Malam itu, langit terasa seperti layar kosong. Aku menatap lama, mencoba menemukan bentuk dari pikiranku sendiri. Tapi semakin aku menatap, semakin kabur semuanya.

Lagi dan lagi, sulit bagiku memejamkan mata di malam hari. Entah apa yang sebenarnya aku rasakan, atau apa yang sedang kupikirkan. Mereka bilang malam itu sunyi, tapi bagiku justru ramai. Mereka bilang siang itu ramai, tapi aku merasa sebaliknya. Bingung, kan? Aku juga. Bukan tentang apa yang kudengar, tapi apa yang kurasa.

Aku mulai menyadari bahwa hidup tidak sesederhana bangun pagi, lalu berangkat beraktivitas. Hidup juga bukan sekadar makan dan minum. Ada sesuatu yang lebih samar, lebih dalam, yang tak selalu bisa dijelaskan. Kadang kita ingin sesuatu, tapi tak pernah tercapai. Kadang kita ingin mengakhiri sesuatu, tapi tak bisa juga.

Aku menatap keyboard kecil di depanku, mencoba menulis sesuatu. Entah tulisan ini akan selesai atau tidak. Mungkin cuma sekadar cara untuk menata pikiran. Tapi semakin kutulis, semakin aku tersesat di dalamnya. Apa yang sebenarnya ingin aku capai? Apa aku benar mengambil jalan ini, atau justru selama ini aku salah arah?

Aku tak sedang mencari validasi. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya kupikirkan. Dan anehnya, semakin aku mencoba memahaminya, semakin aku sadar: aku sendiri tidak tahu.

“Siapa aku?”

Pertanyaan itu menggema di kepalaku seperti ruang kosong. Orang-orang memanggilku Ardi. Tapi apakah itu benar diriku? Atau hanya nama yang disematkan tanpa isi? Aku mencari jati diriku bertahun-tahun, tapi yang kutemukan hanyalah ruang yang semakin dalam, dan aku semakin tenggelam.

Mungkin seperti filsafat, semakin dipikirkan semakin absurd jadinya. Semakin kita tahu, semakin kita merasa bodoh. Begitu juga aku. Semakin aku mengenal diriku, semakin aku merasa asing terhadap diri sendiri.

Dalam salah satu malam seperti ini, aku teringat pada buku Dunia Sophie. Di sana ada kalimat yang menancap dalam kepalaku:

“Dari mana datangnya dunia?”

Aku bertanya-tanya, apakah maksudnya tentang asal mula dunia secara harfiah, atau justru tentang dunia yang ada di dalam diri setiap manusia? Mungkin maksudnya adalah:

“Dari mana datangnya duniaku?”

Dunia yang kumiliki, apakah lahir dari diriku sendiri, atau justru tercipta dari orang lain—dari cinta, dari kepercayaan, dari luka?

Aku mulai berpikir, dunia sebenarnya ada ketika kita hidup tanpa paksaan, ketika kita menjalani semuanya tanpa batasan. Hidup bukan tentang siapa yang kita ikuti, tapi bagaimana kita menciptakan langkah kita sendiri.

Lalu aku tertawa kecil. Betapa sederhananya kalimat itu, tapi betapa sulit menjalaninya. Karena dunia nyata tidak seindah teori. Di dunia nyata, orang harus berjuang, bekerja, bertahan.

Tapi malam ini, meski semua terasa kabur, aku sedikit mengerti sesuatu: mungkin aku tidak perlu tahu siapa aku sepenuhnya. Mungkin yang penting hanyalah, aku masih terus mencari.

Keyboard-ku berhenti berbunyi. Di layar, kalimat terakhir menggantung tanpa titik. Aku menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya, aku merasa tenang dalam ketidakpastian.

Mungkin, malam ini, aku tidak menemukan siapa diriku. Tapi aku menemukan keberanian untuk terus bertanya. Dan itu, mungkin, sudah cukup.

Like 0
Dislike 0
Shares: