Mengenal Seni Budaya Jakarta

seni budaya jakarta

Jakarta adalah kota pelabuhan. Sebelum tanggal 22 juni 1527, namanya adalah Sunda Kelapa. 
Pangeran Fatahilah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Memasuki Era penjajahan Belanda tahun 1619, nama Jayakarta diganti menjadi Batavia di bawah pemerintahan Belanda (VOC) oleh Jan PieterzoonCoen. Lalu pada masa penjajahan Jepang nama Batavia diganti menjadi Jakarta.

Sejarah Jakarta yang sampai sekarang masih menjadi ibu kota negara, bukanlah sejarah yang singkat. Banyak hal yang sudah dilalui Jakarta, membuat Jakarta memiliki seni budaya yang beragam yang sampai sekarang masih bisa kita saksikan.

Ondel-Ondel

Ondel-ondel lahir bersama para petani pinggir kota Jakarta. Dulu, Ondel-Ondel lah yang menjadi sahabat petani ketika merayakan panen. Ondel-Ondel Artinya “menakjubkan”. Boneka raksasa dari ayaman bambu, yang biasanya digunakan sebagai simbol pesta rakyat betawi. Pada ondel-ondel, warna wajah biru menandakan laki-laki, dan jika warna wajahnya merah, menandakan perempuan. 

Tanjidor 

Musik Tanjidor pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-18, nama Tanjidor berasal dari bahasa Portugis “Tangedor“. Musik Tanjidor memang sangat dipengaruhi oleh Eropa yang juga menggunakan Tangedor sebagai musik pengiring pawai-pawai keagamaan.
Tanjidor adalah musik pengiring khas Betawi di acara-acara perayaan seperti pernikahan dan lainnya. Tanjidor biasanya dimainkan 7 sampai 10 orang pengiring musik.

Lenong

Lenong adalah kesenian sandiwara dari rakyat Betawi. Pertunjukan lenong diiringi musik Gambang Kromong. Dalam pertunjukan lenong, ada dua jenis cerita, yaitu lenong Denes dan lenong Preman

Lenong Denes bercerita dengan lakon berkarakter dan bergaya formal, menggunakan latar kaum sultan atau kerajaan. Lenong Preman bercerita dengan lakon seperti kehidupan rakyat jelata, dengan kebiasaan sehari-hari. Konflik yang diangkat biasanya tentang penidasan, tuan tanah, tokoh pendekar dan lain sebagainya.

Maen Pukulan Silat Beksi

Ada silat, pasti ada jurus. Tiga jurus dasar yang berurutan yaitu Beksi, Gedig, Tancep. Mengutip dari buku “Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi”, hasil penelusuran G.J. Nawi; Beksi berasal dari kata Bhe Si, yang secara harfiah artinya adalah kuda-kuda. Banyak nilai luhur yang terkandung dalam budaya Maen Pukulan Betawi, di antaranya seorang lelaki harus sholat dan silat. 

Tari Cokek

Tari untuk pergaulan yang diiringi Gambang Kromong dengan penari-penari wanita yang sering disebut “Wayang Cokek”. Tari Cokek dibawa oleh Tan Sio Kek pada akhir abad ke-19. Ia adalah pedagang dari Tiongkok. Cokek berarti “Cukin”, atau selendang. Tari Cokek kerap dipertunjukan dalam perayaan pernikahan, acara keluarga dan lain sebagainya. Gerakan utama dari tari cokek yaitu memainkan kelentikan tangan yang dipadupadankan dengan melangkah maju, mundur , memutar dan berjinjit.

Sebagai penerus bangsa kita berkewajiban mengenal dan mencintai seni budaya, agar terjaga kelestarian seni budaya negera tercinta Indonesia. Demikian beberapa Seni Budaya Jakarta yang dapat Penalis rangkum. Semoga bisa menjadi informasi dan inspirasi yang bermanfaat.

ajax loader

Bagikan Artikel Ini

Penalis

Portal media berbagi informasi dan inspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *