Saat itu, Sabtu 7 Maret 2026, usai berbuka puasa di jalan. Saya sudah punya niat untuk mencoba shalat isya dan tarawih di salah satu masjid terbesar Jakarta, Masjid Istiqlal. Masjid yang tidak hanya sebagai tempat religi, tetapi juga wisata yang sering didatangi setiap orang dari penjuru dunia. Tidak dipungkiri, memang arsitektur Masjid Istiqlal bisa membuat mata orang-orang terpukau, terlebih kapasitasnya bisa menampung orang banyak yang ingin beribadah shalat.
Sistem tarawih di Istiqlal tentu berbeda dengan yang saya alami. Jika di masjid dekat rumah, mungkin hanya sekitar 12 rakaat yang dimulai dari shalat isya, lalu disambung tarawih, ceramah, dan witir. Begitu juga ada yang 23 rakaat seperti di Istiqlal. Namun, ada yang paling menarik dari sistem tarawih di masjid terbesar ini. Dimulai dari shalat isya, disambung lantunan bacaan Al-Qur’an, doa, ceramah, lalu shalat tarawih.
Di tulisan ini, saya ingin menyelami ceramah yang sungguh berbeda dari masjid Istiqlal ini. Mungkin, ini pertama kalinya saya baru melihat. Ya, sesi ceramah dalam salat tarawih diisi oleh perempuan. Saya mungkin lebih sering mendengar atau melihat ceramah agama dari pihak laki-laki. Dan kali ini, suara perempuan berkumandang menyiarkan ceramah agama di hadapan para jemaah laki-laki dan juga perempuan.
Saya sampai lupa untuk mencatat nama penceramahnya karena terlalu tenggelam dan kagum dengan isi ceramahnya. Paling tidak, saya tahu sedikit informasi bahwa seorang penceramah perempuan tersebut ialah seorang akademisi. Selama sesi ceramah berlangsung, pembahasan yang diangkat ialah peran perempuan dan perannya dalam dunia Islam. Bertepatan dengan Hari Perempuan Sedunia pada tanggal 8 Maret 2026, isi ceramahnya dapat menjadi refleksi mengenai ilmu perspektif gender. Terutama perempuan yang masih dianggap objek semata, dan lupa melihat peran sebagaimana perempuan yang berhak untuk berdaya.
Isi ceramah ini juga dapat memberikan pemahaman dan kesadaran, bahwa perempuan memiliki hak untuk hidup dan mampu berdaya, tanpa harus melewati batas-batas tertentu. Mungkin, kurang lebih hanya itu yang saya dapatkan dan saya pahami. Meski saya tidak tahu siapa nama penceramahnya selain sosoknya adalah akademisi, paling tidak isi ceramahnya dapat membangun wawasan tentang peran perempuan, yang bertepatan dengan Hari Perempuan Sedunia.
Sosok penceramah perempuan di masjid Istiqlal ini menjadi gambaran bagaimana sejarah Islam juga memiliki sosok perempuan yang memberikan dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Salah satunya Khadijah. Pada masanya, Khadijah membantu Rasulullah dakwah dengan mengorbankan harta yang dimilikinya. Tak hanya Khadijah, Aisyah pun juga memiliki peran penting dalam dakwah Islam, di mana sering menjadi tempat untuk menanyakan berbagai persoalan keislaman baik pada saat Rasulullah masih hidup atau setelah kepergiannya.
Kiprah muslimah dalam berdakwah juga akan sangat memengaruhi dalam perjuangan menegakkan agama, termasuk Islam. Hal ini didasari bahwa wanita adalah madrasah utama bagi anak-anaknya, yang akan berjuang menjadi generasi penerus tak hanya soal dunia, tetapi juga dengan ajaran agama yang diberikan oleh wanita yang berperan sebagai Ibu Rumah Tangga, atau Ibu yang bekerja yang memberikan pemahaman tentang agama.
Seorang muslimah yang berdakwah juga berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang didapat. Bagaimana seorang muslimah mampu berceramah jika tidak diimbangi dengan ilmu pengetahuan sesuai dengan bidangnya? Karena itu, pendidikan sangatlah penting. Dengan pendidikan yang didapat, maka menyiarkan dakwah akan sangat mendukung, di mana pendakwah bisa memberikan ilmu kepada pendengar (audience) yang mendengarkan sekaligus belajar bersama.
Wanita yang berceramah bisa menjadi suara panggung dalam menyiarkan agama Islam. Dengan wanita yang memiliki kemampuan berceramah yang didukung dengan latar pendidikan, kita bisa melihat bagaimana dakwah agama sekaligus menjadi cara mentransfer ilmu kepada pendengar yang sama-sama mencari ilmu dan belajar. Wanita yang memiliki kemampuan ceramah, adalah gambaran Khadijah dan Aisyah masa kini dalam sejarah di masa lalunya, yakni bagaimana perjuangan agama Islam dilakukan dalam cara berdakwah.





