Sastra

Menulis Pagi: Kretek, Jiwa, dan Ketakterjangkauan

Syair-syair yang ku tulis tak bisa mengganti peran kretek
yang tak kalah penting seperti menulis Semesta.
Sebuah proses mengantarkan pada sebuah cerita kepulan asap yang terkumpul disuatu ruang adalah imaji.

Mungkin, menulis pagi adalah judul paling syahdu untuk memulai sebuah tulisan ini dengan atau tanpa persiapan.
Karena pagi identik dengan awal dan malam identik dengan akhir.
Klise namun kenyataannya seperti itu.

Yang perlu manusia ketahui adalah: bahwa cinta itu tanpa tapi-
bahwa cinta itu sendiri adalah ketidaktahuan mengapa kau mencintainya-
bahwa hakikat cinta adalah mencintai dengan jiwa: hati bisa berubah, pikiran bisa melupa.
Tapi tidak dengan jiwa.
Jiwa adalah komponen paling syahdu untuk mencintai seseorang yang kau cintai.

Cinta membuat kita bahagia, cinta pula yang membuat kita terluka.
Manusia yang berada pada fase mencintai harus menerima resikonya.
Mawar yang cantik, hidup dengan batang yang penuh duri
dan tiap detik adalah waktu untuk menerima penolakan.

Satu hal lagi, menghilang adalah salah satu cara manusia dewasa
yang membunuh egonya demi orang yang kita cintai.
Karena kita tahu bahwa ia tak bisa kendalikan karena kita tahu bahwa ia tak bisa dimiliki.

Like 0
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *