Hai Jassia

Aku dari tanah suci Mekkah pada jam 5.30 pagi duduk termangu di dalam bisku

Aku duduk di tengah pada barisan paling belakang hadapanku adalah lorong jalan dari depan sampai belakang gelapnya di sini sepanjang jalan dari Mekkah ke Jeddah

Entah ku harus rayakan kesepian dalam gelap ini atau aku atur sebrengsek mungkin agar sepinya bisa ramai seperti biasa

Walaupun, Jassia, seperti biasanya sepinya memang sepi sekali

Pagi dingin menyambut, nafas panjangku menghela, aroma akan kefanaan itu semakin dekat Jassia

Aku hanya menunggu waktu kapan kita bisa saling jumpa, kapan kita bisa saling bercengkrama merapat jadi 1 bagian kehidupan, memuja elegi ketika kau kehilangan bagian hidup yang bisa aku rasakan pula

ohh Jassia…

Mengertilah akulah kapal ampasan badai tengah laut yang terpinggirkan kearahmu untuk berlabuh

Mungkin bisa saja aku menaruh hatiku untuk berjabat hati dengan wanita yang lain, tapi tidak kali ini

Aku melawan semua kehendak tuhan hanya untuk bersamamu

Ku hempas semua aturannya hanya untuk menjadikanmu satu satunya alasan untukku tetap hidup

Aku menjadikanmu alasanku untuk tetap melakukan sholatku

Aku menjadikanmu alasanku untuk tetap menatap sajadahku, dan aku menjadikanmu alasan ibadahku lebih jauh lagi

Ya ya ya ya, Jassia

Kala mungkin sebuah kalimat terucap dari bibirmu, kalimat yang menyakitkan bakarlah aku sepuas hatimu

Pa bila engkau laksana api unggun biarkan aku menjadi kayu, hanya untuk menyatu denganmu walaupun akhirnya aku yang menjadi abu

Like 0
Dislike 0
Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *