Bahasa manusia yang sering kau utarakan akan pudar seiring kau punya usia.
Bagaimana kita berkomunikasi dengan Anda
kalo semua adalah rahasia?
Transparansi ini serasa sia-sia!
Sering digaungkan oleh komandan yang berkoar-koar menjadi sebuah memoar;
slogan untuk perusahaan sepertinya hanya bualan kotoran hewan.
Kalo menurut kalian itu tidak mengacak-acak,
ada yang salah dari kau punya watak!
Apa perlu aku buat retak untuk membuatmu diam tergeletak, mati kesetrum stop kontak?
Jangan terlalu banyak berharap kepada manusia yang doyan melahap.
Semua harus digarap!
Dia sangat terlihat gagap, kurang cakap, tetap melakukan karena mereka takut ditangkap.
Bibirmu kering keriting banyak konsumsi bubuk hitam sampai mata melotot
Tangan-kaki tak sinkron bagai bekicot, tapi
raunganmu mirip Behemoth!
Ilmu yang kau ucapkan dan terapkan tidak berbobot,
tak sebanding dengan kau punya bobot.
Semua ide karya yang kau dapat adalah hasil mencomot, dasar idiot!
Karyamu disanjung, diberikan panggung bagai patriot.
Apa kau lupa pertama kali kita jumpa? Parasmu mirip Gal Gadot, tapi tak disangka perilakumu mirip Haji Bolot!
Lontarkan ocehan Terrpadu, masuk aktor lemot.
Kau bagaikan Tom Cruise di Mission: Impossible,
tapi mencoba available ke semua level.
Harusnya kamu coba senam kegel untuk lebih kehendel.
Gak perlu jadi bandel kalo mau keliatan rebel;
itu percuma untukmu yang butuh label: Kredibel!
Kita coba jabarkan Alpha sampai Delta,
ini layaknya Perang Mahabarata.
Tapi jangan lupa, kamu tetaplah wanita
yang berada di barisan Sigma.
Maaf kalo aku sekarang main gender,
karena diperhatikan sifatmu mulai seperti Adolf Hitler:
Tidak menerima masukan dari kaum sekunder,
ingin terlihat kuat dengan cap independen.
Semua dijilat layaknya Catwoman,
tidak menyisakan makan, bak kau punya seluruh dividen.
Namun ternyata, kamu tidak begitu evident.
Aku sengaja memasukkan nama artis besar
karena kau terlihat bagai aktor yang sangat ahli untuk membuat onar.
Memang senang kalo sering dianggap benar.
Tidak perlu kau tatar, kami ini sudah kuat seperti halilintar!
Jadi, lebih baik diam di meja,
buka laptop saja,
makan nasi kotak Daeng Raja.
Setelah itu, kau hisap ganja
karena kalau kau sadar, kau sangat mengganggu kita punya kerja!
Memang bahasaku terdengar seperti kiasan, tapi
isinya bukan banyolan, apalagi celotehan.
Karena akal kita terlalu stagnan di zaman peradaban yang orangnya saling menghancurkan.
Tau kebenaran, tapi lebih baik diam seperti disulam, dibungkam, dijadikan anyaman, lalu dibuang;
hilang tenggelam di laut yang dalam seakan pindah alam
sampai neraka jahanam.
Terlihat sangat kelam bukan?
Hei kawan, setiap karya yang sudah tayang bukan hasil dari satu wayang,
bukan juga dimainkan oleh satu dalang.
Tapi, ini kerja bersama!
Semua proses kita lakukan dengan seksama,
penuh dengan realita,
tanpa retorika yang dibuat dengan terpaksa.
Sebenarnya kamu tau itu,
tapi kamu pikir angin berlalu.
Harusnya dari dulu aku tau kamu ambisius,
pantasnya diberangus!
Lalu kuberikan racun tikus
biar kamu merasa sangat haus.
Perut sakit seperti tertusuk kaktus,
perlahan keluar darah dari dalam anus.
Teriak-teriak kesakitan ingin pindah ke Saturnus,
di sana kena petir Zeus lalu tersihir
kutukan Tartarus.
Mampus!
Masuk kubang klutus, humus, kubus, mengeluarkan ingus, dimakan octopus paus—
ini serius!
Sekarang aku akan memakai bahasa absurd untuk membuat kalian tertawa seperti melihat badut.
Tak dikira, ternyata aku seorang psikopat!
Pertama yang akan kulakukan adalah menjilat, sebab kau sangat gila hormat dengan gelar penjilat.
Perlahan lalu kulumat, karena kalau kau sedang kumat, sikapmu seperti tahu yang digoreng bulat-bulat.
Azimat yang kau bawa tidak mempan padaku, karena aku adalah raksasa penikmat semut.
Dari kepala sampai telapak kuhisap hingga menyusut, menciut bagaikan curut!!
Mulut, sikut, perut, lutut, hingga jembut,
perlahan kuparut menjadi selicin belut—
untuk kalian yang jarang sujud karena tak punya rasa takut kepada sang pembawa sakaratul maut.