sesaat rindu menganga
tapi masa lalu telanjur purba.
dan “kenangan” barangkali
sebatas kata yang sia-sia.
1.
arthur, kau kenali ia
sebagai yang agung
di suatu
petang yang murung
datang ia padaku.
kuda yang ia tunggangi
seperti mengerti:
aroma maut
sudah tak jauh lagi.
hunjaman pedang
berserak
di seutuh tubuhnya
dan mordred
barangkali ia yang sengaja
memaksa arthur ke camelot
sekadar untuk
menyiapkan sendiri
kematiannya.
2.
bagai gadis kecil yang mengerti:
tak akan lagi ada
yang ia miliki
selain kesedihan di bumi
aku mengiris air mata
seperti berhenti
percaya terhadap cinta.
di pelukanku, lance
di pelukanku:
ia seolah
ingin menghindar
dari perang
melupakan kalah menang
dan menghapus
kerja ‘maut’ dari dunia.
“cinta, barangkali
satu-satunya, seperti tuhan:
yang bisa menolak
kefanaan.”
3.
suatu malam
hujan menculik suara tangis
menyihirnya
jadi semacam gemuruh.
tapi tak siapa pun
menduga itu
ialah tangisan
tak siapa pun, lance.
di ranjang:
tempat kedukaan merebah
tak lagi tinggal
di pelukanku ia
tak lagi.
mungkin beranjak
dari pangkuanku
ke pangkuan yang kudus.
seketika aku sempurna
terpencil dalam derita
yang tak seorang pun sanggup
memahaminya.
4.
petang itu, lance
di atas pelana kuda
tak lagi ada tali kekang
yang bisa kuentakkan.
dan galehaut
kastel yang kau serukan
sebatas tujuan
yang hanya berhasil
dicapai
oleh kemustahilan.
sebab di pekat hutan
sepasukan prajurit
dengan kilat pedang
di lajur kiri dan kanan
mengadang:
menangkap
dan memulangkanku
ke camelot, sebuah tempat
sebuah penjara
yang disesaki kebencian.
5.
di penjara, ingatan
kembali serupa bara:
menyala-nyala di kepala
dan tak selaut air
akan sanggup
memadamkannya.
tiba-tiba
aku di alun-alun istana
terikat di tiang pancang:
memusati kayu bakar
yang ditumpuk melingkar
menyambut detik
penghukumanku digelar.
dan menyaksikan ajal
seperti ancaman
yang terlambat
dilesatkan;
sesaat kau terjang
barikade prajurit
dan kau sarungkan
runcing pedang
ke jantung pasukan.
6.
denting peperangan
makin terdengar
semerdu siul maut
di peristilium, lance.
sejak kau renggut
lemas tubuhku
dari tiang pancang
dan kau larikan aku
ke sunyi ruang:
yang jauh
dari jangkau lengan
kematian.
sejak kudengar
di tepi selat tak bernama
jerit-sekarat prajurit
serupa meriam
yang tak reda ditembakkan
dan tak ada opsir
di kemah pasukan arthur
yang tak terjilat
oleh lidah kematian.
7.
malam telah
membatukan abjad
dan nafsu
menjelma barbiturat
ketika mordred
mendekonstruksi plot
dan teater, lance
sekejap berhenti pada kejut
yang tak tamat.
“keparat!!!”
seperti berpupil elang
ia sontak
menujahkan pedang
ke kosong udara
setelah
pintu kamar terbuka
dan punggungmu blur
mengasing
ke luar jendela:
menghardik ajal
yang tak becus bekerja.
8.
dan punggungmu blur
mengasing
ke luar jendela:
tak menggubris
batas kini dan sebuah luka
esok lusa
sebuah luka, esok lusa:
akankah mengering
sebelum abad
sempurna siuman
dari koma?
kemudian vonis
dalam cerita, dan api
gagal menjilat.
epilog, lance, bagi kita
adalah biara
kecup yang dibatalkan
air mata.
2021 – 2024