendapat informasi, dirinya menjadi ketua pelaksana dalam program kerja departemen minat dan bakat. Polisport namanya, program kerja tahunan yang dilaksanakan HIMAJIP. Program kerja tersebut yakni futsal semua angkatan ilmu politik. Alumni, 22,23,24,25 ikut serta dalam proker ini.
Kak Rasti chat Tomy supaya masuk ke dalam grup panitia. Kak Rasti dan Bang Tama pun ikut serta membimbing Tomy dalam acara ini.
Acara pun berjalan dengan semestinya. Meskipun ada beberapa problem, tapi masih berjalan dengan lancar. Saat evaluasi, kak Rasti tetap memberi semangat pada Tomy. Di sinilah Tomy mulai respect dengan kak Rasti.
Hari-hari terus berlalu, proker HIMAJIP kembali berjalan. HIMAJIP GROWTH namanya, acara tersebut adalah acara buka puasa bersama angkatan 25 sekaligus memberi bimbingan untuk perkuliahan. Tomy di sini sudah mulai akrab dengan kak Rasti. Sudah mulai sering bercanda dan seringkali terlibat obrolan singkat.
Setelah acara tersebut, datanglah acara Pengabdian Masyarakat. Program kerja ini juga salah satu program kerja tahunan yang diadakan program studi dengan menggandeng HIMAJIP sebagai panitia.
Saat perancangan, survei, rapat, pembuatan konten, dll. Tomy tambah akrab dengan kak Rasti. Saat bertemu, Tomy seringkali bercanda tentang kak Rasti, Tomy memang begitu orangnya, suka meledek orang (bukan bully).
Bahkan sudah mau mendekati PM (Pengabdian Masyarakat) Tomy seringkali berbicara dengan kak Rasti perihal uang. Kak Rasti sebagai Bendahara, Tomy sebagai divisi logistik. Oleh karna itu, Tomy sering meminta duit untuk membeli kebutuhan.
Saat waktu keberangkatan, Tomy kalang kabut mengurus segala barang-barang. Setelah barang-barang sudah dipindahkan ke dalam bis. Mereka (peserta, panitia, dosen) berfoto, berdoa, serta pembukaan keberangkatan. Setelah selesai, mereka masuk ke dalam bis yang sudah ditentukan.
Pas sekali, Tomy satu bis dengan kak Rasti. Kak Rasti duduk di belakang dekat Tomy bersama teman-teman angakatan 23. Tomy kembali bercanda dan sedikit perbincangan. Di bis, Tomy bersama kak Ana karaokean bersama, terkadang bersama dosen juga. Saat cape, kak Awa yang menggantikan.
Saat pengabdian berlangsung, Tomy menjadi mentor sekaligus panitia. Dirinya tidak satu basecamp dengan panitia lainnya, Tomy menemani anak 25. Saat acara seminar, Tomy tidak masuk ke dalam ruangan. Tomy di luar bersama panitia lain. Merokok, kadang mengobrol. Saat mengobrol depan ruangan seminar, Tomy bergibah bersama kak Rasti, Kak Marsha, Kak Asya, Kak Ana dan 2 teman perempuan angkatan 24. Tomy menikmati saat-saat itu.
PM adalah tempat yang tepat Tomy semakin akrab dengan angkatan 23 lainnya, terutama kak Rasti. Tomy pun selalu punya cara untuk supaya menjalin obrolan dengan kak Rasti. HAHAHA ada saja akalnya untuk dekat memang.
Setelah PM selesai, Tomy semakin sering menghubungi kak Rasti. Hal apapun pasti menghubungi kak Rasti. Seperti nya benih-benih cinta sudah tumbuh mungkin? atau hanya perasaan muncul sementara. Efek sering mengobrol? haha.
Akal-akalan Tomy semakin banyak, demi menghubungi kak Rasti setiap harinya. Tomy pun memiliki kesukaan yang sama, suka membuat tulisan. Akhirnya Tomy pun tambah banyak ide untuk membuat tulisan, serta bertanya kepada kak Rasti mengenai tulisan dan Buku.
Tomy akhirnya meminjam buku kepada kak Rasti, sebenarnya hanya akal-akalan untuk supaya dekat dengan kak Rasti. Tapi, Tomy juga ingin membaca buku yang dibaca kak Rasti. Mungkin biar nyambung obrolannya? HAHAHA tidak ada yang tau.
Tomy dan kak Rasti tidak pernah ngobrol berduaan, paling hanya singkat. Itupun obrolannya jelas.
Pada akhirnya, situasi yang diinginkan Tomy pun tiba-tiba terjadi. Mengobrol dengan kak Rasti, serius. Kali ini mengobrol sangat lama, tanpa adanya rancangan.
Hari itu selasa, Tomy tetap ke kampus meskipun tidak ada matakuliah. Ada sih, tapi online tepatnya. Akhirnya Tomy ngobrol bersama angkatan 25, memang sebelumnya Tomy ke kampus minjam buku kak Rasti dan mengobrol bersama anak 25.
Saat itu kak Rasti bilang bahwa dirinya membawa bukunya, tapi dia harus masuk terlebih dahulu karna ada mata kuliah. Tiba-tiba kak Rasti chat “Anjir gajadi kelas gua Tom, dosennya gaada”
Tomy membalas “yaudah sini aja gua di kabel kak”
“males ah rame di kabel” jawab kak Rasti
“ngga kak udah sepi, itumah tadi” jawab Tomy
Akhirnya kak Rasti, Kak Dilla, dan kak Ana pun datang ke kabel. Duduk di sebrang kiri meja Tomy. Pas datang, mereka bertiga senyum-senyum meledek karna Tomy mengobrol bersama Naya (25). Datanglah Ficqih (25) karna memang sudah janji untuk mengobrol bersama Tomy. Dan Bang Ayub (23) datang duduk bersama gerombolan kak Rasti.
Akhirnya Tomy tersisa berdua saja dengan Ficqih, ia membahas tentang puisi, filsafat dll. Tiba-tiba temannya bang Ayub duduk di meja kak Rasti. Mungkin merasa risih, kak Rasti dan kak Dilla duduk bersama Tomy dan Ficqih. Kak Rasti duduk bersebelahan dengan Tomy.
Tiba-tiba kak Dilla balik kembali ke meja angkatannya. Ficqih pun mengajak Tomy ingin geser ke depan. Namun, Tomy menolak karena panas. Akhirnya Ficqih meninggalkan mereka berdua.
Saat mengobrol berdua dengan kak Rasti, Tomy pun tidak merasa grogi, mungkin sudah biasa ya. Tomy mengobrol dengan kak Rasti 2 jam. Iya, 2 jam tak berasa. Tapi saat ngobrol berdua, teman-teman kak Rasti melihat sambil senyum-senyum. Akhirnya Tomy memberhentikan obrolan, karena tidak enak terlalu lama. Tomy pun bersama kak Rasti dan kak Dilla pulang bersama dengan menaiki jaklingko untuk menuju stasiun. Namun, mereka berlawanan arah saat naik kereta. Tomy kearah selatan, kak Rasti dan kak Dilla ke arah utara.
Saat dirumah, Tomy tiba-tiba tersenyum sendiri. Gila? iyaa. Karena hal yang tak pernah terbayangkan, terealisasikan dengan sendirinya. “kok bisa ya gua tiba-tiba ngobrol berduaan sama kak Rasti” gumam Tomy sambil senyum. Tomy pun senang sekali. Ia pun membuat puisi tentang momen tadi. Kisah ini pun berakhir disini. Untuk kedekatan dengan kak Rasti masih berproses. Tomy pun seperti “cowo bingung” ingin memiliki namun masih ada pikiran bahwa dirinya memiliki keterbatasan finansial. Jadi Tomy pun menahan diri untuk tidak terlalu jauh berhubungan dengan kak Rasti.
Memang lelaki tuh memiliki pikiran yang sama, terkadang momen sudah pas. Eh terhalang masalah finansial.
Terimakasih yang sudah membaca, semoga kalian suka dengan kisah ini hehe.
LAGI CERITAIN KISAHNYA SENDIRI YA? ALIH ALIH BIKIN CERITA