Setiap Ramadan, kehidupan sosial terasa bergerak lebih cepat. Grup percakapan kembali aktif, undangan berdatangan dan kalender mendadak penuh oleh agenda berbuka bersama.

Apakah Ramadan sekarang hanya jadi musim kumpul, konsumsi dan konten? apakah maknanya bergeser?

Pertanyaan itu wajar. Karena yang terlihat sering kali memang keramaian. Restoran penuh, foto berjejer di sosial media, outfit dipersiapkan dan tag lokasi bermunculan.

Namun apakah keramaian berarti kehilangan makna? Tidak selalu.

Ramadan sejak awal bukan hanya ibadah personal tapi juga peristiwa sosial. Momen sakral yang dirayakan bersama justru memperkuat solidaritas. Ada energi kolektif yang muncul ketika orang-orang berbagi pengalaman yang sama. Bukber, dalam bentuk dasarnya, adalah ekspresi dari solidaritas itu.

Masalahnya bukan pada berkumpulnya, ramainya ataupun dokumentasinya. Yang sering membuat kita gelisah adalah kesan bahwa Ramadan menjadi terlalu “sosial” dan kurang “spiritual”. Padahal kehidupan sosial dan spiritualitas tidak harus dipertentangkan.

Bertemu teman lama bisa menjadi bentuk silaturahmi. Mendengar cerita orang lain bisa menjadi latihan empati. Berbagi makanan bisa menjadi pengingat bahwa rezeki tidak selalu soal diri sendiri. Makna tidak otomatis hilang hanya karena zaman berubah.

Memang benar, kita hidup di era performatif. Pengalaman cenderung dibagikan. Konsumsi sering kali menjadi bagian dari identitas. seperti tentang bagaimana pilihan gaya hidup dapat menjadi simbol sosial. Namun simbol tidak selalu membatalkan makna.

Seseorang bisa mengunggah foto bukber dan tetap tulus dalam percakapannya.
Seseorang bisa makan di tempat mewah dan tetap rendah hati.
Seseorang bisa hadir di banyak undangan dan tetap menjaga niat.

Yang menentukan bukan bentuk luarnya, tetapi kesadaran di dalamnya.

Ramadan tidak kehilangan makna hanya karena menjadi ramai. Akan menjadi kehilangan makna ketika kita berhenti bertanya pada diri sendiri, untuk apa semua ini dilakukan?

Bukber bisa menjadi ajang pamer.
Bukber juga bisa menjadi ruang penyembuhan relasi.

Kehidupan sosial bisa terasa dangkal.
Ia juga bisa menjadi ladang kebaikan yang tidak terlihat.

Ramadan tidak berubah. Yang berubah adalah cara kita menjalaninya. Bisakah tetap menjaga niat di tengah sorotan? bisakah tetap sederhana di tengah kemungkinan untuk terlihat?

Makna tidak pernah benar-benar hilang. Berbuka bersama bukan tentang mengurangi pertemuan, tetapi tentang memperdalam kehadiran.

Like 54
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *