Populer

Pemain Nomor 10 Klasik Kian Tak Relevan

Peran nomor 10 klasik pada zaman dulu adalah posisi di belakang striker. Mereka lihai dalam mengatur tempo permainan, tidak wajib bantu bertahan, bebas bergerak ke mana saja, umpan terobosan, dan bermain layaknya orkestrator lapangan. Sistem pertahanan yang makin kompak menuntut semua pemain kolektif dalam bertahan dan merebut bola kembali dari lawan.
Hal yang sempat dirasakan Ricardo Kaka, salah satu mantan playmaker kreatif yang dimiliki oleh AC Milan dan Real Madrid. Ketika ruang menjadi sempit, maka opsinya adalah berpindah posisi jadi melebar layaknya mezzala (gelandang sayap) ataupun pemain box-to-box.

Sistem pertahanan yang makin kompak menuntut semua pemain kolektif dalam bertahan dan merebut bola kembali dari lawan. Contoh terdekat adalah pada Liverpool dengan gegenpressing. Para pemain juga dituntut dapat mengisi berbagai peran. Itu juga kelemahan pada pemain nomor 10 klasik. Sedangkan pemain nomor 10 dinamis, seperti Foden dan Silva di Manchester City, dapat mengisi akan hal tersebut.
Jika ditelusuri lagi, maka ada benang merah di dalamnya. Sepak bola telah mengenal sistem kemenangan dua poin dahulu sebelum berubah menjadi tiga poin. Hal ini hidup pada era budaya sepak bola yang lebih lambat, khususnya pada tahun 1980 dan 1990. Mendapatkan seri (poin 1) cukup dapat diterima terutama laga tandang, derby, dan eropa.

Era 1980-an mengedepankan disiplin secara taktikal namun tetap sisi kreativitas dalam lapangan tetap ada. Kedua keunggulan ini melahirkan era kejayaan nomor 10 klasik. Sedangkan pada era 1990-an sebagai era sebagai dekade terakhir yang mana sepak bola masih didominasi oleh pemain nomor 10 klasik. Era ini adalah transisi menuju sepak bola modern yang mengedepankan intensitas fisik, tekanan lawan, dan struktur permainan yang lebih ketat

Sejak FIFA mengubah sistem dari dua poin menjadi tiga poin pada 1900-an, semuanya berubah. Hal ini membuat kemenangan tiga poin menjadi sangat berarti. Seri yang dihitung satu poin sama saja kehilangan dua angka. Sistem ini secara tidak langsung membuat nomor 10 klasik tidak memiliki ruang yang cukup untuk bermain. Salah satunya karena intensitas pertandingan menjadi lebih cepat dan agresif. Sistem tiga poin membuat nomor 10 klasik, selaku seniman, berubah menjadi insinyur multifungsi. Posisi gelandang maupun striker mendapat fungsi tambahan sebagai nomor 10 klasik. Jadi era sekarang ini para pemain punya hybrid roles

Like 1
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *